Panggilan?

Apa yang kita pikirkan ketika membaca kata “panggilan“? Nama? Telepon? Atau yang lainnya? Apa makna panggilan menurut Anda? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata panggilan memiliki beberapa arti, antara lain :

panggilan / pang·gil·an /  1 imbauan; ajakan; undangan: azan merupakan ~ bagi kaum muslimin untuk melakukan salat2 hal (perbuatan, cara) memanggil; 3 (orang) yang dipanggil untuk bekerja dan sebagainya: montir ~; 4 sebutan nama: ~ sehari-harinya Gepeng;~ hati panggilan jiwa; ~ hidup kecenderungan hati untuk melakukan suatu pekerjaan dan sebagainya; ~ jiwa panggilan hidup;

Kali ini aku hanya ingin membagikan pengalamanku terkait dengan makna kata panggilan pada poin ke-3 yaitu “panggilan adalah (orang) yang dipanggil untuk bekerja dan sebagainya” dan poin ke-4 yaitu “panggilan adalah sebutan nama: panggilan hidup kecenderungan hati untuk melakukan suatu pekerjaan dan sebagainya”. Entah bagaimana caranya semesta bekerja, sehingga aku menerima panggilan (telepon) dari seorang senior (sebut saja Si Abang) yang sudah lama sekali aku tidak berkomunikasi dengannya. Pernah bertemu di awal tahun 2018, namun tidak ada perbincangan yang mendalam. Si Abang sebenarnya ingin berbicara langsung melalui telepon, sayangnya telephobia sedang menjangkiti tubuh ini, sehingga panggilan (telepon) itu pindah haluan ke WhatsApp Messanger.

Setelah bertegur sapa dan menanyakan kabar, obrolan kami beralih ke hal yang serius. Si Abang menawarkan pekerjaan yang sifatnya sementara (bukan permanen), untuk menjaga “barangnya mereka”, di sebuah event yang dilaksanakan kurang lebih dalam waktu dua minggu, di tiga tempat yang berbeda. Aku sempat bergumul, karena di antara pilihan tanggal yang ditawarkan semuanya bentrok dengan rencanaku pulang ke Jakarta, di mana aku ingin menghadiri undangan pernikahan Adik Kelompok Kecil (AKK) ku.

digiOH lagi butuh bantuan dari 5 orang :

  • 4 orang tenaga part time (kerja senin-minggu, rata2 6jam) jaga di mall
  • 1 orang tenaga full time (kerja senin-jumat, 8jam)

untuk deskripsi kerjaan :

  • standby dan menjaga di unit TV digiframe
  • memastikan nyala dan mati unit TV selama acara
  • menangani masalah konten bila ada info dari klien

Setelah berdiskusi, bertanya tentang detil tugas yang harus diemban dan diberikan saran untuk mengambil tugas sebagai 1 orang tenaga full time (kerja Senin-Jumat, 8 jam), supaya aku tetap bisa memenuhi undangan pernikahan AKK-ku, walaupun harus bayar harga pulang-pergi Bandung-Jakarta-Bandung, akhirnya aku memutuskan untuk menerima panggilan ini. Walaupun sudah mengambil keputusan, aku tetap masih punya kekuatiran, ragu-ragu, apakah aku bisa menjalani tugas ini dengan baik atau tidak? Trouble paling parah yang pernah terjadi itu apa dan bagaimana menanganinya? Dan masih banyak pertanyaan lain, sampai aku minta diklat singkat sebelum hari H, hahaha.

This slideshow requires JavaScript.

Senin, 1 Oktober 2018

Berdasarkan hasil briefing Minggu, 30 September 2018, dari klien minta TVnya nyala dari jam 07.00 – 17.00. Jadi setiap pagi (1 – 15 Oktober 2018), aku harus sudah sampai di tempat sebelum jam 07.00 dan pulang setelah jam 17.00. Sebenarnya TV bisa di-timer, untuk nyala dan mati secara otomatis. Tapi, entah mengapa, deskripsi kerja yang diberikan kepadaku membuatku berpikir, lebih baik aku standby di tempat dari jam 07.00 – 17.00.

Di hari pertama ini, CEO digiOH menyemangati kami dalam mengerjakan tugas ini, beliau berkata demikian :

“Semoga pelayanan kita berjalan dengan baik hingga selesai.”

Entah kenapa kata “pelayanan kita” di sana seolah ingin menyampaikan 2 hal kepadaku, yaitu :

  1. Pekerjaan yang dilakukan secara harafiah memang melayani klien dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan klien.
  2. Pekerjaan yang dilakukan bisa juga untuk melayani Tuhan, melalui klien. Jadi lakukanlah segala sesuatunya untuk Tuhan, bukan (hanya) untuk manusia. Pasti perspektifnya jadi beda 😉

Awalnya membosankan, karena sebenarnya tidak terlalu banyak trouble dan klien juga hanya di hari-hari pertama masih meminta beberapa perubahan konten. Tapi, aku tetap memilih untuk standby di tempat sesuai jam operasional kantor. Dan terus mengingat kata-kata motivasi dari CEO digiOH.

Di event yang sama, ada beberapa Sales Promotion Girl (SPG) dan Sales Promotion Boy (SPB) yang bekerja untuk memperkenalkan layanan mobile banking ke nasabah. Aku berkenalan dengan salah seorang SPG dan di waktu-waktu senggang kami sempat berbicara, menanyakan tugas dan latar belakang masing-masing. Hari demi hari berlalu, aku memperhatikannya dan pekerjaan yang dilakukannya, demikian sebaliknya.

This slideshow requires JavaScript.

Selasa, 9 Oktober 2018

Apa yang kualami di hari ini mungkin tidak akan kulupakan sebagai bagian yang paling mengesankan dari pekerjaan yang kujalani ini. Saat itu, sebelum jam istirahat, salah satu Mbak SPG yang kenalan sama aku itu berkata demikian :

“Ih, teteh ga bosen? Nungguin itu wae.
Kalo aku mah ga mau da suruh kerja beginian.”

Aku bingung sih, mau jawab apa, hahaha. Karena sebenernya dia ga tau gimana ceritanya sampai aku menjawab “iya”, apa yang kujalani sebelum datang panggilan ini, seberapa banyak “harga yang harus kubayar”, serta “komitmen” yang harus kuselesaikan sampai akhir untuk pekerjaan ini. Saat itu, aku hanya diam dan tersenyum kepadanya. Namun, sebenarnya di dalam hati ini ingin berkata :

Mbak, kalau semua orang jadi SPG, siapa yang jadi teknisi?
Kalo semua orang jadi teknisi, siapa yang jadi SPG?

Dan tiba-tiba inget kata-katanya Paulus : “Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.

Kalo disuruh tuker tempat sama Mbaknya juga saya sebenernya ga mau kok, karena saya ga betah seharian pake make up dan pake sepatu berhak, hehe. Kita punya panggilan masing-masing. Mbak dipanggil untuk bertugas menjadi SPG. Saya dipanggil untuk bertugas menjadi teknisi. Dengan tugas ini, saya senang menjalankannya, walaupun sempat membosankan di awal, pada akhirnya pelan-pelan saya bisa menyesuaikan diri dan menikmatinya. Saya senang ketika harus bangun lebih pagi dari Mbaknya untuk menyalakan TV dan pulang lebih sore dari Mbaknya untuk mematikan TV. Saya senang ketika TV bisa beroperasi dengan baik tanpa ada masalah. Mbaknya seneng ga jadi SPG? Perasaan setiap kita ngobrol Mbaknya ngeluh melulu, hehehe.

Dan tiba-tiba inget lagi kata-kata di buku Courage and Calling : “Tempat di mana Allah memanggil Anda adalah tempat di mana sukacita terdalam Anda dengan kelaparan terbesar dunia bertemu.” ➖ Frederick Buechner

This slideshow requires JavaScript.

Senin, 15 Oktober 2018

Saking menikmatinya, ketika aku sampai di hari terakhir bertugas, aku merasa sedih. Terlebih ketika harus berpamitan dengan satpam, office boy, bahkan pihak vendor yang sama-sama mengerjakan tugas ini. Dua kata yang membuat aku sedih di perpisahan ini adalah “terima kasih” dan “maaf”. Entah mereka berterima kasih untuk apa, karena aku merasa hanya melakukan tugasku sesuai dengan apa yang memang ditugaskan kepadaku, tidak ada hal besar yang kulakukan sehingga berdampak bagi orang banyak. Dan entah mereka juga meminta maaf untuk apa, seolah mereka sudah melakukan kesalahan besar yang memang seharusnya meminta maaf.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Aku, Setengah Isi atau Setengah Kosong?

Pagi ini, aku melangkahkan kakiku menuju gedung perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, aku mengalami kebingungan dalam memilih buku apa yang akan aku baca, yang kemudian aku gunakan untuk berlatih menulis “ikatan makna”nya. Setelah berkeliling, akhirnya aku memilih buku “Setengah Isi, Setengah Kosong”, karya Bapak Parlindungan Marpaung. Buku ini berisi tentang motivasi dengan ilustrasi yang mungkin pernah atau sering ditemui di kehidupan nyata. Buku ini terdiri dari lima bagian, yaitu Kasih Sayang, Komunikasi, Motivasi, Profesionalitas dan Sikap Hidup, dan di setiap bagian memiliki banyak kisah (semacam buku Chicken Soup). Berikut, aku tuliskan “ikatan makna” dari buku ini dan aku hanya menuliskan salah satu kisah dari setiap bagian.

sumber gambar

I. Kasih Sayang: “Berbagi
Sepasang suami istri yang sudah lanjut usia sedang makan sop buntut kesukaannya. Tapi ada satu kejanggalan yang terjadi, mereka hanya memesan satu porsi sop buntut lengkap dengan nasinya dan segelas es teh manis, ditambah dengan satu piring kosong dan sendok. Sang suami membagi setengah porsinya kepada sang istri kemudian memakan bagiannya. Namun, sang istri tidak langsung memakan bagiannya. Dia asyik memandangi kekasihnya sambil tersenyum. Seorang anak muda yang melihat tingkah polah yang cukup aneh dari pasangan ini merasa iba karena berpikir mereka tidak mampu memesan sop buntut lebih dari satu porsi. Kemudian anak muda ini menawarkan kepada sang ibu untuk dipesankan satu porsi lagi. Tetapi sang ibu menolaknya dengan bahasa isyarat. Anak muda ini penasaran dan akhirnya dia bertanya kepada sang ibu kenapa dia menolak tawarannya. Jawaban mencengangkan keluar dari bibir sang ibu. Ternyata sang ibu sedang mempraktekan bagaimana berbagi dengan ketulusan hati, termasuk berbagi gigi palsu yang sedang digunakan sang suami untuk makan.

Dari kisah di atas, terjadi perbedaan cara pandang dari satu fenomena yang sama. Pasangan suami istri yang sudah lanjut usia memiliki cara pandang tentang “berbagi dengan ketulusan hati”, sedangkan sang anak muda memiliki cara pandang tentang “kasihan sekali orang tua ini hanya sanggup membeli satu porsi sop buntut untuk dimakan berdua”.

Berbagi dengan ketulusan hati tidak hanya membawa perubahan yang drastis bagi sang pemberi, tetapi bagi sang pemberi dan penerima, serta komunitas yang ada di sekitarnya. Aku berpikir, mungkin berbagi dengan ketulusan hati melalui tulisan-tulisan juga bisa membawa dampak bahkan perubahan yang drastis bagi orang lain.

II. Komunikasi: “Hati yang Menyapa
Saat membaca bagian ini, aku langsung teringat pada apa yang pernah kutuliskan tentang komunikasi. Ketika itu, aku sedang merenungkan beberapa hubungan yang kujalani: hubungan dengan Sang Pencipta (hubungan spiritual) dan hubungan dengan sesama. Dari perenungan yang kujalani, aku menyimpulkan bahwa dasar dari sebuah hubungan adalah komunikasi. Hubungan apapun: dengan Sang Pencipta, keluarga, kekasih / pasangan, teman / sahabat, rekan kerja dan lain sebagainya. Ketika terjadi konflik dalam sebuah hubungan, jika komunikasi yang terjadi di antara hubungan itu baik, maka konflik yang terjadi dapat diselesaikan dengan mudah.

Melalui bagian ini, pemahamanku dan cara pandangku tentang komunikasi bertambah. Pak Parlindungan menuliskan bahwa komunikasi merupakan kata kunci dan tindakan penting dalam membentuk, memelihara dan meningkatkan kualitas hubungan antar manusia. Komunikasi merupakan upaya, keterampilan, pengorbanan, serta dorongan kejernihan hati untuk mau membuka percakapan dan mendengarkan orang lain dengan lebih seksama.

III. Motivasi: “Setengah Isi, Setengah Kosong
Saat jam kantor menunjukkan pukul 15.45, akan ada dua pandangan yang terjadi pada karyawan-karyawan sebuah perusahaan. Pertama, ada yang memandang 15 menit terakhir jam kerja sebagai waktu yang tanggung untuk menyelesaikan pekerjaan hari itu. Kedua, ada yang memandang 15 menit terakhir jam kerja sebagai waktu yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan hari ini, karena besok akan ada pekerjaan yang harus diselesaikan. John Wesley berkata, “Lakukanlah yang terbaik yang bisa Anda lakukan, dengan segenap kemampuan, dengan cara apa pun, di mana pun, kapan pun, kepada siapa pun, sampai Anda sudah tidak mampu lagi melakukannya.”

“Setengah Isi, Setengah Kosong” merupakan perbedaan cara pandang. Ketika sebuah gelas diisikan air sampai batas setengah bagian gelas, akan ada dua cara pandang yang berbeda ketika melihatnya. Pertama, ada yang berpandangan bahwa gelas tersebut berisi setengah penuh air. Kedua, ada yang berpandangan bahwa gelas tersebut setengah kosong. Cara pandang “Setengah Isi” merupakan cara pandang yang positif (positive thinking), sedangkan cara pandang “Setengah Kosong” merupakan cara pandang yang negatif (negative thinking).

IV. Profesionalitas: “Gara-gara Lumpia
Pak Su’eb adalah seorang general manager sebuah hotel di Semarang dan Pak Badrun adalah pelanggan setianya. Pak Badrun menjadi pelanggan setia hotel ini sejak saat pertama kali dia menginap di hotel ini Pak Su’eb menyajikan lumpia Semarang yang sangat disukainya. Setiap kali Pak Badrun didelegasikan untuk bertugas ke Semarang, dia pasti menginap di hotel ini dan dengan sigap Pak Su’eb selalu menyediakan lumpia kesukaan Pak Badrun. Seiring berjalannya waktu, tarif hotel naik menjadi agak mahal. Namun, hal ini tidak menghalangi Pak Badrun untuk menginap di hotel ini, sekalipun dia harus merogoh koceknya lebih dalam guna menutupi kekurangan biaya akomodasi yang diberikan perusahaannya. Rekan kerjanya heran mengapa Pak Badrun senang sekali menginap di hotel ini dan dengan santai Pak Badrun menjawab “Lumpianya enak!”

Melayani dengan profesionalitas yang dilakukan oleh Pak Su’eb sebagai seorang general manager hotel membuat Pak Badrun selalu ingin kembali ke hotelnya. Melalui kisah ini, Pak Parlindungan menyampaikan bahwa melayani dengan tulus dapat dimulai dari keseriusan menekuni dan menjalani profesi, tugas, maupun pekerjaan yang diamanahkan saat ini dengan meletakkan kepentingan orang lain lebih utama dari kepentingan diri sendiri.

Martin Luther berkata, “Jika seseorang terpanggil menjadi tukang sapu jalan, hendaklah ia menyapu sebagaimana Michael Angelo melukis atau Beethoven menciptakan musik atau Shakespare menulis puisi. Hendaknya ia menyapu jalan dengan sangat baik sehingga segenap isi surga dan bumi serentak menghentikan kegiatan mereka dan berkata, di sini tinggal seorang penyapu jalan yang agung yang menjalani tugasnya dengan sangat baik.”. Saat membaca bagian ini aku berimajinasi “Berarti hal ini juga berlaku saat aku terpanggil mengikuti pelatihan menulis ini. Aku harus berlatih menulis, mana tahu suatu saat nanti segenap isi surga dan bumi serentak menghentikan kegiatan mereka dan berkata, di sini tinggal seorang penulis yang agung yang menjalankan tugasnya dengan sangat baik, hahaha.”.

V. Sikap Hidup: “Ujian Hidup
Untuk mendapatkan perak dengan kualitas terbaik, seorang perajin perak harus melakukan pemurnian sebanyak tujuh kali. Keletihan tidak hanya dirasakan oleh sang perajin, tapi mungkin dirasakan juga oleh perak itu sendiri. Ia harus mengalami proses pemurnian di perapian yang sangat panas dan menyakitkan dirinya. Yang lebih parah adalah pemurnian ini dilakukan sebanyak tujuh kali.

Begitu juga dengan menulis. Kegiatan menulis bisa dilakukan oleh siapa saja. Namun, untuk menghasilkan sebuah atau banyak tulisan yang bagus, diperlukan latihan berulang-ulang. Tidak cukup berlatih satu kali atau tujuh kali seperti proses pemurnian perak. Latihan menulis perlu dilakukan berkali-kali dan diuji apakah sudah menghasilkan tulisan yang bagus atau belum, kalau belum latihan dan uji kembali. Memang ada harga yang harus dibayar dan komitmen yang harus dipenuhi ketika kita berani untuk menekuni suatu bidang tertentu.

Socrates berkata, “Hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi (unexamined life is not worth living). Hanya ada satu tempat di dunia ini di mana manusia terbebas dari segala ujian hidup, yakni kuburan. Berarti, tanda bahwa manusia tersebut masih hidup adalah ketika dia mengalami ujian, kegagalan, dan penderitaan. Lebih baik kita tahu mengapa kita gagal daripada tidak tahu mengapa kita berhasil.”.

Selamat berlatih memiliki cara pandang “Setengah Isi” dan semangat berlatih menulis! 🙂

Makhluk Sosial [bagian 4]

Perbincangan yang tidak disengaja terjadi di antara aku, Rista dan Dedeph tadi malam di Kedai Soe-Soe. Sambil menikmati susu murni dalam porsi “Gelas Gajah” (aku dan Rista, Dedeph cuma gelas medium, diet kayanya, hahaha 😛), kami berbincang tentang pasangan hidup dari masing-masing makhluk sosial ini. Entah berawal dari mana perbincangan ini, kamipun bingung kenapa tiba-tiba, “mak bendundukkalo orang Jawa bilang, jadi membahas hal ini. Hhmm, sepertinya berawal dari sharing buku yang diceritakan Dedeph. Buku “When God Writes Your Love Story” karya sepasang suami istri, Eric dan Leslie Ludy. Ini salah satu buku yang ‘ku rekomendasikan bagi para makhluk di muka bumi ini yang memang menyadari dirinya sebagai makhluk sosial dan tidak bisa hidup seorang diri. Buku yang ‘ku rekomendasikan bagi para makhluk di muka bumi ini yang sedang mempersiapkan diri dan menanti titik puncak dari rangkaian cerita cinta atau kisah kasih yang sudah atau sedang dituliskan oleh Sang Penulis Skenario Kehidupan.

Bersyukur untuk peristiwa “perbincangan yang tidak disengaja terjadi” tadi malam. Setiap kami saling berbagi, menguatkan, memberi masukan tentang bagaimana memilih, menanti dan berdoa “mengajukan proposal kriteria” pasangan hidup kami nanti. Aku percaya bukan suatu kebetulan tiba-tiba kami membahas hal ini. Karena memang sudah saatnya bagi kami mempersiapkan diri dan menjaga hati untuk hadirnya sang pria sejati yang juga sedang mempersiapkan dirinya di sana. Perbincangan tentang masa persiapan dan penantian ini tidak terbatas hanya malam minggu saja dan akhirnya membuat para peserta perbincangan di dalamnya menjadi galau, hahaha. Ini topik yang selalu hangat dibicarakan di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Sekali lagi diingatkan tentang “Memang tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja..”, “Memang tidak baik kalau makhluk yang terlalu sosial itu seorang diri saja..”. Sampai kapanpun aku butuh orang lain, selain itu aku juga butuh komunitas, terutama komunitas Kristen yang bisa mengingatkanku untuk tetap berada di relNya Tuhan. Tak hanya saat aku masih “tunggal putri”, aku juga akan tetap membutuhkan komunitas saat aku mulai menjalani hubungan “ganda campuran”, menikah, dan sampai selamalamalamanya. 😀

Tonight I saw a shooting star
Made me wonder where you are
For years I have been dreaming of you
And I wonder if you’re thinking of me too
In this world of cheap romance
And love that only fades after the dance
They say that I’m a fool to wait for something more
How can I really love someone I’ve never seen before
I have longed for true love every day that I have lived
And I know real love is all about learning how to give
I pray that God will bring you to me
I pray you’ll find me waiting faithfully

CHORUS:
Faithfully, I am yours
From now until forever
Faithfully, I will write
Write you a love song with my life
‘Cause this kind of love’s worth waiting for
No matter how long it takes I am yours

Tonight I saw two lovers kiss
Reminded me of my own lonliness
They say that I’m a fool to keep on praying for you
How’s can I give up pleasure for a dream that won’t come true
But I will keep believing that God still has a plan
And though I cannot see you now, I know that He can
And someday I will give you all of me
Until I find you, I’ll be waiting faïthfully….

“ada harga mahal yang harus dibayar dalam sebuah penantian, tapi kalau bisa bertahan hingga waktunya tiba, rasanya bakal indah banget…”

 “ga ada yang sia-sia ketika kita menanti tetap berharap hal yang baik & menjaganya tetap hidup dalam kebenaran Firman Tuhan.” ~Mama Dedeph

#Heart In Waiting#

– Makhluk yang terlalu Sosial –

Makhluk Sosial [bagian 3]

Hari Pertama di Bulan Kesembilan dalam Tahun Dua Ribu Dua Belas
Sebelumnya, aku ga tau harus senang atau sedih ketika membuka lembaran kalender, berpindah dari Agustus ke September. Baiklah, memang itu kenyataan hidup yang harus dilalui, aku mencoba mengalihkan perhatianku kepada hari pertama di bulan kesembilan dalam tahun dua ribu dua belas ini. Hari di mana aku dan Rene menantikannya. Menantikan untuk memulai sesuatu yang baru secara bersama-sama. Kami memutuskan untuk membangun sebuah Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) berdua dan belajar menjadi seorang wanita yang bertekun dalam doa (serta menjadi hari yang baik untukku memperbaiki jam doaku). Kesepakatan kami untuk pertemuan yang pertama adalah 1 September 2012, di kosan Rene. Jadi, hari ini ‘ku isi dengan berpetualang ke Jatinangor. Ini adalah kali ketiga aku mengunjungi Jatinangor, tapi kali pertama untuk sampai di sana menggunakan transportasi umum. Jalan kaki, angkot, DAMRI jadi kameo yang baik dalam salah satu adegan film kehidupan yang sudah diskenariokan oleh Sang Sutradara Handal. 🙂

Sampe di kosan Rene, kami ga langsung PA (Pendalaman/Penggalian Alkitab ngebahas buku Becoming A Woman of Prayer-BAWOP), kami ngobrol-ngobrol dulu, hahaha. Setelah merasa cukup ngobrol-ngobrolnya, baru kami mulai PA-nya. “Selalu ada Kebenaran Baru yang didapat saat menggali Buku Kuno” | “Buku Kuno yang Kebenarannya selalu Baru”. Kami terpesona, ketika pengenalan kami akan Alah bertambah. Bab Pertama dari buku BAWOP ini, membahas tentang undangan menuju keintiman. Melalui buku ini kami dibukakan bahwa untuk komunikasi yang terjadi antara Allah dengan anak-anakNya, inisiatif yang pertama datang dari Allah. Allah memberikan undangan secara cuma-cuma kepada anak-anakNya untuk memiliki hubungan yang baik denganNya. Secara pribadi, aku merasa selama ini, ketika berdoa-menyampikan sesuatu kepadaNya, itu adalah komunikasi satu arah yang [seolah-olah] berasal dari ‘ku saja, sementara Dia menyampaikan sesuatu melalui FirmanNya [saat teduh, PA pribadi atau bible reading misalnya]. Tapi, ternyata tidak. Tentang hal berdoa, sudah lebih dulu Dia menyiapkan undangan untuk bisa berbicara dan terlibat dalam kehidupan anak-anakNya, sehingga dibutuhkan respon yang baik dari anak-anakNya akan undangan tersebut untuk menciptakan komunikasi yang baik dan hubungan yang intim denganNya.

 

Hari Kedua di Bulan Kesembilan dalam Tahun Dua Ribu Dua Belas
Hari ini, ceritanya beda lagi. Kebersamaanku dengan Rene tak berakhir sampai di hari kemarin. Kami bertemu kembali di ibadah sore. Sore itu kami ibadah di GKI Maulana Yusuf, jam 4. Ohya, ada cerita seru sebelum aku berangkat ke gereja. Saat itu, jam 3 aku berangkat dari kosan. Tapi, begitu keluar kosan, jalanan SKB depan kosan macet parah, yang seharusnya dua arah, sore itu mendadak dipenuhi kendaraan dari satu arah saja. Aku meneruskan perjalananku dan melewati gang Demang. Setelah keluar dari gang Demang, hal yang sama terjadi di jalan Bojong Soang. Macet! Akhirnya, aku memutuskan sedikit berjalan kaki untuk mempercepat langkah, mengejar angkot yang sudah berada agak di depan. Di dalam angkot aku sms-an sama Bram, nanya ke dia gereja dimana? jam berapa? ternyata Bram gereja di GKI jam 4 juga bareng Evan, tapi Evan langsung ketemu di gereja rencananya. Singkat cerita, aku dan Bram sampai di gereja agak terlambat (agak malu sih sebenarnya -_- hehe). Sementara itu, Evan belum muncul. Dan ternyata dia ga jadi gereja karena datengnya udah telat banget katanya.

Setelah ibadah selesai, kisah antara aku dan Rene berakhir di situ. Tapi tidak dengan kisah antara aku dan Bram (serta Evan). Aku pulang bareng Bram, tapi mampir dulu ke Gramed, nyamperin Evan. Di Gramed, sesuai dengan perbincangan yang pernah terjadi antara aku dan Bram, kami sama-sama penasaran dengan akhir cerita dari film “Perahu Kertas” yang sudah kami tonton (di waktu dan tempat yang berbeda). Dan malam itu kami memutuskan untuk membeli novelnya. Patungan! hahaha. Menyelesaikan novel ini seperti proyek bersama setelah ‘ku pikir-pikir, hehehe.

 

Sampai di kosan, aku begitu menyukuri akhir pekan yang bisa ‘ku jalani bersama orang-orang yang ada di sekitarku. Aku juga bersyukur untuk setiap peringatan yang Tuhan berikan kepadaku untuk kembali memiliki hubungan yang baik dan intim denganNya. “Recovery“, satu kata yang bisa mewakili semua yang Tuhan sampaikan di weekend kali ini. Malam itu aku berdoa dan teringat akan lagu yang aku dan Rene nyanyikan saat kami hendak mengakhiri PA kami kemarin malam.

Hatiku bergetar dan bibirku gemetar saat menyampaikan rasa syukurku kepadaNya. Dia benar-benar mengasihiku. Dia menyediakan hari depan yang indah karena rancanganNya adalah rancangan yang terbaik bagiku. Dan tanpa ‘kusadari, pipiku sudah basah, basah karena titik-titik air yang keluar dari indera pengelihatan ini. Terima kasih untuk weekend seru kali ini. Terima kasih juga untuk setiap aktor dan aktris serta kameo yang terlibat dalam adegan weekend seru kali ini. Karena tak selamanya weekend seru itu dengan menghabiskan banyak uang atau pergi ke suatu tempat yang indah. Yang paling penting untuk menciptakan weekend seru adalah menikmati quality time yang dengan siapa kita menjalani weekend itu.

‘”..emang kaga bae kalo manusie sorangan wae..”
karena butuh teman untuk berbagi beban
karena butuh teman untuk belajar mendengarkan dan didengarkan
karena butuh teman untuk saling mengingatkan
karena butuh teman yang bisa diajak patungan
karena butuh teman yang bisa ditumpangi boncengan motornya
dan karena [terkadang] butuh teman yang bisa menraktir makan malam
😀

“..I’m so thankful for our togetherness..all of you..”
“..there are no word good enough to Thank You..”

-makhluk yang terlalu sosial-

in Relationship (part 3)

“Masa menjalin hubungan (berpacaran) adalah masa perkenalan satu sama lain, di mana hubungan ini akan mencapai klimaksnya dalam peneguhan hubungan yaitu pernikahan.” Itulah pemahaman yang selama ini kupegang (mungkin pemahaman kita berbeda atau Anda kurang setuju dengan pemahaman ini, tidak apa-apa :D).

Saat mengevaluasi diri sambil sejenak berkaca pada kaca spion kehidupan, ternyata saat aku menjalani sebuah hubungan “Lebih Dari Teman Biasa, Tapi Belum Jadi Kekasih” (Bab 5-Boy Meets Girl), aku banyak berpikir dan bertanya-tanya tentang hubungan yang sedang kujalani (saat itu). “Gimana hubungan gue sama dia? Kalo dia masuk ke keluarga gue, bisa nyambung ga ya? (membayangkan sebuah suasana acara keluarga besar) Cocok ga dia sama bokap-nyokap-abang gue? Apa bisa dia nerima kelebihan-kekurangan keluarga gue? Dan, gimana jadinya kalo dia jadi bapak dari anak-anak gue? (berarti pemikiranku saat itu sudah sampai ke pernikahan) dst. (dan sebaliknya, aku mencoba untuk memposisikan diri ketika aku masuk ke dalam dan/atau menjadi bagian dari keluarganya)” Selama ini, semua pertanyaan itu belum terjawab. Sehingga aku menyimpulkan bahwa sebenarnya aku belum siap berpacaran, karena aku belum siap untuk menjalani (dan belum memikirkan tentang) pernikahan. Pada akhirnya, aku memilih untuk melebarkan sayap pertemanan (karena kalau berteman tidak akan ada yang ditutupi, siapa aslinya kita akan terlihat) dengan orang-orang yang ada di sekelilingku. Selain itu, karena belum dapet Surat Izin Mulai Berpacaran (SIM B :P) dari orang tua (sekolah dulu ceunah, haha).

Sedikit intermezo: Tak salah kalau dikatakan bahwa untuk zodiak Scorpio (ini kebetulan pas aja dengan pengalaman 😛 jangan dipercaya terlalu lebay,hehe): “Anda termasuk orang yang konservatif dalam hal asmara, sehingga sebenarnya tidak mudah bagi Anda jatuh cinta dan menunjukkan rasa suka pada orang lain. Inilah mengapa sebagian dari Anda memilih menunggu hingga ada signal pasti bahwa ada orang yang mengharapkan cinta Anda. Mereka tidak akan terlibat dalam suatu hubungan tanpa penyelidikan terlebih dahulu untuk mengetahui apakah pilihannya itu merupakan pribadi yang setia dan jujur.” 

Setelah membaca buku ini, (setelah sekian lama, akhirnya aku meng-khatam-kan buku “Boy Meets Girl” karangan Uncle Joshua Harris ini) sedikit-banyak pemahamanku diperbaharui dan pemikiranku dibukakan tentang hal-hal yang selama ini aku tidak tahu.

Menurutku, buku ini menjadi salah satu buku yang wajib dibaca oleh semua kawula muda yang hidup di zaman posmodern ini. Dan menurutku juga, buku ini dapat dibaca oleh semua golongan status relationship: single, double (#eh) berpacaran, menikah, sudah menikah, pernah menikah; tapi memang, buku ini lebih cocok dibaca oleh mereka yang tergolong dalam status lajang, pedekate, ataupun yang akan menikah. Baiklah, aku akan membagikan apa saja yang kudapat dari buku ini.

Bagian I: Memikirkan Ulang Percintaan

  • Bab I: Apa yang Kupelajari Sejak Tidak Berkencan Lagi
    Dalam bab ini aku diajak untuk memikirkan ulang dan bersabar dalam menjalin sebuah hubungan. Uncle Josh sedikit mengulas buku pertamanya “I Kissed Dating Goodbye”. Dalam buku itu, Uncle Josh menantang para jomblowan-jomblowati untuk meninjau ulang bagaimana mereka menjalani kehidupan asmara di dalam terang firman Tuhan. “Kalau kamu belum siap menikah, jangan terlibat urusan percintaan.”Uncle Josh menasihati.
    “Jangan biarkan ketidaksabaran menguasaimu. Jadilah temannya, tapi jangan menceritakan ketertarikanmu sampai kamu betul-betul siap memulai hubungan yang memiliki tujuan dan arah yang jelas. Jangan main-main dengan perasaannya.”, nasihat Auntie Carolyn, pendetanya Uncle Josh.
  • Bab II: Temukan Kembali Seni Menjalin Hubungan Lawan Jenis
    Dalam bab ini aku dibukakan tentang bagaimana seni menjalin hubungan lawan jenis. Uncle Josh mengatakan bahwa Menjalin Hubungan Lawan Jenis adalah kencan dengan tujuan, percintaan yang dipandu hikmat, cara menjalin hubungan yang dapat menolong kita melakukan firman Tuhan sementara menjajaki kerinduan hati kita, kisah cowok bertemu cewek, entah akhirnya menikah atau tidak, kamu dapat saling mengenal dengan keyakinan bahwa kamu masing-masing memilki pemberian Tuhan yang terbaik di masa depanmu.
  • Bab III: Percintaan dan Hikmat: Dijodohkan dari Surga
    Dalam bab ini aku dibukakan bahwa ketika kita memandu percintaan dengan hikmat, kita memiliki percintaan yang cermat – percintaan yang dituntun oleh apa yang benar di mata Tuhan dan tentang dunia yang telah diciptakan-Nya. Uncle Josh menasihatkan untuk menikmati setiap hidangan “kisah cinta” menurut urutannya – perkenalan, persahabatan, menjalin hubungan lawan jenis, pertunangan, pernikahan, jangan dibolak-balik, jangan dicampuraduk!
    Saat kita bisa mengombinasikan cinta kasih dan hikmat, itulah saatnya menjalin hubungan lawan jenis. Untuk mengujinya, jawablah 3 pertanyaan berikut: 1) Sanggupkah kamu bersabar? 2) Dapatkah kamu menetapkan arah yang jelas untuk hubungan ini? 3) Apakah perasaanmu berdasarkan realitas?
    Setiap orang dapat mengalami perasaan yang menggebu-gebu, namun hanya orang yang mencari kehendak dan waktu Tuhan dapat mengalami sukacita sejati dalam percintaannya yang romantis.
  • Bab IV: Bagaimana Caranya, Siapa Orangnya, Kapan Waktunya
    Dalam bab ini aku dibukakan bahwa adalah salah kalau kita menilai bahwa proses penentuan bagaimana, kapan dan dengan siapa kita menjalin hubungan adalah sesuatu yang harus dituntaskan dulu supaya kita dapat melangkah maju – mulai menjalin hubungan lawan jenis, lalu lanjut dengan pernikahan. Tuhan tidak pernah terburu-buru. Tujuan Tuhan dalam semuanya ini bukan hanya untuk membawa kita untuk membawa kita pada pernikahan semata. Ia ingin memakai proses ini berikut segala pertanyaan dan ketidakjelasan yang terlibat di dalamnya untuk membentuk kita, menguduskan kita dan menumbuhkan iman kita.
    Ingatlah, yang penting bagi Tuhan bukan hanya tujuan sebuah perjalanan, tetapi juga perjalanan itu sendiri.

Bagian II: Masa Menjalin Hubungan Lawan Jenis

  • Bab V: Lebih dari Teman Biasa, Tapi Belum Jadi Kekasih
    Dalam bab ini aku dibukakan tentang untuk meniti masa menjalin hubungan yang sukses dan menyenangkan kita perlu pertumbuh dan berjaga dalam tiga hal:
    Persahabatan: bertumbuh dan menjaga hati dalam persahabatan itu temponya tidak terburu-buru, fokusnya diarahkan kepada usaha saling mengenal kehidupan pihak lain, bukan menciptakan keintiman prematur atau ketergantungan emosi, dan ruang(persahabatan)nya akan semakin luas seiring dengan berlalunya waktu. Janganlah persahabatan dan hubungan dengan teman-teman lainnya, apalagi keluarga menjadi tersisih. Ingatlah bahwa eksklusivisme yang prematur dapat menyebabkan kalian saling tergantung lebih dari yang seharusnya. Tetaplah setia pada hubungan persahabatan dan tanggung jawabmu.
    Persekutuan: menjaga buah persekutuan yang benar-benar alkitabiah artinya meningkatkan kasih dan hasrat kita kepada Tuhan, bukan meningkatkan ketergantungan emosi satu sama lain. Memastikan bahwa kita tidak mencoba mengambil tempat Tuhan dalam kehidupan teman kita. Saling mengingatkan bahwa sumber penghiburan, sumber dorongan dan semangat hanya ada di dalam Tuhan, dan bukan pada teman kita.
    Asmara: bertumbuh dalam asmara sebaiknya terjadi hanya ketika persahabatan dan persekutuan sudah menjadi semakin dalam. Inti dari asmara yang murni adalah suatu upaya – seorang laki-laki menunjukkan kepedulian, kasih sayang dan cintanya yang tulus lewat kata-kata dan perbuatan. Sementara si perempuan menanggapinya dengan “gayung bersambut”.
  • Bab VI: Bagaimana dengan Bibir Kita?
    Dalam bab ini aku dibukakan tentang apa, bagaimana dan pentingnya komunikasi dalam sebuah hubungan. Komunikasi adalah sesuatu yang lebih dari sekedar berbicara; komunikasi adalah menyimak. Dan lebih dari sekedar menyimak, komunikasi itu mengerti, lalu dengan benar menanggapi apa yang kita dengar. Komunikasi yang jelas terjadi hanya bila dua orang, tidak saja tahu apa yang harus dikatakan, tapi juga tahu kapan dan bagaimana mengatakannya.
    Ada 5 prinsip Komunikasi yang Autentik: 1) Masalah Komunikasi Biasanya Masalah Hati, 2) Telingamu adalah Alat Komunikasi yang Paling Penting, 3) Komunikasi yang Baik Tidak Terjadi dengan Sendirinya, 4) Tidak Ada Konflik Bukan Berarti Komunikasi Berjalan dengan Baik dan 5) Motif Lebih Penting daripada Teknik.
  • Bab VII: Jika Cowok Menjadi Pria Sejati, Apakah Cewek Menjadi Wanita Bijak?
    Dalam bab ini aku benar-benar dibukakan tentang panggilan untuk menjadi laki-laki dan perempuan yang sesuai dengan tujuan penciptaan. Alkitab mengatakan bahwa peranan kita sebagai pria dan wanita adalah bagian dari kisah agung yang sedang Allah ceritakan. Adam diciptakan lebih dulu – pertanda peranan Adam yang unik sebagai pemimpin dan inisiator. Dan Hawa diciptakan untuk melengkapi, mendukung dan menolong suaminya.
    Hai Kaum Adam, dalam hubungan dengan seorang perempuan, ambil perananmu sebagai pemimpin dan inisiator, jadilah pemimpin rohani, lakukanlah hal-hal kecil yang mencerminkan kepedulian, respek dan keinginan untuk melindungi, dan berilah dorongan agar kaum Hawa mempraktikan peran kewanitaannya sesuai dengan Alkitab.
    Hai Kaum Hawa, dalam hubunganmu dengan cowok-cowok yang anak Tuhan, berilah mereka dorongan dan berilah kesempatan kepada mereka untuk mempraktikan kepemimpinan yang bersifat hamba, jadilah saudara dalam Tuhan, tumbuhkan sikap yang memandang keibuan sebagai panggilan yang terhormat dan binalah kewanitaan yang Alkitabiah dan kecantikan batiniah dalam hidupmu.
    Allah menciptakan kaum Adam untuk menjadi laki-laki bagi kemuliaan-Nya dan kaum Hawa untuk menjadi perempuan bagi kemuliaan-Nya.
  • Bab VIII: Menjalin Hubungan Lawan Jenis – Proyek Bersama
    Dalam bab ini aku berharap memiliki kisah kasih – cerita cinta seperti yang dialami oleh Uncle Kerrin dan Auntie Megan. Dimana, pada saat mereka menikah, pernikahan mereka bukan hanya untuk mereka berdua, tapi pernikahan mereka menjadi bagian dari teman-teman, saudara-saudara, terlebih keluarga. Sukacita mereka bukan hanya untuk mereka berdua, tapi untuk semua orang yang terlibat dalam hubungan mereka berdua. Kisah mereka didukung, diperhatikan, dilindungi, diingatkan diuji oleh keluarga, teman-teman, pendeta, komunitas, gereja, sehingga mereka semua juga menjadi bagian dalam hubungan Uncle Kerrin dan Auntie Megan. Pepatah kuno berkata “Cinta itu Buta”. Itulah kenapa pada saat menjalin sebuah hubungan kita perlu  masukan, arahan, peringatan, nasihat dari orang lain untuk membantu kita melihat kenyataan dan tidak dibutakan oleh cinta.
  • Bab IX: Cinta Sejati Tidak Hanya Menunggu
    Dalam bab ini aku dibukakan tentang pentingnya menjaga kekudusan hidup dalam menjalin sebuah hubungan. Panggilan Allah agar kita menjaga kekudusan seks adalah suatu berkat. Keintiman seksualitas sebelum menikah sama sekali bukan tanda cinta. Sebelum menikah, sejoli yang belum menjadi suami-istri dapat membuktikan cinta mereka dengan jalan mengesampingkan keinginan seksual mereka dan saling menjaga kesucian hidup masing-masing.
    Seks dalam pernikahan menjadi indah, memuaskan dan kreatif. Seks di luar pernikahan menjadi jelek, menghancurkan dam tercela, juga berdosa. Dan Tuhan tidak main-main dengan dosa. Daud, ketika memiliki affairdengan Batsyeba, Tuhan membenci dosanya dan menghukumnya. Walaupun Daud diampuni ketika dia bertobat, tapi konsekuensi dosa itu tetap berlaku di sisa hidupnya. Standar kebenaran Allah tidak dapat dikompromikan dengan apapun/siapapun.

Bagian III: Sebelum Kamu Berkata, “Ya, Saya Bersedia.”

  • Bab X: Bila Masa Lalumu Datang Mengetuk
    Dalam bab ini aku dibukakn tentang bagaimana meresponi dosa-dosa di masa lalu yang datang mengetuk. Kita perlu memandang salib. Kenapa? Karena di salib itulah satu kali untuk selamanya, dosa-dosa kita dahulu, sekarang dan akan datang sudah diampuni – secara total. “Pengampunan adalah sebuah janji, bukan sebuah perasaan.”, Jay Adams. Untuk kepentingan berdua dan kebaikan dalam kehidupan pernikahan (nantinya), sebagai sejoli kita perlu saling mengaku, mengampuni dan meneguhkan, namun jangan kamu sampaikan secara detail (dalam pengakuanmu, sampaikan saja apa yang perlu kamu sampaikan).
  • Bab XI: Apakah Kamu Sudah Siap – Untuk Selamanya?
    Dalam bab ini aku dibukakan bahwa ada 10 pertanyaan yang perlu dijawab sebelum bertunangan: 1) Apakah hubungan kalian berpusat pada Tuhan dan kemuliaan-Nya? 2) Apakah kalian bertumbuh dalam persahabatan, komunikasi, persekutuan dan asmara? 3) Sudahkah kamu paham akan peranan laki-laki dan perempuan yang digariskan dalam Alkitab? 4) Apakah orang-orang lainnya mendukung hubungan kalian? 5)Apakah keinginan seksualmu memainkan peranan yang terlalu besar (atau terlalu kecil) dalam proses pengambilan keputusan? 6) Apakah kamu mempunyai pengalaman yang kamu catat bagaimana kamu memecahkan masalah secara alkitabiah? 7) Apakah kalian mempunyai arah yang sama dalam hidup ini? 8) Sudahkan kalian mempertimbangkan perbedaan budaya yang ada di antara kalian? 9) Apakah ada di antara kalian yang mempunyai keterlibatan yang rumit dari pernikahan atau masa lalu? 10) Apakah kamu mau menikah dengan orang itu?
  • Bab XII: Hari Itu
    Hari Itu – Hari Pernikahan. Pernikahan bukan akhir, tapi sebuah permulaan. Kisah kita adalah kisah Dia.
    “Cinta sejati sudah ditakdirkan oleh Tuhan,
    sudah diatur jauh sebelumnya,
    suatu kebetulan yang sudah dengan sangat teliti
    dipersiapkan terlebih dahulu.
    Ditakdirkan adalah istilah sekuler
    untuk kehendak Tuhan,
    dan kebetulan adalah istilah sekuler
    untuk anugerah-Nya.”
    The Mystery of Marriage ~ Mike Mason

Kalau mau tau lebih lengkap tentang buku ini, dapatkan buku ini di Toko Buku Rohani terdekat, hehe. Lebih enak kalau punya bukunya. Kenapa? Karena bisa kapan aja dibaca bukunya, kalau mau dibaca-baca lagi tinggal buka buku, ga perlu cari orang/tempat untuk minjem :D. Tapi kalo mo minjem juga ga dilarang sih, hehe. God Bless You unstopable!

resensi BMG

[resensi] Bittersweet Love

Ini merupakan lanjutan dari keinginanku membaca novel-novel lain terbitan Gagas Media. Setelah “melahap” If You Were Mine, beberapa bulan kemudian aku memilih Bittersweet Love untuk “kulahap”. Berbeda dengan cerita sebelumnya, kali ini memang beniat untuk membeli salah satu novel. Sempat bimbang, mau beli “Bittersweet Love” atau Hujan dan Teduh. Sempat membaca sedikit bagian awal “Hujan dan Teduh”, tapi aku ingat ada beberapa novel lain yang asik dibaca untuk “menggalau”, dan pilihanku jatuh kepada novel “Bittersweet Love“.

 Berikut kilasan tentang novel tersebut yang tertulis di sampul belakangnya:

“Merindukanmu adalah satu-satunya kata yang dapat menggambarkan rasa ini. Dan semuanya dimulai sejak aku kehilanganmu.

Ketika waktu membawakan pilihan-pilihan lain untukku, langkahku masih terbelit oleh ingatan tentangmu. Kasih sayang yang seluruhnya milikku pun harus terbagi. Bahkan, rumah tak lagi menjadi tujuanku untuk pulang.

Kini aku menyadari bahwa semua sudah berganti dan yang bisa kulakukan hanyalah menghadapi. Semua yang telah lewat tak mungkin bisa kembali. Apa yang kupikir lenyap, nyatanya tertutup emosi. Butuh waktu untuk belajar mencintai lagi. Dengan penuh keyakinan diri aku melakukannya.

Menerima. Cinta sesederhana itu saja.”

Awalnya membaca kilasan di sampul belakang novel ini, aku berpikir akan menemukan cerita yang tidak berbeda jauh dengan apa yang aku miliki, tapi ternyata? Baca aja sendiri 😀 Dan yang lebih shock lagi, waktu buka bagian daftar isinya, cuma ada dua daftar isi:

Hah? gimana maksudnya novel ini? makin penasaran dan berniat segera menyelesaikannya. Dan setelah menyelesaikannya, benar apa yang dituliskan di bagian sampul belakang dari novel ini: “Butuh waktu untuk belajar mencintai lagi. Dengan penuh keyakinan diri aku melakukannya. Menerima. Cinta sesederhana itu saja”. Kalimat ini bisa punya makna yang berbeda dalam situasi yang berbeda, dan ternyata pandanganku sebelum dan sesudah menyelesaikan novel ini berbeda.

[resensi] If You Were Mine

Di suatu Sabtu petang aku pergi bersama seorang kawan ke salah satu toko buku di bilangan Jalan Merdeka, Bandung. Berawal dari ketidaksengajaan melirik-lirik novel terbitan Gagas Media, sampai akhirnya lirikanku terpaku pada salah satu novel terbitannya, yaitu If You Were Mine, memang tak berniat membeli novel itu, sehingga berusaha mencari tempat duduk untuk mencoba “melahap” novel tersebut. Ceritanya yang ringan, namun bisa membuatku terhanyut dalam ceritanya. Dan membuat imajinasiku berkeliaran dengan liar membayangkan suasana yang terjadi di dalam cerita tersebut.

Berikut kilasan tentang novel tersebut yang tertulis di sampul belakangnya:

“Kamu adalah jawaban bagi semua pertanyaan.
Alasan di semua hal terbaik dalam hidup.
Harapan bagi mimpi-mimpiku.
Kekuatan saat aku sendiri meragukan kemampuanku….

Jadi salahkah jika aku tak ingin siapa pun memilikimu?
Atau, haruskah aku mencintaimu untuk membuktikan keegoisanku?”

Setelah menyelesaikan novel ini (bukan dalam hari yang sama, karena waktu itu sudah malam, terpaksa menutup novel tersebut dan pulang dengan rasa penasaran bagaimana kelanjutan dan akhir ceritanya, akhirnya menyelesaikannya pada waktu, tempat dan hari yang berbeda :D), berniat mencari novel-novel lain dengan penerbit yang sama. Berikut cerita kelanjutannya.