Explore Bandung: Hobbiton Adventure

Minggu, 29 April 2018

Hobbiton Adventure adalah salah satu “wahana” yang ada di Farm House Susu Lembang. Sebenarnya, tahun 2015, aku sudah pernah mengunjungi Farm House. 3 tahun yang lalu waktu ke sana, Farm House belum terlalu banyak wahana yang bisa dinikmati untuk orang dewasa. Tahun ini kembali ke sana karena ada wahana baru, yaitu “Hobbiton Adventure”.

Tahun ini aku pergi bersama Claudia ‘Dhea’ dan Muliyanto. Setelah Ibadah Minggu bersama, kami pergi ke Farm House. Entah kenapa, siang itu jalan menuju Lembang tidak terlalu macet. Sampailah kami di Farm House. Di dalam banyak sekali pengunjungnya. Cukup padat di dalam, bahkan kami juga sempat bingung mencari tempat parkir. Setelah dapat parkir, kami berkeliling dan melihat-lihat. Dan sampailah kami di wahana “Hobbiton Adventure”. Awalnya, kami ragu mau masuk, karena harus mengeluarkan uang lagi. Tapi, setelah berunding, kami memutuskan untuk masuk.

Setelah masuk apakah kami menyesal? Ternyata tidak, hahaha. Senangnya. Wahana ini menghadirkan suasana rumah The Hobbit. Mirip seperti di filmnya. Walaupun mungkin ini hanyalah replika, tapi pada akhirnya kami tidak merasa rugi mengeluarkan uang tambahan untuk bisa masuk ke wahana ini.

Suasana yang dihadirkan mulai dari Ruang Tamu, Ruang Baca, Kamar Tidur, Kamar Mandi, Dapur, Ruang Makan dan Ruang Harta Karun yang dijaga oleh Smaug (sosok naga dalam film The Hobbit), bisa membuat aku bisa merasakan sekaligus membayangkan berada di dalam film The Hobbit. Di sekitar Rumah Hobbit juga banyak beberapa spot foto yang instagramable.

This slideshow requires JavaScript.

Nb : untuk masuk ke Rumah Hobbit, kita harus melepas alas kaki, dan dibatasi untuk memegang ataupun menduduki beberapa property. Salut sama setiap petugas yang keren banget untuk dimintatolongin ambil foto. Dan salut juga sama petugas yang rela bolak-balik dari pintu masuk ambilin alas kaki, dipindah ke pintu keluar. Jadi, waktu kita udah di pintu keluar alas kaki kita sudah tersedia.

Farm House Susu Lembang
Harga Tiket Masuk : Rp.20.000,- (include voucher yang bisa ditukar dengan susu murni atau makanan atau souvenir)
Harga Tiket Masuk Hobbiton Adventure : Rp.20.000,- (include pie susu dengan kemasan The Hobbiton)
Advertisements

Bandung : Paris van Java

Bandung

“Dan Bandung, bagiku, bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan” -Pidi Baiq

Kekeluargaan: perasaan diterima apa adanya, perasaan memiliki keluarga baru, perasaan memiliki rumah kedua, perasaan selalu ingin kembali ke Bandung, perasaan enggan untuk meninggalkan Bandung

Perpisahan: Kamu yang pernah meninggalkan,
akhirnya tahu bagaimana rasanya ditinggalkan.

Kehilangan: Mengapa demikian? Di mana salahnya? Waktu!
Benar, aku dan dia tidak berada dalam waktu yang sama ketika menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi dalam hati ini.

Pembentukan: Kamu yang pernah mengajarkanku bagaimana merindukanmu,
tetapi tidak pernah mengajarkanku bagaimana melupakanmu.

Kepenatan: Yang awalnya nampak penuh harapan,
semakin lama, rasanya semakin tak ada tujuan dan kehilangan harapan.

Bersyukur: Meskipun demikian,
Engkau berikan kesempatan untuk selalu bersyukur kepadaMu atas segala sesuatu.

Explore Bandung: Kebun Bunga Begonia

Sabtu, 2 September 2017

Dua minggu sebelum hari ini, Si Monche ngasih tau kalo mau main ke Bandung. Dan aku pikir dia punya kegiatan sendiri lah ya ke Bandung dan ga kepikiran mau ngajak jalan jauh, paling ya meet up doang atau gereja bareng hari Minggunya. Ternyata, dia mau jalan-jalan, wkwk. Nah, awalnya kami ke The Lodge Maribaya. Berangkat kesiangan, walaupun dari Gegerkalong, ternyata sampe ke Maribaya udah macet. Selain karena padatnya kendaraan, tapi juga karena jalannya lagi di cor. Alhasil banyak debu, macet panjang banget.

Sesampainya di The Lodge Maribaya, parkiran motor udah penuh banget. Ada rumah warga yang dijadikan area parkir, dengan biaya Rp.5.000,- sepuasnya. Aku iseng nanya ke ibu-ibu yang halaman rumahnya dijadiin parkiran. “Bu, ini rame banget. Kita jalan jam 9 sampe sini udah rame. Ini yang udah nyampe duluan dari jam berapa ya, Bu?” Ibu tersebut menjawab “Dari subuh, neng.” (Ya ampun!) hahaha.

Dari parkiran kami masih harus jalan kaki lagi ke pintu masuk. Sampai di depan pintu masuk, banyak orang ngantri. Kami bingung ini antrian apa, ternyata antrian untuk beli tiket dan sudah mengular panjang banget. Hari semakin panas dan matahari terik sekali. Kami tak bisa membayangkan orang sebanyak ini kalau masuk ke dalam semua, di dalam kayak apa? Akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari antrian, karena juga udah mulai pada emosi gara-gara ada bapak-bapak yang motong antrian 😦 Dan kami pergi dari The Lodge Maribaya, pindah ke Kebun Bunga Begonia. Di sini suasananya lebih manusiawi, ga antri, masih bisa foto-foto dan menikmati pemandangan.

This slideshow requires JavaScript.

Kalau mau benar-benar menikmatinya, kita bisa tau nama-nama bunga yang ada di sini. Cuma ya, kita bukan niatnya mau wisata edukasi, tau nama-nama bunga, jadinya cuma foto-foto doang, hahaha. Udah panas banget soalnya pas nyampe di sini tuh. Bunganya banyak. Banyak spot foto juga yang instagram-able, hihi. Ada juga kebun sayur yang bisa dibeli sayurannya dan bisa petik sendiri. Ada juga kebun pembibitan bunga yang bisa dibeli juga. Ada juga toko souvenir. Ohya, di sini ada restoran dan mushola juga. Jadi teman-teman kalau laper bisa makan, sekalian istirahat dan bisa sholat juga 😉

Kebun Bunga Begonia Glory
Jalan Maribaya No. 120 A, Lembang Bandung, Jawa Barat, Indonesia.
Telepon:+62 22 2788-527
HP:+62 812-220-0202
E-mail: info@kebunbegonia.com
http://www.kebunbegonia.com/

Harga tiket masuk : Rp.15.000,-
Parkir motor : Rp.2.000,-

Explore Bandung: Farm House Susu Lembang

Senin, 21 Desember 2015

Bandung rasa Eropa. Bisa kita temukan suasana Eropa di Farm House Susu Lembang. Explore Bandung kali ini dilakukan bersama Melia, Gita dan Haerdi. Farm House masih termasuk destinasi wisata baru di Bandung, jadi masih rame banget, kami parkir mobil di pinggir jalan raya dan langsung ditodong Rp.20.000,- sama warga yang mendadak menjelma jadi tukang parkir :’).

Menurutku, Farm House lebih cocok dijadikan destinasi wisata untuk keluarga kecil baru, yang masih punya anak-anak kecil gitu lah. Soalnya beberapa “wahana” yang ada di sana itu, kebanyakan untuk anak-anak. Seperti feeding pet salah satunya. Ya, karena rame banget, lagi-lagi kami di sana cuma foto-foto biar ada update-an di instagram, hahaha. Harga tiket masuknya Rp.20.000,- dan dapat free susu segar.

Untuk menambah pengalaman berada di Eropa, di Farm House juga ada kios yang menyewakan baju khas Eropa. Kami ga sewa, karena ga minat, hahaha. Asli rame banget pas ke sana. Mungkin karena kami anak-anak muda yang penasaran dengan tempat wisata kekinian, belum berkeluarga juga, jadi bingung mau ngapain ke sana. Tapi, tempat ini cocok banget untuk para ayah dan ibu yang memegang tagline “Sayang Anak, Sayang Anak”, hihihi.

This slideshow requires JavaScript.

Kaleidoskop: A Blessed 2014

Setiap proses pembentukan yang terjadi di tahun 2014 merupakan proses yang berat, tapi bukanlah proses yang mustahil untuk dijalani. Setidaknya ada tiga fase besar yang terjadi tahun ini.

  1. Fase Pertama adalah masa di mana kata “semangat” menjadi kata yang lebih sering didengar dan diucapkan, namun justru kata “menyerah” yang lebih sering dilakukan.
  2. Fase Kedua adalah masa di mana segala jenis bentuk “semangat” yang hanya diucapkan di Fase Pertama, diubah menjadi kata yang harus dilakukan.
  3. Fase Ketiga adalah masa di mana “semangat” itu berubah menjadi “sukacita”.

Ketiga fase ini, secara garis besar, menggambarkan tentang perjuanganku menyelesaikan studi di batas akhir masa studiku. Namun, di tengah-tengah perjuangan itu, Tuhan tidak hanya mengizinkan proses yang sulit untuk disyukuri, tapi Tuhan juga izinkan aku mengalami banyak sekali proses yang mengajarkanku untuk bersyukur atas hadirnya setiap pengembara dalam kehidupanku selama 2014 ini.

Januari – Mei 2014: Fase Pertama

IMG_20141224_095547

Di fase pertama ini, aku mengalami pasang-surut semangat dalam mengerjakan Tugas Akhir (TA) ku. Aku mengambil judul TA “Sistem Penjurusan SMA dengan Menggunakan Metode Fuzzy Multi Criteria Decision Making (FMCDM)”. Sebenarnya, (seharusnya) aku sudah bisa menyelesaikan TA ku ini sejak 3 semester yang lalu. Kendala terbesar bagiku pribadi dalam menyelesaikan TA adalah mengalahkan keegoisan diriku dalam kemalasan. Sebenarnya banyak faktor yang menimbulkan kemalasan ini. Beberapa kali aku menemukan permasalahan dalam metode, aku sudah cari beberapa jurnal referensi, bahkan jurnal internasional juga, tak banyak memberikan penjelasan dalam menentukan bobot bilangan fuzzy (yang ga ngerti, anggep aja, pura-pura ngerti yak, hihihi). Setiap kali menemukan permasalahan, aku tidak terlalu banyak berusaha untuk bertanya, hanya memendamnya sendiri. Alhasil, aku tenggelam dalam permasalahanku dan akhirnya malas untuk mengerjakan TA.

Aku sudah sampai mengambil SKS matakuliah TA 1 sampai tiga kali (yang anak IF pasti ngerti kenapa sampe kudu ambil tiga kali, wkwkwk), sudah sampai tiga kali seminar proposal TA (dengan topik yang sama,  tentang penjurusan SMA), sudah ganti judul TA sebanyak tiga kali, sudah lulus matakuliah TA 1 sebanyak tiga kali, dan dengan demikian itu berarti aku juga sudah ganti calom pembimbing TA sebanyak tiga kali (pertama: Ibu RIE dan Bpk ERW, kedua: Bpk MHD dan Ibu APK dan ketiga: Bpk EKD dan Kak BYM).

Di semester yang baru, dosen pengampu matakuliah TA 1 ku adalah Bpk COK, aku bimbingan proposal dengan beliau bersama teman seperjuanganku VIE. Pak COK menyarankan untuk mencari SMA yang dijadikan sebagai studi kasus yang memiliki tiga jurusan, karena menurut beliau, metode yang kugunakan terlalu mubazir jika digunakan untuk mengolah data penjurusan SMA dengan dua jurusan. Alhasil, sejak bulan Januari sampai bulan Maret 2014, semangat itu muncul lagi. Aku sibuk mencari data yang akan kujadikan sebagai bahan studi kasus dari TA ku. Aku menghubungi temanku DMS, aku ingat bahwa ibunya bekerja di Dinas Pendidikan Kota Bandung. Aku meminta bantuannya untuk menanyakan SMA mana saja di kota Bandung yang memiliki tiga jurusan. Namun, proses pencarian data tersebut tidak semudah yang dibayangkan. Ternyata, aku harus membuat surat pengantar dari kampus untuk minta data ke Pemerintah Kota, kemudian akan dibuatkan surat pengantar dari PemKot untuk ambil data ke DisDik, setelah itu aku baru dapat data SMA mana saja di Bandung yang punya tiga jurusan. Aku dikejar waktu, rencana awal aku berharap bisa menyelesaikan TA di semester genap Tahun Ajaran 2013/2014. Namun, Tuhan berkata lain. Ternyata Dia mau ajarkan banyak hal di 2014 ini, khususnya dalam memperjuangkan TA. Dari segi waktu tidak memungkinkan, kenapa? Karena setelah dapat data dari DisDik, aku harus kunjungi setiap SMA tersebut untuk menanyakan proses penjurusan yang ada di SMA tersebut secara lebih detail. Dan, datang ke SMA tidak dengan tangan kosong, aku harus membawa surat keterangan dari kampus. Pembuatan surat keterangan dari kampus setidaknya membutuhkan waktu 2-3 hari. Bisa dibayangkan berapa waktu yang kubutuhkan hanya untuk menunggu surat keterangan, supaya bisa “datang” ke SMA tersebut?

Bersyukurnya, DisDik memberitahukan bahwa SMA di Bandung yang memiliki tiga jurusan ada empat, yaitu SMA Negeri 7 Bandung (di Jalan Lengkong Kecil, ga terlalu jauh dari Dayeuh Kolot), SMA Negeri 10 Bandung (di Jalan Cikutra, lumayan sejauh dari Bandung Selatan ke Bandung Timur), SMA Santa Angela (di Jalan Merdeka, enak nih di kota, bisa sekalian jalan-jalan, haha) dan SMA Negeri 15 Bandung (di Jalan Sarimanis, Sukajadi, ahlamak! Bayangin jalan ke sananya aja udah males, sejauh dari Bandung Selatan ke Bandung Utara). Tapi, yang namanya lagi semangat, sejauh apapun dijalani. Ga ada kendaraan, diusahain minjem motor, bahkan sewa motor. Terima kasih buat APPA (buat “Aurora”nya), MPPA (buat “Motor Bersama”nya), MYB (buat “Mio Hejo”nya), MS (buat alm.”Shadow”nya 😥 hiks), dan juga teman-teman serta motor-motor yang lain, yang sudah membantu saya mengantarkan setiap kali butuh motor untuk mempercepat mobilisasi.

Surat keterangan untuk mencari data TA dari kampus sudah ada, kendaraan untuk mobilisasi sudah ada, niat dan semangat untuk mencari data TA sudah ada, akhirnya aku mulai melangkahkan kaki untuk mengunjungi empat SMA tersebut. Aku ditemani oleh seorang temanku yang bersedia menemani dan membantu untuk mengumpulkan data TA, yaitu DMS. Tak jarang juga aku harus pergi sendiri, karena DMS ada kegiatan lain. “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.” Empat SMA yang ada tidak memenuhi syarat untuk kujadikan studi kasus. Ada beberapa variabel yang harus ada supaya data penjurusan layak dijadikan sebagai studi kasus, di antaranya: Nilai Akademik, Hasil Psikotes dan Kuisioner Minat Siswa. Dan aku perlu data satu atau dua angkatan, tidak dapat menggunakan sampel, karena aku buat sistem, bukan hanya sekedar analisis.

SMA Negeri 7 Bandung

Beberapa kali aku mengunjungi SMA ini, karena di awal aku hanya bertemu dengan Wakil Kepala Sekolah, di Bidang Kurikulum. Aku memberikan surat pengantar dari kampus, menjelaskan tujuanku dan akhirnya beliau setuju dan memperbolehkanku untuk mengambil data. Hanya, masalahnya adalah SMA ini sedang renovasi, sehingga untuk mengumpulkan data agak sulit. Data Nilai Akademik bisa diusahakan oleh beliau, namun masalahnya adalah data Hasil Psikotes tidak lengkap, bahkan oleh salah seorang guru BK data sudah dibuang, “Udah dibuang, abis numpuk di sini, jadi sarang nyamuk” (what? itu data belum ada 5 tahun, kok udah dibuang bu? 😥 aku yang sedih malah, hiks). Dan pada akhirnya, aku hanya mendapatkan fotokopi-an data hasil psikotes yang masih ditulis tangan untuk dua kelas. Nilai Akademik? Ga jadi aku minta, karena sudah ketahuan tidak lengkap.

SMA N 7 Bandung :’)

SMA Negeri 10 Bandung

Cerita di SMA ini beda lagi. Pertama kali aku datang ke sini, aku langsung ketemu sama Wakil Kepala Sekolah, di Bidang Kurikulum. Sama seperti di SMA N 7 Bandung, beliau menyetujui, hanya beliau mendelegasikan proses selanjutnya ke bagian BK. Hari pertama aku ke sana, Ibu Koordinator BK tidak ada, akhirnya aku menitip pesan kepada salah seorang guru BK di sana. Hari kedua ke sana, aku bertemu dengan Ibu Koordinator BK. Ibu ini baik banget. Aku menjelaskan tujuanku, beliau menanggapi secara positif. Namun, kondisi sekolah sedang sibuk UTS dan mempersiapkan para murid untuk Try Out SNMPTN. Salah satu hal yang menghiburku setiap datang ke sekolah ini adalah, banyak wejangan yang beliau berikan, walaupun pada akhirnya aku juga tidak dapat data dari SMA ini.

“Topiknya bagus. Tapi, kalo butuhnya data historis, berarti saya harus hubungi Tim SIM (Sistem Informasi Manajemen), sementara sekarang lagi sibuk ngolah nilai UTS dan persiapan SNMPTN, saya ga mau ganggu Tim SIM” (bujubuneng, bu..kalo udah ada Tim SIM, nyarinya tinggal Ctrl+F deh kayanya :’) sesusah apa sih? mungkin ibu ini kira harus bongkar file hardcopy di gudang kali). “Dengan kondisi kaya gini, gimana? Coba tanya pembimbingnya, mungkin ga kalo datanya diganti, kalo data yang sekarang kelas X mungkin saya bisa bantu, Insya Allah, tapi bukan penjurusan, sekarang namanya peminatan (di kelas X sudah dipisah antara IPA, IPS dan Bahasa). Kalo ga mungkin datanya diganti, mungkin ga judulnya diganti?” (Buuuuu..di IF ga semudah itu ganti judul, saya udah seminar, kalo ganti judul berarti saya ngulang matakuliah TA 1). “Iya, kalo kamu ke sininya semester lalu mungkin kami bisa bantu, sebelum sibuk persiapan SNMPTN, bulan-bulan Desember (2013) gitu.” (iya, bu..salah saya juga baru semangat di awal 2014 ini buat cari data :’) hehe). “Ya, namanya proses ya. Semangatlah.”

SMA N 10 Bandung :’)

SMA Negeri 15 Bandung

Di SMA ini lebih unik lagi, hihi. Sama seperti di dua SMA sebelumnya, Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum menyambut baik dan setuju, masalah selanjutnya adalah di Koordinator BK. Hari pertama aku ke sana hanya ketemu WaKaSek, Ibu Koordinator BK sedang ikut seminar. Hari berikutnya ke sana, beliau sakit. Hari ketiga ke sana baru ketemu. Ini sekolah yang terjauh, di Sarimanis, Sukajadi, Maranatha ke atas lagi. Ampun DJ! ahahaha. Demi TA, semua diusahakan. Setelah ketemu sang Ibu, menjelaskan tujuanku, beliau minta waktu untuk mencari data yang kubutuhkan. Data Nilai Akademik: minta ke TU yah. Aku dan DMS mengcopy data dengan cara menyalin ulang satu demi satu, tiap siswa, karena data tidak bisa difotokopi, tapi sampe akhirnya boleh dipinjem, jadi aku bisa salin di kosan. DMS bantu juga untuk input data, makasih ya Din 😉 Tapi masalahnya adalah, data nilai masih ada yang dipegang wali kelas, jadi data tidak full satu angkatan. Data nilai yang kami input adalah data nilai kelas XI dan permasalahannya adalah data hasil psikotes tidak ada backup! What The? “Neng, data hasil psikotesnya ga ada, waktu itu langsung dibalikin ke siswanya, sekolah ga punya backup” (ga mungkin bu..hasil rekapan dari lembaga psikotes emang ga dikasih? aslilah..). “Kalo mau, yang sekarang kelas XII aja gimana? Tapi cuma beberapa kelas” (daripada ga ada data sama sekali, boleh lah ya). “Tapi data nilai jangan dicopy, rahasia sekolah” (lah gimana bu? saya butuh itu). Akhirnya boleh juga dicopy. Malah data psikotes yang harusnya rahasia tiap orang, malah boleh dibawa pulang. Atuh kumaha si Ibu teh? -,-

Data hasil psikotes kelas XII sudah ada beberapa, tapi data nilai yang dicopy ke flashdisc ku hilang, kena virus. Selamat! Dan karena data juga tidak lengkap, aku mengurungkan niatku menjadikan SMA ini sebagai studi kasus.

SMA N 15 Bandung :’)

SMA Santa Angela Bandung

Hadeuh, di SMA ini. Aku mundur sebelum berperang. Kenapa? Aku yakin administrasi di sekolah swasta biasanya lebih rapi, namun respon TU pada saat aku memberikan surat pengantar dari kampus ga enak. Saat itu KepSek sedang keluar kota jadi aku ga bisa ketemu langsung. Karena responnya kurang bersahabat, aku mengurungkan niat juga.

SMA Santa Angela Bandung :’)

SMA Negeri 1 Dayeuh Kolot

Akhirnya, aku kembali ke SMA yang sejak 3 semester lalu aku rencanakan akan kujadikan studi kasus. 3 semester yang lalu, aku bersama salah seorang teman sekelasku mengambil topik TA yang sama dan studi kasus yang sama. Dia lanjut, aku stak. Dia lulus, wisuda, aku belum. Aku kembali ke kampus untuk meminta surat pengantar, aku hubungi Bapak Koordinator BK yang nomor HPnya masih kusimpan. Ternyata beliau masih ingat. Respon positif! Administrasi khususnya untuk data penjurusan di sekolah lengkap. Sangat Lengkap! Semua data yang kubutuhkan sudah diinput ke dalam Excel. Beliau memperbolehkanku untuk mengcopynya. Data Hasil Psikotes baik Excel maupun hardcopy pun masih lengkap. Beliau memperbolehkanku membawa ke kosan untuk diinput satu per satu. Data Angket Minat Siswa sudah tersimpan rapi di dalam Excel. Thank God! Data sudah lengkap!

Lanjut, data sudah terkumpul. Tapi, masih ada masalah dalam menentukan bobot fuzzy dan coding. Datanglah, seorang malaikat yang Tuhan kirimkan untuk membantuku. Dia adalah HP. “Gimana kabar win? TA lu sampe mana? Ada yang bisa gua bantu?” (coding, Di). Kami membuat janji untuk bertemu, karena dia punya motor, dia lebih sering datang ke kosan setelah pulang dari kantor. Diskusi. Curhat Colongan. Ngerjain TA. Kami lakukan bersama, hahaha. Beberapa kali juga aku datang ke rumahnya. Sampai pada akhirnya, TAku selesai (seadanya, sesuai dengan reqruirement minimal).

Di tengah hiruk-pikuk, tunggang-langgang, jungkir-balik mencari data TA, Tuhan ajarkan aku kembali untuk bersyukur.

13 Februari 2014

anniversary

13 Februari 2014, menjadi hari bersejarah bagi keluarga kami. 30 tahun yang lalu, Tuhan membentuk sebuah keluarga baru. Yap! Happy Wedding Anniversary, Mom-Dad! 30 tahun bukan waktu yang sebentar, segala macam kondisi sudah mereka jalan bersama, sesuai dengan janji mereka di hadapan Tuhan, 30 tahun yang lalu. Panjang umur, sehat selalu ya, pak-bu :-* ({})

2 Maret 2014

IMG_9344791337466

Tuhan menjawab salah satu pergumulan yang sudah dipergumulkan sejak Oktober 2013 🙂

13 Mei 2014

1407755010522

Happy 28th of 13rd May, My Big Brother! 😀

24 Mei 2014

1407755010900

Happy 54th of 24th May, My Wonder Mommy! :-*

Juni – Agustus 2014: Fase Kedua

Di fase kedua ini, semangat yang mengalami pasang-surut di fase pertama, mau – tidak mau (harus) aku paksa untuk mengalami “pasang” kembali. Masa di mana semua semangat yang sudah Tuhan izinkan hadir dalam kehidupanku melalui berbagai macam bentuk, melalui berbagai macam media, melalui berbagai macam objek harus aku ejawantahkan menjadi sesuatu yang lebih nyata.

3 Juni 2014

be8f4f6c5010573cebaa3f83219ef50d

Serius! Kuliah emang susah, susah banget! Tapi, ketahuilah..perjuangan orang tua nguliahin anaknya jauuuuuuh lebih susah daripada perjuangan anaknya yang kuliah. Di tanggal 3 Juni 2014 ini, Tuhan izinkan aku untuk daftar sidang. Semua berkas sudah dikumpulkan ke admin IF dan aku tinggal menunggu hasil sidang akademik (lulus atau tidak, kalau tidak lulus atau ada matakuliah yang bermasalah, otomatis tidak akan keluar jadwal sidang TA. Kalau lulus, berarti jadwal sidangku akan segera rilis).

6 Juni 2014

received_m_mid_1399993286564_67b1e4ae707f370671_0

Happy 59th of 6th June, My Super Dad! 😉

25 Juni 2014

IMG_20140826_223124

Menurut jadwal,

  • 12 Juni 2014: Pra-Sidang
  • 20 Juni 2014: Sidang Akademik dan Validasi Nilai
  • 23 – 24 Juni 2014: Sosialisasi dan Konfirmasi Jadwal
  • 25 Juni 2014: Keluarnya Jadwal Sidang
  • 26 – 27 Juni 2014: Pembagian Buku TA ke Penguji Sidang
  • 30 Juni – 4 Juli 2014: Pelaksanaan Sidang TA
  • 18 Juli 2014: Sidang Akademik Yudisium

tapi, ternyataaaa..jadwal yang sudah disusun di awal, tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi di lapangan. Aku termasuk golongan mahasiswa yang tidak bermasalah dengan nilai matakuliah, sehingga dari hasil sidang akademik, aku bisa langsung dijadwalkan untuk sidang TA. Dari tanggal 20 – 25 Juni 2014 (pagi), tidak ada tanda-tanda jadwal sidang TA keluar. Karena aku berpaku pada jadwal awal bahwa kalaupun jadwal sidang keluar tanggal 25 Juni 2014, pasti pelaksanaan sidangnya mulai tanggal 30 Juni 2014, alhasil aku pergi ke BEC nemenin si Hitam service printer dan lanjut nonton Transformer.

Ternyata, Rabu 25 Juni 2014, itu hujan deras, dan aku ga bawa celana jas ujan, alhasil ujan2an ke BEC dan kena semprot si Hitam. Sampai di BEC, aku disms sama dosen Pembimbing 1 ku. Sms nya berbunyi bahwa aku sidang hari Kamis, 26 Juni 2014. Tapi, 2 Pengujiku ke Jakarta. Pak Dosen menyuruhku untuk menghubungi admin IF supaya minta jadwal pengganti daaaaannn jadwal sidangku adalah Jumat, 27 Juni 2014.

Rasanya masih ga percaya kalau aku sidang 2 hari lagi. Antara percaya dan ga percaya. Antara ada dan tiada. Aku mencoba tenang dan mempersiapkan diriku, tapi tetap saja aku shock berat dan tidak dapat berkonsentrasi. Aku tidak maksimal mempersiapkan sidang TAku. Bahkan sampai Kamis malam aku masih tidak percaya kalau aku sidang hari Jumat.

27 Juni 2014

1407755011056

Jumat, 27 Juni 2014. Pagi-pagi aku sudah berjalan menuju admin IF, ambil berkas sidang dan menuju ruang sidang di Laboratorium Data Minning Center di Gedung F. Karena aku sudah menghubungi admin dan mendapat konfirmasi bahwa jadwal sidangku diubah ke hari Jumat, aku tidak menghubungi 3 dosen pengujiku (bu IMD, bu MKS, dan bu SYP). Alhasil, seharusnya aku mulai sidang jam 08.00, sidangnya diundur karena beberapa permasalahan yang ada:

  1. Kunci Lab DMC ga tau dimana. Ngehubungi Pak Ajid, dia juga ga tau.
  2. Dosen Penguji belom ada yang dateng. Dateng pertama bu SYP, itu juga “ga sengaja” dateng pagi. Karena ternyata jadwal sidang dan buku TA ku belum sampai ke tangan beliau (ga tau kalau hari itu ada jadwal “nguji”). Bu IMD dan bu MKS juga ga ada. Aku coba hubungi bu IMD, awalnya tidak ada respon. Aku coba hubungi pak BDP sebagai PLT SekFak untuk meminta izin mencari dosen pengganti, ternyata beliau sedang di rumah sakit, beliau memintaku untuk menghubungi pak Ajid. Sementara aku menghubungi pak Ajid, ternyata dosen Pembimbingku membantu untuk menghubungi dosen lain untuk menjadi pengujiku dan pak DWM bersedia. Bu IMD pun hadir, kunci Lab DMC ketemu dan sidangpun dimulai (tak lama kemudian pak DWM masuk).

Aku sangat gugup, bahkan untuk melepas sepatu dan memakai almamaterpun aku lupa. Karena sudah kehilangan konsentrasi, aku tak dapat menjelaskan Tugas Akhirku dan tak dapat menjawab pertanyaan dari para penguji dengan baik. “Fix, gua sidang ulang pasti”, dalam hatiku berkata. Presentasi dan tanya-jawab selesai, saatnya sidang tertutup. Pagi itu, banyak orang yang Tuhan izinkan memberikan semangat melalui kehadiran mereka: MS, PHN, CPS, DMS dan LM. Agak lama sidang tertutupnya, aku sempat “mberebes mili”, sampai akhirnya namaku disebut sebagai tanda aku harus kembali masuk ke Lab DMC untuk mengetahui hasil sidang tertutup.

Dan benar, aku harus sidang ulang. Dosen Pembimbingku (pak EKD), sangat berharap kalau aku bisa “lolos” pagi itu. Pak EKD memberikan selamat, “Selamat Winda, sudah selesai sidang yang pertama” (hah? berarti lanjut sidangnya pak? hehe :”) sidang ulang maksudnya). Bu IMD pun menyemangatiku “Seminggu ini kamu belajar codingan, kerjain revisinya, jangan main gitar dulu, eh bolehlah sejam-dua jam, off dulu organisasinya, ke gereja dan jangan lupa berdoa.” Aku yang tadinya tegar karena sudah yakin akan sidang ulang, mendengar semangat yang bu IMD kasih malah jadi nangis, air mataku tak dapat kubendung, sampai membuatku terisak menyambut jabatan tangan (pemberian semangat) dari bu IMD dan bu SYP.

21 Juli 2014

quote362_large

1407755012221

16 Agustus 2014

IMG_20140816_210044

22 Agustus 2014

1407593711590

September – Desember 2014: Fase Ketiga

IMG_20141111_190525

IMG_20141112_112710

30 Oktober 2014

PicsArt_1414631548868

PicsArt_1414684929687

31 Oktober 2014

PicsArt_1414769835057

28 November 2014

PicsArt_1417135945651

29 November 2014

graduation

page

PicsArt_1418648216997

24 – 25 Desember 2014

PicsArt_1419445330316

PicsArt_1419605380821

Terima kasih kepada setiap pengembara yang sudah hadir untuk mendukung, menegur, mengingatkan, bahkan setia menemani untuk bersama-sama mengembara di tahun 2014 ini.

Explore Bandung: Tangkuban Parahu

Sabtu, 4 Oktober 2014

Tangkuban Parahu atau Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung yang terletak di ProvinsiJawa Barat, Indonesia. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung, dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, Gunung Tangkuban Perahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfurbelerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Daerah Gunung Tangkuban Perahu dikelola oleh Perum Perhutanan. Suhu rata-rata hariannya adalah 17 oC pada siang hari dan 2 oC pada malam hari. – Wikipedia

Sejak 2007 merantau ke Bandung, baru kali ini jalan-jalan ke Tangkuban Parahu, hahaha. Kenapa? Ga ada temen yang ngajak ke sana dan juga kalau mau ke sini tuh sejauh Selatan ke Utara dari Dayeuhkolot, wkwk. Bersyukur ada Sianturi Bersaudara yang mau diajak jalan-jalan, mereka adalah Muliyanto dan Husim. Dari pintu masuk menuju ke puncaknya masih lumayan jauh, jauh banget sih kalo menurutku dan nanjak, wkwkwk. Dan kita parkirnya di atas deket puncaknya.

This slideshow requires JavaScript.

As usually, jalan-jalan ala anak kosan mah pasti cuma foto-foto doang, hahaha. Kalaupun mau makan, pasti nyari yang murah, cari pinggir jalan atau nahan laper sampe ke tengah kota. Jarang banget mau makan di tempat wisatanya. Jadi, selama di sana kami hanya keliling-keliling cari spot foto, menikmati keindahan Gunung Tangkuban Parahu, hirup udara segar, menikmati dinginnya udara gunung, pulang, hahaha.

Gunung Tangkuban ParahuJalan Raya Tangkuban Perahu, Lembang, Jawa Barat 40391, Indonesia

Explore Bandung: Taman Film

Sabtu, 27 September 2014

Penjelajahan Bandung hari ini murah meriah saja. Aku dan Monche  jalan-jalan ke Taman Film. Awalnya sempat bingung sih, ini tempat ada di mana sih? Udah turun dari Jalan Layang Pasupati kok ga ada penampakan layar besar untuk nonton film bareng, ternyata ada di bawah lagi. Kesan pertama yang ada di pikiranku cuma satu : keren! Semua orang bisa dengan bebas masuk ke sini. Hanya dua syaratnya : buka alas kaki dan jaga kebersihan. Keluarga yang ke sini bisa bebas duduk-duduk di mana aja, bahkan bisa tidur-tiduran kayak kami ini hahaha. Anak-anak bebas berlarian ke sana ke mari. Sayangnya, pas kami ke sana pas bukan jadwalnya pemutaran film untuk nonton bareng. Jadi, cuma santai-santai dan foto-foto, wkwkwk.

This slideshow requires JavaScript.

Pak Walikota Bandung, Kang Emil, emang kece banget sih bangun taman dan ruang terbuka untuk warganya. Taman Film ini dibangun dengan memanfaatkan ruang yang ada di bawah Jalan Layang Pasupati. Kalau hujanpun tak kehujanan dan kalau panaspun tak kepanasan. Paling deg degan aja denger suara kendaraan yang melintas di atas kepala, hihi.

Taman Film : Jl. Layang Pasupati, Tamansari, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40116, Indonesia
Biaya Masuk : Gratis, paling bayar parkir aja ke mamang yang jagain motor, hehe