“Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.”

Usia bisa bertambah, tapi kedewasaan kadang kala tidak bertambah seiring bertambahnya usia seseorang. Untuk menjadi pribadi yang dewasa, prosesnya tidak mudah. Ada pembentukan yang harus dijalani. Pembentukan itu menyakitkan dan prosesnya tidak instan.

Untuk mengalami pertumbuhan dalam pemikiran dan menjadi dewasa kita membutuhkan orang lain. Kita tidak bisa bertumbuh kalau kita sendirian. Karena kita akan banyak belajar dari orang-orang yang menjengkelkan, yang tidak sempurna dan yang mengecewakan. Dan semuanya itu akan kita temukan kalau kita menjalin sebuah hubungan.

Manusia memiliki dua hakikat yang tidak akan pernah bisa hilang : diciptakan sebagai makhluk pribadi dan juga sebagai makhluk sosial. Tidak bisa dipungkiri kalau kita akan membutuhkan orang lain dan saling berhubungan, bahkan saling bergantung satu sama lain.

Namun, untuk menjalin sebuah hubungan dibutuhkan komitmen untuk saling membangun, mengingatkan, mendoakan, menasihati, memberi salam, melayani, mengajar, menerima, memberi hormat, menolong, menanggung beban, mengampuni, merendahkan diri, merendahkan hati dan masih banyak lagi.

“Kedewasaan yang sejati muncul dalam hubungan.” – Rick Warren

Hubungan membutuhkan keterbukaan dan kejujuran. Terbuka dan jujur tentang siapa diri kita dan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan kita. Keakraban terjadi di dalam terang, bukan kegelapan. Kegelapan digunakan untuk menyembunyikan sakit hati, kesalahan, ketakutan, kegagalan, kekecewaan dan kelemahan kita. Tetapi di dalam terang, kita membuka semuanya dan mengakui siapa diri kita sebenarnya.

“Kita hanya bisa bertumbuh dengan cara mengambil risiko, dan risiko yang paling sulit dari semuanya adalah bersikap jujur terhadap diri kita sendiri dan orang lain.” – Rick Warren

Ketika semuanya berjalan baik-baik saja, akan lebih mudah untuk kita terbuka dan jujur. Namun, ketika mengalami konflik, akan menjadi sulit untuk terbuka dan jujur tentang apa yang kita alami atau rasakan. Faktanya adalah kebencian dan dendam selalu menghancurkan sebuah hubungan.

Hubungan apapun, entah dalam pernikahan, persahabatan atau persekutuan, bergantung pada keterusterangan. Sesungguhnya, saluran konflik adalah jalan menuju keakraban dalam hubungan apapun. Ketika konflik ditangani dengan benar, kita makin akrab satu sama lain dengan menghadapi dan menyelesaikan perbedaan-perbedaan kita.

Keterusterangan bukan berarti kita bebas mengatakan apapun yang kita inginkan, di mana saja dan kapan saja kita mau. Keterusterangan bukan kekasaran. Kata-kata yang tidak dipikirkan meninggalkan luka yang abadi.

Menghindari konflik, lari dari masalah, berpura-pura masalah tidak ada atau takut membicarakannya adalah sikap pengecut. Tidak peduli apakah kita yag melukai atau yang dilukai, jangan menunggu pihak lainnya. Hampirilah mereka terlebih dahulu. Penundaan hanya memperdalam rasa dendam dan membuat segalanya lebih buruk. Dalam konflik, waktu tidak menyembuhkan apapun; waktu menyebabkan luka makin bernanah. Pilihlah waktu dan tempat yang tepat untuk bertemu.

“Meninggalkan hubungan saat terjadi konflik, kekecewaan atau ketidakpuasan adalah tanda ketidakdewasaan.” – Rick Warren

Advertisements

Koinonia = Fellowship

Kehidupan dimaksudkan untuk dibagikan. Allah memaksudkan agar kita menjalani kehidupan bersama-sama. Alkitab menyebutkan pengalaman bersama ini sebagai persekutuan. Namun, sekarang kata ini telah kehilangan sebagian besar makna alkitabiahnya.

Persekutuan yang sesungguhnya jauh lebih dari sekedar muncul pada kebaktian. Persekutuan yang sesungguhnya adalah menjalani kehidupan bersama-sama. Persekutuan termasuk mengasihi dengan tidak mementingkan diri sendiri, berbagi pengalaman dengan jujur, melayani secara praktis, memberi dengan berkorban, menghibur dengan penuh simpati, dan semua perintah “saling” lainnya yang terdapat dalam Perjanjian Baru.

Apa perbedaan antara persekutuan yang sejati dengan yang palsu?

Dalam persekutuan yang sejati, orang mengalami otentisitas.
Persekutuan yang otentik bukan obrolan basa-basi yang dangkal. Persekutuan tersebut merupakan tindakan berbagi pengalaman secara sungguh-sungguh dari hati ke hati, kadang-kadang sampai tingkat yang paling dalam. Persekutuan yang otentik terjadi ketika orang-orang bersikap jujur mengenai siapa mereka dan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan mereka.

Hanya bila kita terbuka tentang kehidupan kita barulah kita mengalami persekutuan yang sejati. Bersifat otentik membutuhkan keberanian dan kerendahan hati. Kita hanya bisa bertumbuh dengan cara mengambil risiko, dan risiko yang paling sulit dari semuanya adalah bersikap jujur terhadap diri kita sendiri dan orang lain.

Dalam persekutuan yang sejati, orang-orang mengalami simpati.
Simpati bukanlah memberikan nasihat atau menawarkan bantuan cepat yang basa-basi; simpati adalah masuk dan turut merasakan penderitaan orang lain. Simpati memenuhi dua kebutuhan dasar manusia : kebutuhan untuk dipahami dan kebutuhan agar perasaan-perasaan kita diterima. Setiap kali kita memahami dan menerima perasaan-perasaan seseorang, kita membangun persekutuan.

Ada tingkat-tingkat yang berbeda dari persekutuan, dan masing-masing tingkat cocok untuk segala waktu. Tingkat paling sederhana dari persekutuan adalah persekutuan untuk berbagi pengalaman dan persekutuan untuk mempelajari Firman Allah. Tingkat yang lebih dalam adalah persekutuan untuk melayani, seperti ketika kita melayani bersama-sama dalam perjalanan misi atau proyek kasih. Tingkat yang paling dalam dan kuat adalah persekutuan dalam penderitaan, di mana kita masuk ke dalam setiap penderitaan dan dukacita orang lain dan saling menanggung beban.

Dalam persekutuan yang sejati orang-orang memperoleh belas kasihan.
Persekutuan adalah tempat kasih karunia, di mana kesalahan tidak diungkit-ungkit tetapi dihapuskan. Persekutuan terjadi ketika belas kasihan menang atas keadilan. Kita semua membutuhkan belas kasihan, karena kita semua tersandung dan jatuh serta membutuhkan pertolongan untuk kembali ke jalur. Kita perlu saling memberikan belas kasihan dan bersedia menerima dari orang lain.

Kita tidak bisa memiliki persekutuan tanpa pengampunan. Allah memperingatkan, “Janganlah menaruh dendam.” (Efesus 3 : 13) karena kebencian dan dendam selalu menghancurkan persekutuan. Karena kita adalah orang-orang berdosa yang tidak sempurna, kita pasti saling melukai bila kita bersama-sama untuk waktu yang cukup lama. Kadang-kadang kita saling melukai dengan sengaja dan kadang dengan tidak sengaja, tetapi sengaja atau tidak, dibutuhkan banyak belas kasihan dan kasih karunia untuk menciptakan dan memelihara persekutuan.

Belas kasihan Allah kepada kita adalah motivasi untuk menunujukkan belas kasihan kepada orang lain. Ingat, Anda tidak akan pernah diminta untuk mengampuni orang lain lebih dari Allah yang telah mengampuni kita. Kapanpun hati Anda dilukai oleh seseorang, Anda memiliki pilihan untuk diambil : akankah saya menggunakan tenaga dan emosi untuk membalas dendam ataukah untuk memecahkan masalah? Anda tidak bisa melakukan dua-duanya.

Banyak orang enggan menunjukkan belas kasihan karena mereka tidak paham perbedaan antara kepercayaan dan pengampunan. Pengampunan adalah melepaskan masa lalu. Kepercayaan berkaitan dengan perilaku masa depan. Pengampunan haruslah segera, entah seseorang memintanya atau tidak. Kepercayaan harus dibangun kembali bersama waktu. Kepercayaan membutuhkan catatan kinerja.

Jika seseorang melukai Anda berulang-ulang, Anda diperintahkan oleh Allah untuk mengampuninya segera, tetapi Anda tidak diharapkan untuk mempercayai mereka segera, dan Anda tidak diharapkan untuk terus membiarkan mereka melukai hati Anda. Mereka harus membuktikan bahwa mereka telah berubah bersama waktu.

 

 

 

Sumber : diadaptasi dari Buku The Purpose Driven Life – Bab 18 “Menjalani Kehidupan Bersama-sama”

Arti kata koinonia menurut Wikipedia adalah anglikisasi dari kata Yunani (κοινωνία) yang berarti persekutuan dengan partisipasi intim. Kata ini sering digunakan dalam Perjanjian Baru dari Alkitab untuk menggambarkan hubungan dalam gereja Kristen perdana serta tindakan memecahkan roti dalam cara yang ditentukan Kristus selama perjamuan Paskah [Yohanes 6:48-69, Matius 26: 26-28, 1 Korintus 10:16, 1 Korintus 11:24]. Akibatnya kata tersebut digunakan dalam Gereja Kristen untuk berpartisipasi, seperti kata Paulus, dalam Persekutuan – dengan cara ini mengidentifikasi keadaan ideal persekutuan dan masyarakat yang harus ada – Komuni (persekutuan).

Sementara, dalam Alkitab versi Bahasa Inggris, kata persekutuan diterjemahkan sebagai kata fellowship (persahabatan) dan menurut Google Translate artinya adalah friendly association, especially with people who share one’s interests.

“Stop worrying and start living”

Arti kata khawatir menurut KBBI online adalah khawatir / kha·wa·tir/ takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti. Sedangkan menurut Google Translate, kata khawatir diterjemahkan dalam kata worry : a state of anxiety and uncertainty over actual or potential problems.

Beberapa bulan belakangan aku kembali diingatkan (Tuhan mengingatkan aku melalui orang-orang, buku, khotbah, sharing teman-teman, yang Dia pakai sebagai alat) untuk memberikan persembahan persepuluhan ke gereja. Dan setelah beberapa bulan diingatkan, bahkan terus diingatkan, aku masih gagal untuk mendisiplinkan diri tidak bergantung pada materi, tapi bergantung pada Sang Pemilik Kehidupan.

Tapi, Hari Minggu kemarin (17 September 2017) aku mencoba belajar disiplin dan taat, walaupun sebenarnya persembahan yang aku bawa ke gereja belum benar-benar sepersepuluh dari “pendapatanku”. Tapi, jumlahnya cukup “bikin mikir” anak kosan di tengah bulanlah, hahaha. Intinya bukan seberapa besarnya persembahan, di sini aku mau belajar memberi dengan kerelaan hati, taat, disiplin dan tidak khawatir.

“Bawalah sepersepuluhanmu seluruhnya ke Rumah-Ku supaya ada makanan berlimpah di sana. Ujilah Aku, maka kamu akan melihat bahwa Aku membuka pintu-pintu surga dan melimpahi kamu dengan segala yang baik.” – Maleakhi 3 : 10 (BIS)

Jikalau umat itu akan bertobat, kembali kepada Allah, dan sebagai tanda pertobatan, mulai mendukung pekerjaan Allah dan hamba-hamba-Nya dengan persepuluhan dan persembahan mereka, Allah akan memberkati mereka dengan kelimpahan. Allah mengharapkan umat-Nya menunjukkan kasih dan pengabdian mereka kepada-Nya dan pekerjaan-Nya dengan memberikan persepuluhan dan persembahan untuk memperluas kerajaan-Nya.
(lihat art. PERSEPULUHAN DAN PERSEMBAHAN). Berkat-berkat yang menyertai kesetiaan dalam memberi dari uang kita akan dinikmati saat ini dan juga dalam kehidupan di akhirat.

“Beriman dan Berotak.” – Lupa Siapa yang Pernah Bilang

Ya, selain belajar beriman bahwa semuanya bukan bersumber dari materi, tapi beriman kepada Sang Pemilik Kehidupan, aku juga harus berotak, hahaha. Maksudnya, dengan uang bulanan yang sudah terpotong persembahan khusus itu, aku harus hemat. Tapi, percaya atau tidak, pemeliharaan Tuhan itu nyata! Dia bisa pakai siapa saja yang Dia mau, entah orang terdekat seperti keluarga atau bahkan orang lain yang ga terlalu dekat atau bahkan ga pernah terpikirkan Tuhan pakai mereka untuk “memelihara”.

  1. Sabun mandi, pasta gigi di kosan sudah habis. Waktu itu belanja sama Rico, setelah pulang beli kado untuk Egia (pacarnya, cie…wkwk). Sampai di kasir, tak disangka, tak dinyana pemeliharaan Tuhan itu nyata! Rico menolak untuk kukasih uang yang seharusnya kubayarkan atas sabun mandi, pasta gigi dan tissue basah yang aku beli. Alasannya “Ya udah, ga usah, kan elu udah nemeinin beli kado.”
  2. Si Egia udah 2x ngajak main. Yang pertama mendadak banget, aku ga bisa. Sampe akhirnya dia ngajak untuk kedua kalinya. Awalnya mikir sih, duit udah nipis, tapi ya ga enak udah ngajak 2x masa ga dipenuhin. Keinget aja kata-kata bokap “Bikin orang lain seneng juga kan pahala”, hahaha. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Sekali lagi, tak disangka, tak dinyana pemeliharaan Tuhan itu nyata! Malam itu kami makan dan Egia mentraktirku, karena beberapa hari yang lalu dia ulang tahun.
  3. Tetiba nyokap minta dibeliin laser pointer untuk presentasi hasil penataran. Beliau kirim uang “lebih”, lebih ya bukan berlebih, hehe. Jumlahnya sesuai dengan kebutuhan harga laser pointer, tapi ada lebihannya sedikit, yang seenggaknya bisa nopang hidupku menuju akhir bulan, hahaha.

See? Pemeliharaan Tuhan itu nyata! Apa yang harus aku khawatirkan? Do your best and let God do the rest. Kalau tiap-tiap hari aja Tuhan sanggup memelihara, kenapa harus khawatir akan hari esok, yang mana Tuhan sudah lebih dulu ada di sana? Semoga sharingku ini berkah ya 😀 hehe.

“Stop worrying and start living.” – Dale Carnegie

The Greatest Gift is Time

Seluruh kehidupan berkisar kasih.

Belajar mengasihi tanpa mementingkan diri sendiri bukan pekerjaan mudah. Hal ini bertentangan dengan sifat kita yang mementingkan diri sendiri. Itulah sebabnya kita diberi waktu seumur hidup untuk mempelajarinya.

Kasih tidak dapat dipelajari dalam keterasingan. Kita harus berada di sekitar orang-orang, yaitu orang-orang yang menjengkelkan, yang tidak sempurna, dan yang mengecewakan.

Kasih seharusnya jadi prioritas utama, tujuan utama, dan ambisi terbesar kita. Kasih bukanlah bagian yang baik dari kehidupan kita, tetapi kasih merupakan bagian terpenting.

Belajar mengasihi dapat diwujudkan melalui sebuah hubungan. Dan kesibukan adalah musuh terbesar bagi hubungan. Tujuan hidup adalah belajar mengasihi, yaitu mengasihi Allah dan sesama. Kehidupan tanpa kasih sama dengan nihil.

Kasih meninggalkan suatu warisan. Bagaimana kita memperlakukan orang lain, bukan kekayaan atau keberhasilan. Seperti kata Bunda Teresa, “Bukan apa yang Anda kerjakan, melainkan seberapa besar kasih yang Anda curahkan pada pekerjaan itulah yang penting.” Kasih adalah rahasia warisan kekal.

Ketika kehidupan di dunia berakhir, manusia tidak minta dikelilingi oleh benda-benda. Yang kita ingin ada di sekeliling kita adalah orang-orang, yakni orang-orang yang kita kasihi dan yang dengan mereka kita memiliki hubungan.

Pada saat-saat terakhir kita, kita semua menyadari bahwa hubungan sangat penting dalam kehidupan. Bijaksanalah orang yang mempelajari kebenaran tersebut lebih awal dan tidak terlambat. Jangan menunda sampai mendekati ajal baru kita memahami bahwa tidak ada yang lebih penting dari hubungan.

Salah satu cara Allah mengukur kedewasaan rohani adalah dengan kualitas hubungan kita. Allah akan meninjau bagaimana kita memperlakukan orang lain, khususnya orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Waktu merupakan pemberian yang paling berharga. Kita bisa membuat banyak uang, tetapi kita tidak bisa membuat lebih banyak waktu. Ketika kita memberikan seseorang waktu yang kita punya, kita sedang memberi mereka satu bagian dari kehidupan kita yang tidak akan pernah kita dapatkan kembali. Waktu kita adalah kehidupan kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa pemberian terbesar yang bisa kita berikan kepada seseorang adalah waktu kita.

Tidaklah cukup untuk hanya mengatakan hubungan itu penting; kita harus membuktikannya dengan menginvestasikan waktu di dalam hubungan. Karena hubungan membutuhkan waktu dan usaha.

Inti dari kasih bukanlah apa yang kita pikirkan atau kerjakan atau berikan kepada orang lain, melainkan seberapa banyak kita memberikan diri kita sendiri. Pemberian karena kasih yang paling diinginkan bukanlah permata atau bunga mawar atau cokelat, melainkan perhatian yang terfokus. Karena begitu terpusat pada orang lain sehingga kita melupakan diri kita sendiri pada saat tersebut.

Kapanpun kita memberikan waktu kita, sebenarnya kita sedang membuat suatu pengorbanan, dan pengorbanan ialah inti dari kasih. Kita bisa memberi tanpa mengasihi, tetapi kita tidak mungkin mengasihi tanpa memberi. Dan waktu yang terbaik untuk mengasihi adalah sekarang. Karena kita tidak tahu berapa lama kita akan memiliki kesempatan itu.

Kehidupan paling baik dijalani dengan kasih. Kasih paling baik diekspresikan dengan waktu. Waktu terbaik untuk mengasihi ialah sekarang.

“Allah, apapun yang aku kerjakan hari ini, aku ingin memastikan bahwa aku menggunakan waktu untuk mengasihi-Mu dan mengasihi orang lain, karena inilah inti kehidupan. Aku tidak ingin menyia-nyiakan hari ini.”
– Rick Warren

“Jika kau mempunyai kemampuan untuk berbuat baik kepada orang yang memerlukan kebaikanmu, janganlah menolak untuk melakukan hal itu. Janganlah menyuruh sesamamu menunggu sampai besok, kalau pada saat ini juga engkau dapat menolongnya.”
– Amsal 3 : 27-28 (BIS)

 

 

 

Sumber : diadaptasi dari Buku The Purpose Driven Life  – Bab 16 “Hal Yang Paling Penitng”

Bandung : Paris van Java

Bandung

“Dan Bandung, bagiku, bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan” -Pidi Baiq

Kekeluargaan: perasaan diterima apa adanya, perasaan memiliki keluarga baru, perasaan memiliki rumah kedua, perasaan selalu ingin kembali ke Bandung, perasaan enggan untuk meninggalkan Bandung

Perpisahan: Kamu yang pernah meninggalkan,
akhirnya tahu bagaimana rasanya ditinggalkan.

Kehilangan: Mengapa demikian? Di mana salahnya? Waktu!
Benar, aku dan dia tidak berada dalam waktu yang sama ketika menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi dalam hati ini.

Pembentukan: Kamu yang pernah mengajarkanku bagaimana merindukanmu,
tetapi tidak pernah mengajarkanku bagaimana melupakanmu.

Kepenatan: Yang awalnya nampak penuh harapan,
semakin lama, rasanya semakin tak ada tujuan dan kehilangan harapan.

Bersyukur: Meskipun demikian,
Engkau berikan kesempatan untuk selalu bersyukur kepadaMu atas segala sesuatu.

Jesus Be The Center!

Minggu, 30 Oktober 2016

Bersyukur, sangat bersyukur kalau aku bisa ikut Rapat Kerja (RaKer) Pengurus PMK TES 2016/2017. Di RaKer tahun ini aku ambil bagian dalam pelayanan sebagai gitaris. Dari apa yang bisa kuberikan sebagai wujud rasa syukurku atas talenta yang sudah Tuhan percayakan, bahkan di tengah-tengah kondisi thesis yang lagi mandeg, karena bisa aja kujadikan alasan untuk menolak pelayanan, Tuhan kasih berkat melimpah, ga sebanding dengan apa yang bisa kukembalikan. Serius! Tak ada sesuatu yang kebetulan. Aku ambil waktu untuk “berhenti sejenak” dari hiruk pikuk di kota Bandung, aku pergi ke pinggiran Kabupaten Bandung Barat, di atas rimbunnya Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, ke daerah Maribaya Lembang untuk ikut RaKer.

Kemarin aku diingatkan kembali oleh Bunda yang menjadi pembicara di Ibadah Minggu. “Jesus Be The Center”. Dia adalah Tuhan. Dia adalah Tujuan. Dia adalah Teladan. Hanya Dialah satu-satunya yang seharusnya menjadi poros roda kehidupan, pusat kehidupan. Terima kasih bunda, sudah menyampaikan isi hatiNya, tepat sasaran. Dan bahkan lagu “Jesus Be The Center” adalah salah satu lagu yang kami bawakan di sesi Ibadah Penutup. Dan sepertinya lagu ini akan jadi “Song of The Year” buat aku pribadi, hihi.

Jesus Be The Center, kita harus benar-benar mengikuti teladan Tuhan Yesus, di mana dia telah mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang hamba. Kita juga harus mengosongkan diri kita, menanggalkan jubah keegoisan kita, dan membiarkan Tuhan menjadi tuan atas hidup kita, mengendalikan seluruh kehidupan kita.

Selain Bunda, aku juga diingatkan oleh bang Eristiar, WL di satu tim pelayan altar di RaKer. Kehidupan doa sangat penting untuk membentengi kehidupan ini. Walaupun doa tak kelihatan, tapi doa ampuh membentengi kita dari yang tak kelihatan juga. Kehidupan doa rusak, otomatis kehidupan nyata juga rusak; rusak bukan dari hal yang kasat mata. Bisa saja di luar nampak (seolah) baik, tapi (sebenarnya) di balik itu semua tidak baik.


Senin, 31 Oktober 2016

Renungan Harian
Bacaan: Roma 1:16-17

Sola Fide
Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. (1 Korintus 3:11)

Hari ini kita memperingati Hari Reformasi Gereja. Pada 31 Oktober 1517 Martin Luther menempelkan 95 dalil di pintu gereja Wittenberg, Jerman. Ada 3 kata kunci yang melekat pada tindakan reformasi ini: Sola Fide (Hanya melalui Iman), Sola Gratia (Hanya oleh Anugerah) dan Sola Scriptura (Hanya Alkitab): “Manusia diselamatkan oleh iman akan anugerah Allah yang diproklamasikan dalam Alkitab.”

Berdasarkan perenungan atas Roma 1:16-17, Luther menemukan saripati teologi Paulus bahwa yang menghadirkan keselamatan bukanlah segala macam perbuatan baik dan ritus gereja, melainkan iman akan anugerah Allah yang membenarkan kita. Orang berdosa yang percaya akan Injil menjadi orang benar karena dijadikan benar. Manusia adalah simul justus et peccator: orang yang berdosa, namun sekaligus dibenarkan. Benar bukan karena usaha sendiri, melainkan karena rahmat, gratia.

Tak sepatutnya kita hidup berleha-leha, manja, dan tak waspada, apalagi meremehkan kasih Allah yang membenarkan tadi. Dari pihak manusia diperlukan iman yang merespons anugerah pembenaran itu. Iman bukan sekadar percaya, namun “mempercayakan diri seutuhnya kepada”. Iman adalah hati yang bulat menyambut anugerah Allah dan memasrahkan segenap diri pada kasih setia Allah.

Ada orang yang mengaku beriman, namun hatinya dingin, bahkan beku. Beku pada Allah, beku pada Firman, dan beku pada janji anugerah. Hatinya bagai es. Kita perlu waspada, agar hati kita senantiasa terbuka untuk digenangi rahmat dan giat menyambutnya. Betapa hangat! –DKL/Renungan Harian

ANUGERAH ALLAH SELALU CUKUP BAGI KITA YANG LEMAH.

Terima kasih Tuhan kalau sampai di usia 27 tahun ini, aku masih bisa merasakan pemulihan dari Engkau, langsung melalui orang-orang yang Engkau percayakan untuk menyampaikannya. Pemulihan tidak hanya fisik (dari batuk flu) tapi juga jiwa.

“Iman bukan sekadar percaya, namun “mempercayakan diri seutuhnya kepada“. Iman adalah hati yang bulat menyambut anugerah Allah dan memasrahkan segenap diri pada kasih setia Allah.” Ya, sudah seharusnya jika “Jesus Be The Center”, akan otomatis “mempercayakan diri seutuhnya kepada” Tuhan Yesus. Sekali lagi terima kasih untuk caraMu yang luar biasa menegurku untuk tidak hanya tumbuh ke samping, tapi juga tumbuh ke “atas” dan terus berakar ke “bawah”.

Yang Sedang Ber-Hari Syukur,

(Adniw Irasnahitsirk)

Aku Siap Menggembalakan Domba-DombaMu

EDO_4793 (Fm).JPG

Calon Pemimpin Kelompok Kecil 2016 PMK TES

Udah mau nulis dari kapan tahu, tapi apa daya final report dan Ujian Akhir Semester menanti dan urgent untuk dikerjakan lebih dulu. Oke, sekarang aku mau bagikan apa yang kudapat di sesi 5, sesi puncak yang mengangkat tema dari Vision Camp 2016. Sekali lagi aku bersyukur kalau masih punya kesempatan untuk terlibat dalam pelayanan di Vision Camp (VC) 2016. Terlebih aku bersyukur untuk sesi 5 yang bisa kuikuti, sesi ini dibawakan oleh Bunda Marietta, yang adalah dosen agamaku (dulu) dan sampai sekarang juga beliau masih mengajar di Telkom University.

Mau tau apa aja yang kudapat dari sesi ini? Simak ya, hihi.


Sesi 5 Vision Camp 2016 – oleh Bunda Marietta Simanjuntak
Tema: Motivasi Yang Benar Dalam Pemuridan
Judul: Aku Siap Menggembalakan Domba-DombaMu
1 Petrus 5 : 2

Motivasi adalah dorongan untuk mencapai tujuan.

Motivasi, bisa membuat orang menjadi:

  • hati-hati
  • masa bodoh

dengan tujuan yang ingin dia capai.

Tujuan menjadi seorang Pemimpin Kelompok Kecil (PKK) adalah membina Adik-Adik Kelompok Kecil (AKK) menjadi serupa Kristus, bukan hanya sebagai seorang “penggemar” tapi pengikut, bukan hanya sebagai seorang pengikut tapi murid, murid yang dimuridkan melalui proses pemuridan.

Menggembalakan adalah menggiring domba sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, bukan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dalam konteks pemuridan, menggembalakan domba berarti membawa AKK yang sudah Tuhan percayakan kepada kita untuk sampai kepada pengenalan akan Kristus dan menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Menjadi seorang PKK merupakan anugerah, karena tidak semua orang diberikan kesempatan untuk membawa jiwa kepada Tuhan. Tapi, hanya orang-orang yang bersedia menjawab “YA”, itulah yang menerima anugerah tersebut. Tapi, ingat! Kita punya tanggung jawab kepada Tuhan atas setiap jiwa yang sudah Tuhan percayakan. Akan dituntut pertanggungjawaban dari kita nantinya.

“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.” (1 Petrus 5:2)

  • Kawanan domba MILIK ALLAH
  • JANGAN dengan PAKSA
  • JANGAN mencari KEUNTUNGAN (Yehezkiel 34)
  • PengABDIan DIRI (Mazmur 23:6)

Pada akhirnya, motivasi yang benar dalam pemuridan adalah

  1. Hanyalah untuk Tuhan (Kolose 3:23)
  2. Untuk kemuliaan Tuhan (Yohanes 3:30)
  3. Pengabdian kepada Tuhan (Lukas 17:10)

Soli deo Gloria
Jangan lupa dijaga kandungannya ya, dek 🙂