Koinonia = Fellowship

Kehidupan dimaksudkan untuk dibagikan. Allah memaksudkan agar kita menjalani kehidupan bersama-sama. Alkitab menyebutkan pengalaman bersama ini sebagai persekutuan. Namun, sekarang kata ini telah kehilangan sebagian besar makna alkitabiahnya.

Persekutuan yang sesungguhnya jauh lebih dari sekedar muncul pada kebaktian. Persekutuan yang sesungguhnya adalah menjalani kehidupan bersama-sama. Persekutuan termasuk mengasihi dengan tidak mementingkan diri sendiri, berbagi pengalaman dengan jujur, melayani secara praktis, memberi dengan berkorban, menghibur dengan penuh simpati, dan semua perintah “saling” lainnya yang terdapat dalam Perjanjian Baru.

Apa perbedaan antara persekutuan yang sejati dengan yang palsu?

Dalam persekutuan yang sejati, orang mengalami otentisitas.
Persekutuan yang otentik bukan obrolan basa-basi yang dangkal. Persekutuan tersebut merupakan tindakan berbagi pengalaman secara sungguh-sungguh dari hati ke hati, kadang-kadang sampai tingkat yang paling dalam. Persekutuan yang otentik terjadi ketika orang-orang bersikap jujur mengenai siapa mereka dan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan mereka.

Hanya bila kita terbuka tentang kehidupan kita barulah kita mengalami persekutuan yang sejati. Bersifat otentik membutuhkan keberanian dan kerendahan hati. Kita hanya bisa bertumbuh dengan cara mengambil risiko, dan risiko yang paling sulit dari semuanya adalah bersikap jujur terhadap diri kita sendiri dan orang lain.

Dalam persekutuan yang sejati, orang-orang mengalami simpati.
Simpati bukanlah memberikan nasihat atau menawarkan bantuan cepat yang basa-basi; simpati adalah masuk dan turut merasakan penderitaan orang lain. Simpati memenuhi dua kebutuhan dasar manusia : kebutuhan untuk dipahami dan kebutuhan agar perasaan-perasaan kita diterima. Setiap kali kita memahami dan menerima perasaan-perasaan seseorang, kita membangun persekutuan.

Ada tingkat-tingkat yang berbeda dari persekutuan, dan masing-masing tingkat cocok untuk segala waktu. Tingkat paling sederhana dari persekutuan adalah persekutuan untuk berbagi pengalaman dan persekutuan untuk mempelajari Firman Allah. Tingkat yang lebih dalam adalah persekutuan untuk melayani, seperti ketika kita melayani bersama-sama dalam perjalanan misi atau proyek kasih. Tingkat yang paling dalam dan kuat adalah persekutuan dalam penderitaan, di mana kita masuk ke dalam setiap penderitaan dan dukacita orang lain dan saling menanggung beban.

Dalam persekutuan yang sejati orang-orang memperoleh belas kasihan.
Persekutuan adalah tempat kasih karunia, di mana kesalahan tidak diungkit-ungkit tetapi dihapuskan. Persekutuan terjadi ketika belas kasihan menang atas keadilan. Kita semua membutuhkan belas kasihan, karena kita semua tersandung dan jatuh serta membutuhkan pertolongan untuk kembali ke jalur. Kita perlu saling memberikan belas kasihan dan bersedia menerima dari orang lain.

Kita tidak bisa memiliki persekutuan tanpa pengampunan. Allah memperingatkan, “Janganlah menaruh dendam.” (Efesus 3 : 13) karena kebencian dan dendam selalu menghancurkan persekutuan. Karena kita adalah orang-orang berdosa yang tidak sempurna, kita pasti saling melukai bila kita bersama-sama untuk waktu yang cukup lama. Kadang-kadang kita saling melukai dengan sengaja dan kadang dengan tidak sengaja, tetapi sengaja atau tidak, dibutuhkan banyak belas kasihan dan kasih karunia untuk menciptakan dan memelihara persekutuan.

Belas kasihan Allah kepada kita adalah motivasi untuk menunujukkan belas kasihan kepada orang lain. Ingat, Anda tidak akan pernah diminta untuk mengampuni orang lain lebih dari Allah yang telah mengampuni kita. Kapanpun hati Anda dilukai oleh seseorang, Anda memiliki pilihan untuk diambil : akankah saya menggunakan tenaga dan emosi untuk membalas dendam ataukah untuk memecahkan masalah? Anda tidak bisa melakukan dua-duanya.

Banyak orang enggan menunjukkan belas kasihan karena mereka tidak paham perbedaan antara kepercayaan dan pengampunan. Pengampunan adalah melepaskan masa lalu. Kepercayaan berkaitan dengan perilaku masa depan. Pengampunan haruslah segera, entah seseorang memintanya atau tidak. Kepercayaan harus dibangun kembali bersama waktu. Kepercayaan membutuhkan catatan kinerja.

Jika seseorang melukai Anda berulang-ulang, Anda diperintahkan oleh Allah untuk mengampuninya segera, tetapi Anda tidak diharapkan untuk mempercayai mereka segera, dan Anda tidak diharapkan untuk terus membiarkan mereka melukai hati Anda. Mereka harus membuktikan bahwa mereka telah berubah bersama waktu.

 

 

 

Sumber : diadaptasi dari Buku The Purpose Driven Life – Bab 18 “Menjalani Kehidupan Bersama-sama”

Arti kata koinonia menurut Wikipedia adalah anglikisasi dari kata Yunani (κοινωνία) yang berarti persekutuan dengan partisipasi intim. Kata ini sering digunakan dalam Perjanjian Baru dari Alkitab untuk menggambarkan hubungan dalam gereja Kristen perdana serta tindakan memecahkan roti dalam cara yang ditentukan Kristus selama perjamuan Paskah [Yohanes 6:48-69, Matius 26: 26-28, 1 Korintus 10:16, 1 Korintus 11:24]. Akibatnya kata tersebut digunakan dalam Gereja Kristen untuk berpartisipasi, seperti kata Paulus, dalam Persekutuan – dengan cara ini mengidentifikasi keadaan ideal persekutuan dan masyarakat yang harus ada – Komuni (persekutuan).

Sementara, dalam Alkitab versi Bahasa Inggris, kata persekutuan diterjemahkan sebagai kata fellowship (persahabatan) dan menurut Google Translate artinya adalah friendly association, especially with people who share one’s interests.

Advertisements

Bandung : Paris van Java

Bandung

“Dan Bandung, bagiku, bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan” -Pidi Baiq

Kekeluargaan: perasaan diterima apa adanya, perasaan memiliki keluarga baru, perasaan memiliki rumah kedua, perasaan selalu ingin kembali ke Bandung, perasaan enggan untuk meninggalkan Bandung

Perpisahan: Kamu yang pernah meninggalkan,
akhirnya tahu bagaimana rasanya ditinggalkan.

Kehilangan: Mengapa demikian? Di mana salahnya? Waktu!
Benar, aku dan dia tidak berada dalam waktu yang sama ketika menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi dalam hati ini.

Pembentukan: Kamu yang pernah mengajarkanku bagaimana merindukanmu,
tetapi tidak pernah mengajarkanku bagaimana melupakanmu.

Kepenatan: Yang awalnya nampak penuh harapan,
semakin lama, rasanya semakin tak ada tujuan dan kehilangan harapan.

Bersyukur: Meskipun demikian,
Engkau berikan kesempatan untuk selalu bersyukur kepadaMu atas segala sesuatu.

Kaleidoskop: A Blessed 2014

Setiap proses pembentukan yang terjadi di tahun 2014 merupakan proses yang berat, tapi bukanlah proses yang mustahil untuk dijalani. Setidaknya ada tiga fase besar yang terjadi tahun ini.

  1. Fase Pertama adalah masa di mana kata “semangat” menjadi kata yang lebih sering didengar dan diucapkan, namun justru kata “menyerah” yang lebih sering dilakukan.
  2. Fase Kedua adalah masa di mana segala jenis bentuk “semangat” yang hanya diucapkan di Fase Pertama, diubah menjadi kata yang harus dilakukan.
  3. Fase Ketiga adalah masa di mana “semangat” itu berubah menjadi “sukacita”.

Ketiga fase ini, secara garis besar, menggambarkan tentang perjuanganku menyelesaikan studi di batas akhir masa studiku. Namun, di tengah-tengah perjuangan itu, Tuhan tidak hanya mengizinkan proses yang sulit untuk disyukuri, tapi Tuhan juga izinkan aku mengalami banyak sekali proses yang mengajarkanku untuk bersyukur atas hadirnya setiap pengembara dalam kehidupanku selama 2014 ini.

Januari – Mei 2014: Fase Pertama

IMG_20141224_095547

Di fase pertama ini, aku mengalami pasang-surut semangat dalam mengerjakan Tugas Akhir (TA) ku. Aku mengambil judul TA “Sistem Penjurusan SMA dengan Menggunakan Metode Fuzzy Multi Criteria Decision Making (FMCDM)”. Sebenarnya, (seharusnya) aku sudah bisa menyelesaikan TA ku ini sejak 3 semester yang lalu. Kendala terbesar bagiku pribadi dalam menyelesaikan TA adalah mengalahkan keegoisan diriku dalam kemalasan. Sebenarnya banyak faktor yang menimbulkan kemalasan ini. Beberapa kali aku menemukan permasalahan dalam metode, aku sudah cari beberapa jurnal referensi, bahkan jurnal internasional juga, tak banyak memberikan penjelasan dalam menentukan bobot bilangan fuzzy (yang ga ngerti, anggep aja, pura-pura ngerti yak, hihihi). Setiap kali menemukan permasalahan, aku tidak terlalu banyak berusaha untuk bertanya, hanya memendamnya sendiri. Alhasil, aku tenggelam dalam permasalahanku dan akhirnya malas untuk mengerjakan TA.

Aku sudah sampai mengambil SKS matakuliah TA 1 sampai tiga kali (yang anak IF pasti ngerti kenapa sampe kudu ambil tiga kali, wkwkwk), sudah sampai tiga kali seminar proposal TA (dengan topik yang sama,  tentang penjurusan SMA), sudah ganti judul TA sebanyak tiga kali, sudah lulus matakuliah TA 1 sebanyak tiga kali, dan dengan demikian itu berarti aku juga sudah ganti calom pembimbing TA sebanyak tiga kali (pertama: Ibu RIE dan Bpk ERW, kedua: Bpk MHD dan Ibu APK dan ketiga: Bpk EKD dan Kak BYM).

Di semester yang baru, dosen pengampu matakuliah TA 1 ku adalah Bpk COK, aku bimbingan proposal dengan beliau bersama teman seperjuanganku VIE. Pak COK menyarankan untuk mencari SMA yang dijadikan sebagai studi kasus yang memiliki tiga jurusan, karena menurut beliau, metode yang kugunakan terlalu mubazir jika digunakan untuk mengolah data penjurusan SMA dengan dua jurusan. Alhasil, sejak bulan Januari sampai bulan Maret 2014, semangat itu muncul lagi. Aku sibuk mencari data yang akan kujadikan sebagai bahan studi kasus dari TA ku. Aku menghubungi temanku DMS, aku ingat bahwa ibunya bekerja di Dinas Pendidikan Kota Bandung. Aku meminta bantuannya untuk menanyakan SMA mana saja di kota Bandung yang memiliki tiga jurusan. Namun, proses pencarian data tersebut tidak semudah yang dibayangkan. Ternyata, aku harus membuat surat pengantar dari kampus untuk minta data ke Pemerintah Kota, kemudian akan dibuatkan surat pengantar dari PemKot untuk ambil data ke DisDik, setelah itu aku baru dapat data SMA mana saja di Bandung yang punya tiga jurusan. Aku dikejar waktu, rencana awal aku berharap bisa menyelesaikan TA di semester genap Tahun Ajaran 2013/2014. Namun, Tuhan berkata lain. Ternyata Dia mau ajarkan banyak hal di 2014 ini, khususnya dalam memperjuangkan TA. Dari segi waktu tidak memungkinkan, kenapa? Karena setelah dapat data dari DisDik, aku harus kunjungi setiap SMA tersebut untuk menanyakan proses penjurusan yang ada di SMA tersebut secara lebih detail. Dan, datang ke SMA tidak dengan tangan kosong, aku harus membawa surat keterangan dari kampus. Pembuatan surat keterangan dari kampus setidaknya membutuhkan waktu 2-3 hari. Bisa dibayangkan berapa waktu yang kubutuhkan hanya untuk menunggu surat keterangan, supaya bisa “datang” ke SMA tersebut?

Bersyukurnya, DisDik memberitahukan bahwa SMA di Bandung yang memiliki tiga jurusan ada empat, yaitu SMA Negeri 7 Bandung (di Jalan Lengkong Kecil, ga terlalu jauh dari Dayeuh Kolot), SMA Negeri 10 Bandung (di Jalan Cikutra, lumayan sejauh dari Bandung Selatan ke Bandung Timur), SMA Santa Angela (di Jalan Merdeka, enak nih di kota, bisa sekalian jalan-jalan, haha) dan SMA Negeri 15 Bandung (di Jalan Sarimanis, Sukajadi, ahlamak! Bayangin jalan ke sananya aja udah males, sejauh dari Bandung Selatan ke Bandung Utara). Tapi, yang namanya lagi semangat, sejauh apapun dijalani. Ga ada kendaraan, diusahain minjem motor, bahkan sewa motor. Terima kasih buat APPA (buat “Aurora”nya), MPPA (buat “Motor Bersama”nya), MYB (buat “Mio Hejo”nya), MS (buat alm.”Shadow”nya 😥 hiks), dan juga teman-teman serta motor-motor yang lain, yang sudah membantu saya mengantarkan setiap kali butuh motor untuk mempercepat mobilisasi.

Surat keterangan untuk mencari data TA dari kampus sudah ada, kendaraan untuk mobilisasi sudah ada, niat dan semangat untuk mencari data TA sudah ada, akhirnya aku mulai melangkahkan kaki untuk mengunjungi empat SMA tersebut. Aku ditemani oleh seorang temanku yang bersedia menemani dan membantu untuk mengumpulkan data TA, yaitu DMS. Tak jarang juga aku harus pergi sendiri, karena DMS ada kegiatan lain. “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.” Empat SMA yang ada tidak memenuhi syarat untuk kujadikan studi kasus. Ada beberapa variabel yang harus ada supaya data penjurusan layak dijadikan sebagai studi kasus, di antaranya: Nilai Akademik, Hasil Psikotes dan Kuisioner Minat Siswa. Dan aku perlu data satu atau dua angkatan, tidak dapat menggunakan sampel, karena aku buat sistem, bukan hanya sekedar analisis.

SMA Negeri 7 Bandung

Beberapa kali aku mengunjungi SMA ini, karena di awal aku hanya bertemu dengan Wakil Kepala Sekolah, di Bidang Kurikulum. Aku memberikan surat pengantar dari kampus, menjelaskan tujuanku dan akhirnya beliau setuju dan memperbolehkanku untuk mengambil data. Hanya, masalahnya adalah SMA ini sedang renovasi, sehingga untuk mengumpulkan data agak sulit. Data Nilai Akademik bisa diusahakan oleh beliau, namun masalahnya adalah data Hasil Psikotes tidak lengkap, bahkan oleh salah seorang guru BK data sudah dibuang, “Udah dibuang, abis numpuk di sini, jadi sarang nyamuk” (what? itu data belum ada 5 tahun, kok udah dibuang bu? 😥 aku yang sedih malah, hiks). Dan pada akhirnya, aku hanya mendapatkan fotokopi-an data hasil psikotes yang masih ditulis tangan untuk dua kelas. Nilai Akademik? Ga jadi aku minta, karena sudah ketahuan tidak lengkap.

SMA N 7 Bandung :’)

SMA Negeri 10 Bandung

Cerita di SMA ini beda lagi. Pertama kali aku datang ke sini, aku langsung ketemu sama Wakil Kepala Sekolah, di Bidang Kurikulum. Sama seperti di SMA N 7 Bandung, beliau menyetujui, hanya beliau mendelegasikan proses selanjutnya ke bagian BK. Hari pertama aku ke sana, Ibu Koordinator BK tidak ada, akhirnya aku menitip pesan kepada salah seorang guru BK di sana. Hari kedua ke sana, aku bertemu dengan Ibu Koordinator BK. Ibu ini baik banget. Aku menjelaskan tujuanku, beliau menanggapi secara positif. Namun, kondisi sekolah sedang sibuk UTS dan mempersiapkan para murid untuk Try Out SNMPTN. Salah satu hal yang menghiburku setiap datang ke sekolah ini adalah, banyak wejangan yang beliau berikan, walaupun pada akhirnya aku juga tidak dapat data dari SMA ini.

“Topiknya bagus. Tapi, kalo butuhnya data historis, berarti saya harus hubungi Tim SIM (Sistem Informasi Manajemen), sementara sekarang lagi sibuk ngolah nilai UTS dan persiapan SNMPTN, saya ga mau ganggu Tim SIM” (bujubuneng, bu..kalo udah ada Tim SIM, nyarinya tinggal Ctrl+F deh kayanya :’) sesusah apa sih? mungkin ibu ini kira harus bongkar file hardcopy di gudang kali). “Dengan kondisi kaya gini, gimana? Coba tanya pembimbingnya, mungkin ga kalo datanya diganti, kalo data yang sekarang kelas X mungkin saya bisa bantu, Insya Allah, tapi bukan penjurusan, sekarang namanya peminatan (di kelas X sudah dipisah antara IPA, IPS dan Bahasa). Kalo ga mungkin datanya diganti, mungkin ga judulnya diganti?” (Buuuuu..di IF ga semudah itu ganti judul, saya udah seminar, kalo ganti judul berarti saya ngulang matakuliah TA 1). “Iya, kalo kamu ke sininya semester lalu mungkin kami bisa bantu, sebelum sibuk persiapan SNMPTN, bulan-bulan Desember (2013) gitu.” (iya, bu..salah saya juga baru semangat di awal 2014 ini buat cari data :’) hehe). “Ya, namanya proses ya. Semangatlah.”

SMA N 10 Bandung :’)

SMA Negeri 15 Bandung

Di SMA ini lebih unik lagi, hihi. Sama seperti di dua SMA sebelumnya, Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum menyambut baik dan setuju, masalah selanjutnya adalah di Koordinator BK. Hari pertama aku ke sana hanya ketemu WaKaSek, Ibu Koordinator BK sedang ikut seminar. Hari berikutnya ke sana, beliau sakit. Hari ketiga ke sana baru ketemu. Ini sekolah yang terjauh, di Sarimanis, Sukajadi, Maranatha ke atas lagi. Ampun DJ! ahahaha. Demi TA, semua diusahakan. Setelah ketemu sang Ibu, menjelaskan tujuanku, beliau minta waktu untuk mencari data yang kubutuhkan. Data Nilai Akademik: minta ke TU yah. Aku dan DMS mengcopy data dengan cara menyalin ulang satu demi satu, tiap siswa, karena data tidak bisa difotokopi, tapi sampe akhirnya boleh dipinjem, jadi aku bisa salin di kosan. DMS bantu juga untuk input data, makasih ya Din 😉 Tapi masalahnya adalah, data nilai masih ada yang dipegang wali kelas, jadi data tidak full satu angkatan. Data nilai yang kami input adalah data nilai kelas XI dan permasalahannya adalah data hasil psikotes tidak ada backup! What The? “Neng, data hasil psikotesnya ga ada, waktu itu langsung dibalikin ke siswanya, sekolah ga punya backup” (ga mungkin bu..hasil rekapan dari lembaga psikotes emang ga dikasih? aslilah..). “Kalo mau, yang sekarang kelas XII aja gimana? Tapi cuma beberapa kelas” (daripada ga ada data sama sekali, boleh lah ya). “Tapi data nilai jangan dicopy, rahasia sekolah” (lah gimana bu? saya butuh itu). Akhirnya boleh juga dicopy. Malah data psikotes yang harusnya rahasia tiap orang, malah boleh dibawa pulang. Atuh kumaha si Ibu teh? -,-

Data hasil psikotes kelas XII sudah ada beberapa, tapi data nilai yang dicopy ke flashdisc ku hilang, kena virus. Selamat! Dan karena data juga tidak lengkap, aku mengurungkan niatku menjadikan SMA ini sebagai studi kasus.

SMA N 15 Bandung :’)

SMA Santa Angela Bandung

Hadeuh, di SMA ini. Aku mundur sebelum berperang. Kenapa? Aku yakin administrasi di sekolah swasta biasanya lebih rapi, namun respon TU pada saat aku memberikan surat pengantar dari kampus ga enak. Saat itu KepSek sedang keluar kota jadi aku ga bisa ketemu langsung. Karena responnya kurang bersahabat, aku mengurungkan niat juga.

SMA Santa Angela Bandung :’)

SMA Negeri 1 Dayeuh Kolot

Akhirnya, aku kembali ke SMA yang sejak 3 semester lalu aku rencanakan akan kujadikan studi kasus. 3 semester yang lalu, aku bersama salah seorang teman sekelasku mengambil topik TA yang sama dan studi kasus yang sama. Dia lanjut, aku stak. Dia lulus, wisuda, aku belum. Aku kembali ke kampus untuk meminta surat pengantar, aku hubungi Bapak Koordinator BK yang nomor HPnya masih kusimpan. Ternyata beliau masih ingat. Respon positif! Administrasi khususnya untuk data penjurusan di sekolah lengkap. Sangat Lengkap! Semua data yang kubutuhkan sudah diinput ke dalam Excel. Beliau memperbolehkanku untuk mengcopynya. Data Hasil Psikotes baik Excel maupun hardcopy pun masih lengkap. Beliau memperbolehkanku membawa ke kosan untuk diinput satu per satu. Data Angket Minat Siswa sudah tersimpan rapi di dalam Excel. Thank God! Data sudah lengkap!

Lanjut, data sudah terkumpul. Tapi, masih ada masalah dalam menentukan bobot fuzzy dan coding. Datanglah, seorang malaikat yang Tuhan kirimkan untuk membantuku. Dia adalah HP. “Gimana kabar win? TA lu sampe mana? Ada yang bisa gua bantu?” (coding, Di). Kami membuat janji untuk bertemu, karena dia punya motor, dia lebih sering datang ke kosan setelah pulang dari kantor. Diskusi. Curhat Colongan. Ngerjain TA. Kami lakukan bersama, hahaha. Beberapa kali juga aku datang ke rumahnya. Sampai pada akhirnya, TAku selesai (seadanya, sesuai dengan reqruirement minimal).

Di tengah hiruk-pikuk, tunggang-langgang, jungkir-balik mencari data TA, Tuhan ajarkan aku kembali untuk bersyukur.

13 Februari 2014

anniversary

13 Februari 2014, menjadi hari bersejarah bagi keluarga kami. 30 tahun yang lalu, Tuhan membentuk sebuah keluarga baru. Yap! Happy Wedding Anniversary, Mom-Dad! 30 tahun bukan waktu yang sebentar, segala macam kondisi sudah mereka jalan bersama, sesuai dengan janji mereka di hadapan Tuhan, 30 tahun yang lalu. Panjang umur, sehat selalu ya, pak-bu :-* ({})

2 Maret 2014

IMG_9344791337466

Tuhan menjawab salah satu pergumulan yang sudah dipergumulkan sejak Oktober 2013 🙂

13 Mei 2014

1407755010522

Happy 28th of 13rd May, My Big Brother! 😀

24 Mei 2014

1407755010900

Happy 54th of 24th May, My Wonder Mommy! :-*

Juni – Agustus 2014: Fase Kedua

Di fase kedua ini, semangat yang mengalami pasang-surut di fase pertama, mau – tidak mau (harus) aku paksa untuk mengalami “pasang” kembali. Masa di mana semua semangat yang sudah Tuhan izinkan hadir dalam kehidupanku melalui berbagai macam bentuk, melalui berbagai macam media, melalui berbagai macam objek harus aku ejawantahkan menjadi sesuatu yang lebih nyata.

3 Juni 2014

be8f4f6c5010573cebaa3f83219ef50d

Serius! Kuliah emang susah, susah banget! Tapi, ketahuilah..perjuangan orang tua nguliahin anaknya jauuuuuuh lebih susah daripada perjuangan anaknya yang kuliah. Di tanggal 3 Juni 2014 ini, Tuhan izinkan aku untuk daftar sidang. Semua berkas sudah dikumpulkan ke admin IF dan aku tinggal menunggu hasil sidang akademik (lulus atau tidak, kalau tidak lulus atau ada matakuliah yang bermasalah, otomatis tidak akan keluar jadwal sidang TA. Kalau lulus, berarti jadwal sidangku akan segera rilis).

6 Juni 2014

received_m_mid_1399993286564_67b1e4ae707f370671_0

Happy 59th of 6th June, My Super Dad! 😉

25 Juni 2014

IMG_20140826_223124

Menurut jadwal,

  • 12 Juni 2014: Pra-Sidang
  • 20 Juni 2014: Sidang Akademik dan Validasi Nilai
  • 23 – 24 Juni 2014: Sosialisasi dan Konfirmasi Jadwal
  • 25 Juni 2014: Keluarnya Jadwal Sidang
  • 26 – 27 Juni 2014: Pembagian Buku TA ke Penguji Sidang
  • 30 Juni – 4 Juli 2014: Pelaksanaan Sidang TA
  • 18 Juli 2014: Sidang Akademik Yudisium

tapi, ternyataaaa..jadwal yang sudah disusun di awal, tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi di lapangan. Aku termasuk golongan mahasiswa yang tidak bermasalah dengan nilai matakuliah, sehingga dari hasil sidang akademik, aku bisa langsung dijadwalkan untuk sidang TA. Dari tanggal 20 – 25 Juni 2014 (pagi), tidak ada tanda-tanda jadwal sidang TA keluar. Karena aku berpaku pada jadwal awal bahwa kalaupun jadwal sidang keluar tanggal 25 Juni 2014, pasti pelaksanaan sidangnya mulai tanggal 30 Juni 2014, alhasil aku pergi ke BEC nemenin si Hitam service printer dan lanjut nonton Transformer.

Ternyata, Rabu 25 Juni 2014, itu hujan deras, dan aku ga bawa celana jas ujan, alhasil ujan2an ke BEC dan kena semprot si Hitam. Sampai di BEC, aku disms sama dosen Pembimbing 1 ku. Sms nya berbunyi bahwa aku sidang hari Kamis, 26 Juni 2014. Tapi, 2 Pengujiku ke Jakarta. Pak Dosen menyuruhku untuk menghubungi admin IF supaya minta jadwal pengganti daaaaannn jadwal sidangku adalah Jumat, 27 Juni 2014.

Rasanya masih ga percaya kalau aku sidang 2 hari lagi. Antara percaya dan ga percaya. Antara ada dan tiada. Aku mencoba tenang dan mempersiapkan diriku, tapi tetap saja aku shock berat dan tidak dapat berkonsentrasi. Aku tidak maksimal mempersiapkan sidang TAku. Bahkan sampai Kamis malam aku masih tidak percaya kalau aku sidang hari Jumat.

27 Juni 2014

1407755011056

Jumat, 27 Juni 2014. Pagi-pagi aku sudah berjalan menuju admin IF, ambil berkas sidang dan menuju ruang sidang di Laboratorium Data Minning Center di Gedung F. Karena aku sudah menghubungi admin dan mendapat konfirmasi bahwa jadwal sidangku diubah ke hari Jumat, aku tidak menghubungi 3 dosen pengujiku (bu IMD, bu MKS, dan bu SYP). Alhasil, seharusnya aku mulai sidang jam 08.00, sidangnya diundur karena beberapa permasalahan yang ada:

  1. Kunci Lab DMC ga tau dimana. Ngehubungi Pak Ajid, dia juga ga tau.
  2. Dosen Penguji belom ada yang dateng. Dateng pertama bu SYP, itu juga “ga sengaja” dateng pagi. Karena ternyata jadwal sidang dan buku TA ku belum sampai ke tangan beliau (ga tau kalau hari itu ada jadwal “nguji”). Bu IMD dan bu MKS juga ga ada. Aku coba hubungi bu IMD, awalnya tidak ada respon. Aku coba hubungi pak BDP sebagai PLT SekFak untuk meminta izin mencari dosen pengganti, ternyata beliau sedang di rumah sakit, beliau memintaku untuk menghubungi pak Ajid. Sementara aku menghubungi pak Ajid, ternyata dosen Pembimbingku membantu untuk menghubungi dosen lain untuk menjadi pengujiku dan pak DWM bersedia. Bu IMD pun hadir, kunci Lab DMC ketemu dan sidangpun dimulai (tak lama kemudian pak DWM masuk).

Aku sangat gugup, bahkan untuk melepas sepatu dan memakai almamaterpun aku lupa. Karena sudah kehilangan konsentrasi, aku tak dapat menjelaskan Tugas Akhirku dan tak dapat menjawab pertanyaan dari para penguji dengan baik. “Fix, gua sidang ulang pasti”, dalam hatiku berkata. Presentasi dan tanya-jawab selesai, saatnya sidang tertutup. Pagi itu, banyak orang yang Tuhan izinkan memberikan semangat melalui kehadiran mereka: MS, PHN, CPS, DMS dan LM. Agak lama sidang tertutupnya, aku sempat “mberebes mili”, sampai akhirnya namaku disebut sebagai tanda aku harus kembali masuk ke Lab DMC untuk mengetahui hasil sidang tertutup.

Dan benar, aku harus sidang ulang. Dosen Pembimbingku (pak EKD), sangat berharap kalau aku bisa “lolos” pagi itu. Pak EKD memberikan selamat, “Selamat Winda, sudah selesai sidang yang pertama” (hah? berarti lanjut sidangnya pak? hehe :”) sidang ulang maksudnya). Bu IMD pun menyemangatiku “Seminggu ini kamu belajar codingan, kerjain revisinya, jangan main gitar dulu, eh bolehlah sejam-dua jam, off dulu organisasinya, ke gereja dan jangan lupa berdoa.” Aku yang tadinya tegar karena sudah yakin akan sidang ulang, mendengar semangat yang bu IMD kasih malah jadi nangis, air mataku tak dapat kubendung, sampai membuatku terisak menyambut jabatan tangan (pemberian semangat) dari bu IMD dan bu SYP.

21 Juli 2014

quote362_large

1407755012221

16 Agustus 2014

IMG_20140816_210044

22 Agustus 2014

1407593711590

September – Desember 2014: Fase Ketiga

IMG_20141111_190525

IMG_20141112_112710

30 Oktober 2014

PicsArt_1414631548868

PicsArt_1414684929687

31 Oktober 2014

PicsArt_1414769835057

28 November 2014

PicsArt_1417135945651

29 November 2014

graduation

page

PicsArt_1418648216997

24 – 25 Desember 2014

PicsArt_1419445330316

PicsArt_1419605380821

Terima kasih kepada setiap pengembara yang sudah hadir untuk mendukung, menegur, mengingatkan, bahkan setia menemani untuk bersama-sama mengembara di tahun 2014 ini.

Pengakuan Dosa

Mazmur 51:1-19

(51-1) Untuk pemimpin biduan. Mazmur dari Daud,
(51-2) ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba.
(51-3) Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!
(51-4) Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!
(51-5) Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.
(51-6) Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.
(51-7) Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.
(51-8) Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.
(51-9) Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!
(51-10) Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali!
(51-11) Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku!
(51-12) Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!
(51-13) Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!
(51-14) Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!
(51-15) Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.
(51-16) Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!
(51-17) Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu!
(51-18) Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.
(51-19) Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.
(51-20) Lakukanlah kebaikan kepada Sion menurut kerelaan hati-Mu bangunkanlah tembok-tembok Yerusalem!
(51-21) Maka Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya; maka orang akan mengorbankan lembu jantan di atas mezbah-Mu.

Bible Reading: 2 Samuel 12

Hidup Tidak Surut Ke Belakang

Jangan Larut

Baca: 2 Samuel 12:15-23
Ayat Mas: 2 Samuel 12:23 “Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.”

Seorang anak kecil menangis keras. “Mengapa kamu menangis?” tanya ibunya. “Uang seribu rupiah yang dikasih Ayah kemarin hilang,” jawab anak itu. “Ya, sudah, Ibu ganti. Jangan menangis lagi, ya,” kata sang ibu sambil menyodorkan uang seribu. Anak itu menerima dengan gembira, tetapi sejenak kemudian ia menangis lagi lebih keras. “Lo, mengapa kamu malah menangis lagi?” tanya ibunya pula. “Kalau uang dari Ayah kemarin tidak hilang, saya punya dua ribu rupiah, Bu.”

Itu hanya cerita humor. Namun, sebetulnya sikap si anak itu mencerminkan sikap kita dalam keseharian. Kita kerap lebih berfokus pada apa yang hilang, dan mengabaikan apa yang ada. Kita begitu sedih karena sesuatu yang “diambil” dari kita, sehingga lalu kita lalai untuk mensyukuri sesuatu yang “diberikan” kepada kita. Perhatian kita hanya tertuju pada yang sudah tidak ada.

Daud pun mengalami kehilangan sangat besar. Anaknya dari Batsyeba meninggal dunia. Padahal ia sudah begitu kuat berupaya, memohon belas kasihan Tuhan (ayat 16). Namun, Tuhan berkehendak lain. Patah arangkah Daud? Tidak. Kepada para pegawainya ia berkata “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis … Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi?” (ayat 22,23). Daud seolah mau berkata. “Anak itu sudah tiada. Aku sangat sedih. Tetapi toh hidup harus tetap berjalan.”

Saat ini kita mungkin tengah mengalami kehilangan besar. Tidak ada salahnya kita bersedih. Yang salah kalau karena begitu larutnya dalam kesedihan, kita lalu lupa pada kehidupan yang masih harus kita jalani.

Hidup tidak surut ke belakang maka jalani dengan menatap ke depan

Penulis: Ayub Yahya
sumber: http://www.renunganharian.net/lihatrenungan.php?judul=Jangan%20Larut&nama=

Renungan ini kubaca sejak Jumat, 9 Juli 2010. Renungan yang menjadi penghiburan tersendiri bagiku, saat itu ibu terkasih dari ayah saya, yang berarti nenek terkasih saya, menutup usia di hari Kamis, 8 Juli 2010. Saat itu kami semua sedih atas kepergian beliau. Namun, satu sisi kami senang karena beliau sudah tidak merasakan sakitnya lagi yang sudah sejak tahun 2008 beliau tanggung.

Satu tahun kemudian, Rabu, 30 Maret 2011. Suami kakak terkasih dari ayah saya, yang berarti pakde1  saya, menutup usia. Beliau menutup usia juga karena sakit yang cukup berat yang harus beliau tanggung di akhir hidupnya. Sabtu, 19 Maret 2011 ternyata menjadi pertemuanku yang terakhir dengan beliau. Sore itu, setelah menghadiri resepsi pernikahan salah seorang sepupuku, aku bersama keluarga menghampiri pakde yang sedang terbaring lemah di Rumah Sakit Mintohardjo. Kondisi pakde semakin berat. Sampai akhirnya beliau mengakhiri pertandingan dalam kehidupan ini sebelas hari setelah pertemuan kami. Saat aku mendengar kabar pakde telah menutup usia, aku menangis sejadi-jadinya di tempat kost. Tapi, kembali Tuhan mengingatkan renungan setahun yang lalu. Ya, pakde sudah tenang dan tidak merasakan sakitnya lagi.

Satu tahun berikutnya, Selasa, 13 Maret 2012. Suami keponakan terkasih dari ayah saya, yang berarti abang sepupu saya, juga menutup usia menyusul sang mertua (menantu dari pakde yang meninggal setahun lalu). Beliau juga menutup usia karena perjuangan melawan penyakit yang harus beliau tanggung di akhir hidupnya.

Dua tahun kemudian, Rabu, 30 April 2014. Keponakan terkasih dari ayah saya, yang berarti kakak sepupu saya, ikut menyusul sang ayah dan abang ipar terkasih. Tiga tahun berjuang melawan sakit, keluar-masuk lebih dari tiga rumah sakit, bahkan satu bulan terakhir perjuangannya melawan sakit, beliau keluar-masuk rumah sakit sebanyak lima kali. Selasa, 29 April 2014, aku bersama kakak-kakak sepupu, abang-abang sepupu, pakde-bude, dan juga ayah, ibu serta abang terkasih melakukan kontak doa jam 20.00 dimanapun kami berada. Kami berdoa supaya Tuhan memberikan yang terbaik bagi beliau dan keluarga yang mendampingi diberikan kekuatan iman, ketabahan, kesabaran dan keikhlasan baik jasmani maupun rohani. Tak lama, Rabu, 30 April 2014 dini hari pukul 00:05 Tuhan memberikan yang terbaik buat beliau. Kami sayang kepadanya, tapi Tuhan lebih sayang. Tuhan tahu yang terbaik untuknya. Tuhan bebaskan semua rasa sakitnya dengan memangkunya kembali ke hadapanNya.

Sekali lagi Tuhan ingatkan melalui renungan khotbah dalam ibadah tutup peti yang dilaksanakan Rabu, 30 April 2014 pukul 12:00 di rumah duka. “Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.

Mereka semua memang sudah tidak ada, dan mereka tidak akan kembali, bahkan kami tak sanggup mengembalikan mereka kembali. Bukan mereka yang akan kembali, tapi kami, kita, yang akan pergi ke sana untuk menemui mereka dalam pengharapan yang ada di dalam Tuhan Yesus, yaitu kehidupan yang kekal. Amin

Catatan:

  1. Pakde adalah sebutan untuk abang dari ayah dalam budaya Jawa.
34873_144837325532954_3747271_n

Anak-Mantu dari Mbah Djaya Mustama

35039_144834855533201_3867613_n

Cucu dari Mbah Djaya Mustama

35376_144837418866278_3365213_n

Cicit dari Mbah Djaya Mustama

34873_144837318866288_7300976_n

Hidup tidak surut ke belakang maka jalani dengan menatap ke depan

mbak alin

Almh. Mbak Harlin Setyorini

“Tamparan Sayang”

“Ya, kita juga ga bisa maksa dong. Saya harus bilang ke Tim SIM dulu, mereka bersedia atau enggak. Kalau mau, diubah aja untuk yang sedang berjalan sekarang, toh sistem yang kemarin udah ga kita pake lagi. Ya walaupun kita ga tahu tahun depan pake sistem yang mana. Judulnya bagus kok, ideal. Tapi buat apa kita fokus ke belakang, liat apa yang bisa dikerjakan saat ini dan ke depan kan lebih manfaat.” ~Bu Enok – Kordi BK SMA 15

“Jangan terlalu byk kegiatan di luar lg kak.. Fokus lh mulai skrg.. Hehe
Buat target kapan beres nya.. Hehe
Ini uda pertengahan april loh kak.. Cm mau ngingetin aja.. Tinggal brp bulan lg. Jangan buang2 waktu lg lah. Selama ini aku pengen ngingetin sih, tp aku mikir kk uda cukup dewasa lah buat tw itu. Hehe..Semangat kak.. Haha..” ~MYB

“Bukan kegiatan diluar. Jangan terlalu banyak malasnya.
Yahh. Ga mau tau. Kamu uda banyak mengalami kemalasan dan kalau uda mentok uda banyak kamu alami. Pasti kamu bsa lah cari tau jalan keluarnya.. ” ~MS

“Selamat pagi, wind..
Sepertinya kamu deh yg lebih sibuk. Jadi, silakan kalo mau bimbingan ke saya. ” ~MHD

“Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” ~Tuhan Yesus
“Go now and leave your life of sin.
(NIV)

go and sin no more.” (NKKV)

“Jgn menunda nunda mengerjakam skripsi sblm km menyesal…” ~AES – 150414 – 17.54

14 Februari 2014

Mendadak kepengen nulis karena barusan baca tweet seorang adik yang sedang melanjutkan studi di Universitas Brawijaya, Malang.

dirthon

14 Februari, bisa memberi kesan yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang mengenal dan merayakannya sebagai hari Kasih Sayang, ada juga yang menganggapnya sebagai hari yang biasa saja karena menurutnya kasih sayang tidak harus dirayakan di setiap tanggal 14 Februari. Tapi, ada yang berbeda dengan 14 Februari 2014. Malam sebelum hari yang sering disebut sebagai hari Kasih Sayang ini terjadi erupsi di Gunung Kelud. Dan pasti tanggal 14 Februari 2014 ini memberikan kesan yang lain bagi saudara-saudara kita yang ada di sekitar Gunung Kelud sana. Hujan abu di mana-mana, bahkan abu vulkanik hasil erupsi Gunung Kelud semalam terbawa angin sampai ke daerah kosanku, Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung. Tadi siang, sekitar jam 13.00 aku merasakan hal yang berbeda, memang daerah Dayeuh Kolot ini berdebu, tapi ini kayanya bukan debu biasa. Debu-debu intan bertebaran di sekitar daerah kampus dan kosanku. Sepertinya ini abu vulkanik dari Gunung Kelud, pikirku. Dan ternyata benar.

Baiklah, kembali ke kicauan yang mendadak menginspirasikan diriku untuk menuliskan ini. “Tuhan pastikan menunjukkan kebesaran dan kuasaNya, bagi hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa.” itu adalah cuplikan lirik lagu dari band D’Massiv yang berjudul “Jangan Menyerah”.

Apa hubungannya 14 Februari, hari Kasih Sayang – Erupsi Gunung Kelud – Jangan Menyerah D’Massiv – dan tulisan ini? Yup! Mendadak aku kepikiran dan merenung. Tetiba keinget ada seseorang yang pernah menyampaikan bahwa kenapa ada satu hari yang “dikhususkan” sebagai hari untuk menyatakan kasih kepada sesama? Karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi kita, dengan kasih Agape – kasih tanpa syarat. Dan Tuhan kasih satu hari khusus untuk membagi kasih yang sudah kita terima dari Tuhan dan bisa dinyatakan dengan kasih Eros – kasih antara lawan jenis atau kasih Filia – kasih kepada saudara atau sahabat dan mungkin juga kasih Storge – kasih kepada keluarga.

“Satu hari khusus”, masih ada Tiga Ratus Enam Puluh Empat hari lagi. Setiap hari Tuhan mengasihi kita dengan kasih Agape.

Pertanyaannya: sudahkah kita mengasihi Tuhan dan sesama dengan kasih Agape? 

14 Februari 2014, membuat aku merenung. Hari yang (mungkin) seharusnya menjadi hari yang penuh sukacita karena merayakan hari Kasih Sayang (*bagi yang merayakannya), tapi justru menjadi hari yang kelabu, seperti faktanya, beberapa daerah di Pulau Jawa berubah menjadi warna abu-abu karena dihujani abu vulkanik dampak dari meletusnya Gunung Kelud.

14 Februari 2014, membuat aku merenung. Selama tiga ratus enam puluh empat hari Tuhan mintaku belajar untuk menghidupi dan membagikan kasih Agape yang sudah Tuhan berikan kepadaku, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Tapi kenapa di hari ini, justru menjadi hari yang kelabu? Jangan-jangan selama ini aku “kebalik”, selama tiga ratus enam puluh empat hari aku hanya mengasihi sesama dengan kasih (selain) Agape, dan hanya satu hari aku mengasihi Tuhan dengan kasih (selain) Agape juga?

14 Februari 2014, membuat aku merenung. Dari awal tahun 2014, Indonesia sudah dirundung bencana. Pertanyaannya sama: Jangan-jangan selama ini kita “kebalik”, selama tiga ratus enam puluh empat hari kita hanya mengasihi sesama (dan lupa mengasihi Tuhan – yang seharusnya lebih dari apapun) dengan kasih (selain) Agape, dan hanya satu hari kita mengasihi Tuhan dengan kasih (selain) Agape juga?

Kita pasti pernah dapat cobaan yang berat seakan hidup ini tak ada artinya lagi. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasaNya kepada hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa.

Yup! Cobaan yang berat pasti dirasakan oleh saudara-saudara kita yang merasakan langsung dampak dari bencana alam yang terjadi di Indonesia: Erupsi Gunung Sinabung, Erupsi Gunung Kelud, Banjir Jakarta, Banjir Manado, dll. Seperti lirik lagu di atas, saudaraku. Mari Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasaNya kepada hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa.

aih