“Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.”

Usia bisa bertambah, tapi kedewasaan kadang kala tidak bertambah seiring bertambahnya usia seseorang. Untuk menjadi pribadi yang dewasa, prosesnya tidak mudah. Ada pembentukan yang harus dijalani. Pembentukan itu menyakitkan dan prosesnya tidak instan.

Untuk mengalami pertumbuhan dalam pemikiran dan menjadi dewasa kita membutuhkan orang lain. Kita tidak bisa bertumbuh kalau kita sendirian. Karena kita akan banyak belajar dari orang-orang yang menjengkelkan, yang tidak sempurna dan yang mengecewakan. Dan semuanya itu akan kita temukan kalau kita menjalin sebuah hubungan.

Manusia memiliki dua hakikat yang tidak akan pernah bisa hilang : diciptakan sebagai makhluk pribadi dan juga sebagai makhluk sosial. Tidak bisa dipungkiri kalau kita akan membutuhkan orang lain dan saling berhubungan, bahkan saling bergantung satu sama lain.

Namun, untuk menjalin sebuah hubungan dibutuhkan komitmen untuk saling membangun, mengingatkan, mendoakan, menasihati, memberi salam, melayani, mengajar, menerima, memberi hormat, menolong, menanggung beban, mengampuni, merendahkan diri, merendahkan hati dan masih banyak lagi.

“Kedewasaan yang sejati muncul dalam hubungan.” – Rick Warren

Hubungan membutuhkan keterbukaan dan kejujuran. Terbuka dan jujur tentang siapa diri kita dan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan kita. Keakraban terjadi di dalam terang, bukan kegelapan. Kegelapan digunakan untuk menyembunyikan sakit hati, kesalahan, ketakutan, kegagalan, kekecewaan dan kelemahan kita. Tetapi di dalam terang, kita membuka semuanya dan mengakui siapa diri kita sebenarnya.

“Kita hanya bisa bertumbuh dengan cara mengambil risiko, dan risiko yang paling sulit dari semuanya adalah bersikap jujur terhadap diri kita sendiri dan orang lain.” – Rick Warren

Ketika semuanya berjalan baik-baik saja, akan lebih mudah untuk kita terbuka dan jujur. Namun, ketika mengalami konflik, akan menjadi sulit untuk terbuka dan jujur tentang apa yang kita alami atau rasakan. Faktanya adalah kebencian dan dendam selalu menghancurkan sebuah hubungan.

Hubungan apapun, entah dalam pernikahan, persahabatan atau persekutuan, bergantung pada keterusterangan. Sesungguhnya, saluran konflik adalah jalan menuju keakraban dalam hubungan apapun. Ketika konflik ditangani dengan benar, kita makin akrab satu sama lain dengan menghadapi dan menyelesaikan perbedaan-perbedaan kita.

Keterusterangan bukan berarti kita bebas mengatakan apapun yang kita inginkan, di mana saja dan kapan saja kita mau. Keterusterangan bukan kekasaran. Kata-kata yang tidak dipikirkan meninggalkan luka yang abadi.

Menghindari konflik, lari dari masalah, berpura-pura masalah tidak ada atau takut membicarakannya adalah sikap pengecut. Tidak peduli apakah kita yag melukai atau yang dilukai, jangan menunggu pihak lainnya. Hampirilah mereka terlebih dahulu. Penundaan hanya memperdalam rasa dendam dan membuat segalanya lebih buruk. Dalam konflik, waktu tidak menyembuhkan apapun; waktu menyebabkan luka makin bernanah. Pilihlah waktu dan tempat yang tepat untuk bertemu.

“Meninggalkan hubungan saat terjadi konflik, kekecewaan atau ketidakpuasan adalah tanda ketidakdewasaan.” – Rick Warren

Advertisements

Koinonia = Fellowship

Kehidupan dimaksudkan untuk dibagikan. Allah memaksudkan agar kita menjalani kehidupan bersama-sama. Alkitab menyebutkan pengalaman bersama ini sebagai persekutuan. Namun, sekarang kata ini telah kehilangan sebagian besar makna alkitabiahnya.

Persekutuan yang sesungguhnya jauh lebih dari sekedar muncul pada kebaktian. Persekutuan yang sesungguhnya adalah menjalani kehidupan bersama-sama. Persekutuan termasuk mengasihi dengan tidak mementingkan diri sendiri, berbagi pengalaman dengan jujur, melayani secara praktis, memberi dengan berkorban, menghibur dengan penuh simpati, dan semua perintah “saling” lainnya yang terdapat dalam Perjanjian Baru.

Apa perbedaan antara persekutuan yang sejati dengan yang palsu?

Dalam persekutuan yang sejati, orang mengalami otentisitas.
Persekutuan yang otentik bukan obrolan basa-basi yang dangkal. Persekutuan tersebut merupakan tindakan berbagi pengalaman secara sungguh-sungguh dari hati ke hati, kadang-kadang sampai tingkat yang paling dalam. Persekutuan yang otentik terjadi ketika orang-orang bersikap jujur mengenai siapa mereka dan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan mereka.

Hanya bila kita terbuka tentang kehidupan kita barulah kita mengalami persekutuan yang sejati. Bersifat otentik membutuhkan keberanian dan kerendahan hati. Kita hanya bisa bertumbuh dengan cara mengambil risiko, dan risiko yang paling sulit dari semuanya adalah bersikap jujur terhadap diri kita sendiri dan orang lain.

Dalam persekutuan yang sejati, orang-orang mengalami simpati.
Simpati bukanlah memberikan nasihat atau menawarkan bantuan cepat yang basa-basi; simpati adalah masuk dan turut merasakan penderitaan orang lain. Simpati memenuhi dua kebutuhan dasar manusia : kebutuhan untuk dipahami dan kebutuhan agar perasaan-perasaan kita diterima. Setiap kali kita memahami dan menerima perasaan-perasaan seseorang, kita membangun persekutuan.

Ada tingkat-tingkat yang berbeda dari persekutuan, dan masing-masing tingkat cocok untuk segala waktu. Tingkat paling sederhana dari persekutuan adalah persekutuan untuk berbagi pengalaman dan persekutuan untuk mempelajari Firman Allah. Tingkat yang lebih dalam adalah persekutuan untuk melayani, seperti ketika kita melayani bersama-sama dalam perjalanan misi atau proyek kasih. Tingkat yang paling dalam dan kuat adalah persekutuan dalam penderitaan, di mana kita masuk ke dalam setiap penderitaan dan dukacita orang lain dan saling menanggung beban.

Dalam persekutuan yang sejati orang-orang memperoleh belas kasihan.
Persekutuan adalah tempat kasih karunia, di mana kesalahan tidak diungkit-ungkit tetapi dihapuskan. Persekutuan terjadi ketika belas kasihan menang atas keadilan. Kita semua membutuhkan belas kasihan, karena kita semua tersandung dan jatuh serta membutuhkan pertolongan untuk kembali ke jalur. Kita perlu saling memberikan belas kasihan dan bersedia menerima dari orang lain.

Kita tidak bisa memiliki persekutuan tanpa pengampunan. Allah memperingatkan, “Janganlah menaruh dendam.” (Efesus 3 : 13) karena kebencian dan dendam selalu menghancurkan persekutuan. Karena kita adalah orang-orang berdosa yang tidak sempurna, kita pasti saling melukai bila kita bersama-sama untuk waktu yang cukup lama. Kadang-kadang kita saling melukai dengan sengaja dan kadang dengan tidak sengaja, tetapi sengaja atau tidak, dibutuhkan banyak belas kasihan dan kasih karunia untuk menciptakan dan memelihara persekutuan.

Belas kasihan Allah kepada kita adalah motivasi untuk menunujukkan belas kasihan kepada orang lain. Ingat, Anda tidak akan pernah diminta untuk mengampuni orang lain lebih dari Allah yang telah mengampuni kita. Kapanpun hati Anda dilukai oleh seseorang, Anda memiliki pilihan untuk diambil : akankah saya menggunakan tenaga dan emosi untuk membalas dendam ataukah untuk memecahkan masalah? Anda tidak bisa melakukan dua-duanya.

Banyak orang enggan menunjukkan belas kasihan karena mereka tidak paham perbedaan antara kepercayaan dan pengampunan. Pengampunan adalah melepaskan masa lalu. Kepercayaan berkaitan dengan perilaku masa depan. Pengampunan haruslah segera, entah seseorang memintanya atau tidak. Kepercayaan harus dibangun kembali bersama waktu. Kepercayaan membutuhkan catatan kinerja.

Jika seseorang melukai Anda berulang-ulang, Anda diperintahkan oleh Allah untuk mengampuninya segera, tetapi Anda tidak diharapkan untuk mempercayai mereka segera, dan Anda tidak diharapkan untuk terus membiarkan mereka melukai hati Anda. Mereka harus membuktikan bahwa mereka telah berubah bersama waktu.

 

 

 

Sumber : diadaptasi dari Buku The Purpose Driven Life – Bab 18 “Menjalani Kehidupan Bersama-sama”

Arti kata koinonia menurut Wikipedia adalah anglikisasi dari kata Yunani (κοινωνία) yang berarti persekutuan dengan partisipasi intim. Kata ini sering digunakan dalam Perjanjian Baru dari Alkitab untuk menggambarkan hubungan dalam gereja Kristen perdana serta tindakan memecahkan roti dalam cara yang ditentukan Kristus selama perjamuan Paskah [Yohanes 6:48-69, Matius 26: 26-28, 1 Korintus 10:16, 1 Korintus 11:24]. Akibatnya kata tersebut digunakan dalam Gereja Kristen untuk berpartisipasi, seperti kata Paulus, dalam Persekutuan – dengan cara ini mengidentifikasi keadaan ideal persekutuan dan masyarakat yang harus ada – Komuni (persekutuan).

Sementara, dalam Alkitab versi Bahasa Inggris, kata persekutuan diterjemahkan sebagai kata fellowship (persahabatan) dan menurut Google Translate artinya adalah friendly association, especially with people who share one’s interests.

Jesus Be The Center!

Minggu, 30 Oktober 2016

Bersyukur, sangat bersyukur kalau aku bisa ikut Rapat Kerja (RaKer) Pengurus PMK TES 2016/2017. Di RaKer tahun ini aku ambil bagian dalam pelayanan sebagai gitaris. Dari apa yang bisa kuberikan sebagai wujud rasa syukurku atas talenta yang sudah Tuhan percayakan, bahkan di tengah-tengah kondisi thesis yang lagi mandeg, karena bisa aja kujadikan alasan untuk menolak pelayanan, Tuhan kasih berkat melimpah, ga sebanding dengan apa yang bisa kukembalikan. Serius! Tak ada sesuatu yang kebetulan. Aku ambil waktu untuk “berhenti sejenak” dari hiruk pikuk di kota Bandung, aku pergi ke pinggiran Kabupaten Bandung Barat, di atas rimbunnya Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, ke daerah Maribaya Lembang untuk ikut RaKer.

Kemarin aku diingatkan kembali oleh Bunda yang menjadi pembicara di Ibadah Minggu. “Jesus Be The Center”. Dia adalah Tuhan. Dia adalah Tujuan. Dia adalah Teladan. Hanya Dialah satu-satunya yang seharusnya menjadi poros roda kehidupan, pusat kehidupan. Terima kasih bunda, sudah menyampaikan isi hatiNya, tepat sasaran. Dan bahkan lagu “Jesus Be The Center” adalah salah satu lagu yang kami bawakan di sesi Ibadah Penutup. Dan sepertinya lagu ini akan jadi “Song of The Year” buat aku pribadi, hihi.

Jesus Be The Center, kita harus benar-benar mengikuti teladan Tuhan Yesus, di mana dia telah mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang hamba. Kita juga harus mengosongkan diri kita, menanggalkan jubah keegoisan kita, dan membiarkan Tuhan menjadi tuan atas hidup kita, mengendalikan seluruh kehidupan kita.

Selain Bunda, aku juga diingatkan oleh bang Eristiar, WL di satu tim pelayan altar di RaKer. Kehidupan doa sangat penting untuk membentengi kehidupan ini. Walaupun doa tak kelihatan, tapi doa ampuh membentengi kita dari yang tak kelihatan juga. Kehidupan doa rusak, otomatis kehidupan nyata juga rusak; rusak bukan dari hal yang kasat mata. Bisa saja di luar nampak (seolah) baik, tapi (sebenarnya) di balik itu semua tidak baik.


Senin, 31 Oktober 2016

Renungan Harian
Bacaan: Roma 1:16-17

Sola Fide
Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. (1 Korintus 3:11)

Hari ini kita memperingati Hari Reformasi Gereja. Pada 31 Oktober 1517 Martin Luther menempelkan 95 dalil di pintu gereja Wittenberg, Jerman. Ada 3 kata kunci yang melekat pada tindakan reformasi ini: Sola Fide (Hanya melalui Iman), Sola Gratia (Hanya oleh Anugerah) dan Sola Scriptura (Hanya Alkitab): “Manusia diselamatkan oleh iman akan anugerah Allah yang diproklamasikan dalam Alkitab.”

Berdasarkan perenungan atas Roma 1:16-17, Luther menemukan saripati teologi Paulus bahwa yang menghadirkan keselamatan bukanlah segala macam perbuatan baik dan ritus gereja, melainkan iman akan anugerah Allah yang membenarkan kita. Orang berdosa yang percaya akan Injil menjadi orang benar karena dijadikan benar. Manusia adalah simul justus et peccator: orang yang berdosa, namun sekaligus dibenarkan. Benar bukan karena usaha sendiri, melainkan karena rahmat, gratia.

Tak sepatutnya kita hidup berleha-leha, manja, dan tak waspada, apalagi meremehkan kasih Allah yang membenarkan tadi. Dari pihak manusia diperlukan iman yang merespons anugerah pembenaran itu. Iman bukan sekadar percaya, namun “mempercayakan diri seutuhnya kepada”. Iman adalah hati yang bulat menyambut anugerah Allah dan memasrahkan segenap diri pada kasih setia Allah.

Ada orang yang mengaku beriman, namun hatinya dingin, bahkan beku. Beku pada Allah, beku pada Firman, dan beku pada janji anugerah. Hatinya bagai es. Kita perlu waspada, agar hati kita senantiasa terbuka untuk digenangi rahmat dan giat menyambutnya. Betapa hangat! –DKL/Renungan Harian

ANUGERAH ALLAH SELALU CUKUP BAGI KITA YANG LEMAH.

Terima kasih Tuhan kalau sampai di usia 27 tahun ini, aku masih bisa merasakan pemulihan dari Engkau, langsung melalui orang-orang yang Engkau percayakan untuk menyampaikannya. Pemulihan tidak hanya fisik (dari batuk flu) tapi juga jiwa.

“Iman bukan sekadar percaya, namun “mempercayakan diri seutuhnya kepada“. Iman adalah hati yang bulat menyambut anugerah Allah dan memasrahkan segenap diri pada kasih setia Allah.” Ya, sudah seharusnya jika “Jesus Be The Center”, akan otomatis “mempercayakan diri seutuhnya kepada” Tuhan Yesus. Sekali lagi terima kasih untuk caraMu yang luar biasa menegurku untuk tidak hanya tumbuh ke samping, tapi juga tumbuh ke “atas” dan terus berakar ke “bawah”.

Yang Sedang Ber-Hari Syukur,

(Adniw Irasnahitsirk)

Thank You, Lord

Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/

Eben-Haezer: Dan Samuel mengambil sebuah batu dan meletakkannya di antara Mizpa dan Shen, dan menyebut namanya Eben-Haezer, dengan berkata, “Sampai sekarang ini TUHAN telah menolong kita.” ~1 Samuel 7:12 (MILT)

Imanuel: “Seorang perawan akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu akan dinamakan Imanuel.” (Imanuel adalah kata Ibrani yang berarti, “Allah ada bersama kita”.) ~Matius 1:27 (BIS)

Thank You, Lord. I just wanna Thank You, Lord.
Thank You for 26th of October 31.

Your Birthday Girl,

Adniw Irasnahitsirk

This slideshow requires JavaScript.

Happy 60th Blessed Birthday, Daddy

Nah, kalo yang ini ceritanya beda lagi. Bokap itu ulang tahun tanggal 6 Juni, sementara di 2015 ini 6 Juni itu jatuhnya di hari Sabtu. Masalahnya adalah, Sabtu aku kuliah (lagi), dengan jadwal yang padat, jam 8.30 – 17.00, kalo mo “teng go”, pasti nyampe Jakartanya udah malam. Mau ga ngasih tiup lilin, kok kayanya ngenes banget, Mamas ulang tahun, aku pulang, ngerayain. Nyokap ulang tahun, aku pulang, ngerayain. Masa bokap kaga?

Akhirnya aku coba telpon nyokap di hari Jumat.

“Mam, gimana nih ulang tahun bapak? Aku ga bisa bolos kalo besok, kalo Minggu siang aja gimana?”
“Ya udah, ga apa-apa. Lagian besok ibu di sekolah ada Penerimaan Siswa Baru, terus ada pengucapan syukur di rumah bu Adoe. Minggu aja ga apa-apa.”
“Emang Minggu ga ada acara?”
“Ada arisan sih, nanti nitip aja sama bude.”
“Emang boleh ga dateng arisannya?”
“Ya boleh banget.”
“Hahaha. Oke deh, Minggu aja berarti ya?”
“Ya”

PicsArt_1433547020938 PicsArt_1433658485415

Inilah hasilnya 🙂 hihi. Tadinya sih takut basi tiup lilinnya, hahaha. Tapi ternyata enggak. Ya, bersyukur sih kalo penyertaan Tuhan masih nyata dalam kehidupan keluarga kami. Masih nyata dalam kehidupan bokap yang notabene harusnya udah masuk Persekutuan Kaum Lanjut Usia (dari segi umur), tapi belom punya cucu (sabar ya pak, hahaha :’)), dalam kehidupan nyokap yang walaupun udah umur 55 masih kuat ngajar kelas 1 SD, dalam kehidupan mamas yang gaweannya punya risiko tinggi di jalanan, dan tentunya dalam kehidupanku dengan segala hiruk pikuknya saat ini.

Setelah itu Samuel menegakkan sebuah batu, di perbatasan Mizpa dan Sen. Ia berkata, “TUHAN telah menolong kita sepenuhnya.” –lalu batu itu dinamainya “Batu Pertolongan”. ~ (Bahasa Indonesia Sehari-hari) 1 Samuel 7 : 12

“Seorang perawan akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu akan dinamakan Imanuel.” (Imanuel adalah kata Ibrani yang berarti, “Allah ada bersama kita”.) ~ (Bahasa Indonesia Sehari-hari) Matius 1 : 23

original

Itulah yang sedang kuusahakan dan kuperjuangkan…terutama bersama keluarga 🙂
“Because family is not the important thing, but family is EVERYTHING.”

Happy 55th Blessed Birthday, Mommy

PhotoGrid_1432448727452

Surpriiiiiiiiiiise! Yeah! hahaha. Minggu, 24 Mei 2015 gilirian ibu yang ulang tahun. Hari itu, setelah ibadah Minggu pagi di Bandung, aku langsung pulang ke Jakarta. Ya, berhubung anak perempuan cuma aku, dua orang pria di rumah pasti ga ada yang prepare buat nyiapin acara, hahaha. Awalnya sih mau surprise pulangnya, tapi ternyata bapak kasih tau ibu, kalau hari itu aku pulang ke Jakarta.

Setelah landing di pool travel, aku langsung mampir ke toko kue langganan, beli kue dan lilin untuk ibu. Sampai di rumah, kasih selamat ulang tahun ke ibu sambil bawa kantong plastik kue. Dan ibu langsung bilang “pake kue-kue segala”, haha :’) “Ya kan mo ngasih surprise, mam”, jawabku.

“Surprise ga mam?”
“Iya surprise :’)”
“Yeay! Berhasil”

Happy 29th Blessed Birthday, Brother

IMG_20150513_004436PhotoGrid_1431438615274

Selasa, 12 Mei 2015 aku pulang ke Jakarta, kali ini dalam rangka menyambut ulang tahun mamas terkasih. Sore aku sampai di Jakarta, ngajak bapak untuk beli kue.

Dijalan bapak nanya, “abis ngerayain ntar malem mo makan apa dek? apa beli mie aja?”
“Besok aja pak, makan-makannya, mamas kan ga libur hari ini, besok aja sekalian pulang ibadah, kita makan dimsum, sekalian biar tau gitu makan dimsum tuh gimana, hehe”

Rencana bikin surprisenya berhasil 🙂 13 Mei 2015, mamas terkasih ulang tahun. Aku, bapak, dan ibu memberikan kejutan tepat pukul 00.00, yang ulang tahun lagi tidur, hihi. Kemudian Kamis, 14 Mei 2015 kami makan siang di luar bersama di Bamboo Dimsum Rawamangun “All You Can Eat.

PhotoGrid_1431582761530

Thank You and thank to all of you!