Hidup Tidak Surut Ke Belakang

Jangan Larut

Baca: 2 Samuel 12:15-23
Ayat Mas: 2 Samuel 12:23 “Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.”

Seorang anak kecil menangis keras. “Mengapa kamu menangis?” tanya ibunya. “Uang seribu rupiah yang dikasih Ayah kemarin hilang,” jawab anak itu. “Ya, sudah, Ibu ganti. Jangan menangis lagi, ya,” kata sang ibu sambil menyodorkan uang seribu. Anak itu menerima dengan gembira, tetapi sejenak kemudian ia menangis lagi lebih keras. “Lo, mengapa kamu malah menangis lagi?” tanya ibunya pula. “Kalau uang dari Ayah kemarin tidak hilang, saya punya dua ribu rupiah, Bu.”

Itu hanya cerita humor. Namun, sebetulnya sikap si anak itu mencerminkan sikap kita dalam keseharian. Kita kerap lebih berfokus pada apa yang hilang, dan mengabaikan apa yang ada. Kita begitu sedih karena sesuatu yang “diambil” dari kita, sehingga lalu kita lalai untuk mensyukuri sesuatu yang “diberikan” kepada kita. Perhatian kita hanya tertuju pada yang sudah tidak ada.

Daud pun mengalami kehilangan sangat besar. Anaknya dari Batsyeba meninggal dunia. Padahal ia sudah begitu kuat berupaya, memohon belas kasihan Tuhan (ayat 16). Namun, Tuhan berkehendak lain. Patah arangkah Daud? Tidak. Kepada para pegawainya ia berkata “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis … Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi?” (ayat 22,23). Daud seolah mau berkata. “Anak itu sudah tiada. Aku sangat sedih. Tetapi toh hidup harus tetap berjalan.”

Saat ini kita mungkin tengah mengalami kehilangan besar. Tidak ada salahnya kita bersedih. Yang salah kalau karena begitu larutnya dalam kesedihan, kita lalu lupa pada kehidupan yang masih harus kita jalani.

Hidup tidak surut ke belakang maka jalani dengan menatap ke depan

Penulis: Ayub Yahya
sumber: http://www.renunganharian.net/lihatrenungan.php?judul=Jangan%20Larut&nama=

Renungan ini kubaca sejak Jumat, 9 Juli 2010. Renungan yang menjadi penghiburan tersendiri bagiku, saat itu ibu terkasih dari ayah saya, yang berarti nenek terkasih saya, menutup usia di hari Kamis, 8 Juli 2010. Saat itu kami semua sedih atas kepergian beliau. Namun, satu sisi kami senang karena beliau sudah tidak merasakan sakitnya lagi yang sudah sejak tahun 2008 beliau tanggung.

Satu tahun kemudian, Rabu, 30 Maret 2011. Suami kakak terkasih dari ayah saya, yang berarti pakde1  saya, menutup usia. Beliau menutup usia juga karena sakit yang cukup berat yang harus beliau tanggung di akhir hidupnya. Sabtu, 19 Maret 2011 ternyata menjadi pertemuanku yang terakhir dengan beliau. Sore itu, setelah menghadiri resepsi pernikahan salah seorang sepupuku, aku bersama keluarga menghampiri pakde yang sedang terbaring lemah di Rumah Sakit Mintohardjo. Kondisi pakde semakin berat. Sampai akhirnya beliau mengakhiri pertandingan dalam kehidupan ini sebelas hari setelah pertemuan kami. Saat aku mendengar kabar pakde telah menutup usia, aku menangis sejadi-jadinya di tempat kost. Tapi, kembali Tuhan mengingatkan renungan setahun yang lalu. Ya, pakde sudah tenang dan tidak merasakan sakitnya lagi.

Satu tahun berikutnya, Selasa, 13 Maret 2012. Suami keponakan terkasih dari ayah saya, yang berarti abang sepupu saya, juga menutup usia menyusul sang mertua (menantu dari pakde yang meninggal setahun lalu). Beliau juga menutup usia karena perjuangan melawan penyakit yang harus beliau tanggung di akhir hidupnya.

Dua tahun kemudian, Rabu, 30 April 2014. Keponakan terkasih dari ayah saya, yang berarti kakak sepupu saya, ikut menyusul sang ayah dan abang ipar terkasih. Tiga tahun berjuang melawan sakit, keluar-masuk lebih dari tiga rumah sakit, bahkan satu bulan terakhir perjuangannya melawan sakit, beliau keluar-masuk rumah sakit sebanyak lima kali. Selasa, 29 April 2014, aku bersama kakak-kakak sepupu, abang-abang sepupu, pakde-bude, dan juga ayah, ibu serta abang terkasih melakukan kontak doa jam 20.00 dimanapun kami berada. Kami berdoa supaya Tuhan memberikan yang terbaik bagi beliau dan keluarga yang mendampingi diberikan kekuatan iman, ketabahan, kesabaran dan keikhlasan baik jasmani maupun rohani. Tak lama, Rabu, 30 April 2014 dini hari pukul 00:05 Tuhan memberikan yang terbaik buat beliau. Kami sayang kepadanya, tapi Tuhan lebih sayang. Tuhan tahu yang terbaik untuknya. Tuhan bebaskan semua rasa sakitnya dengan memangkunya kembali ke hadapanNya.

Sekali lagi Tuhan ingatkan melalui renungan khotbah dalam ibadah tutup peti yang dilaksanakan Rabu, 30 April 2014 pukul 12:00 di rumah duka. “Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.

Mereka semua memang sudah tidak ada, dan mereka tidak akan kembali, bahkan kami tak sanggup mengembalikan mereka kembali. Bukan mereka yang akan kembali, tapi kami, kita, yang akan pergi ke sana untuk menemui mereka dalam pengharapan yang ada di dalam Tuhan Yesus, yaitu kehidupan yang kekal. Amin

Catatan:

  1. Pakde adalah sebutan untuk abang dari ayah dalam budaya Jawa.
34873_144837325532954_3747271_n

Anak-Mantu dari Mbah Djaya Mustama

35039_144834855533201_3867613_n

Cucu dari Mbah Djaya Mustama

35376_144837418866278_3365213_n

Cicit dari Mbah Djaya Mustama

34873_144837318866288_7300976_n

Hidup tidak surut ke belakang maka jalani dengan menatap ke depan

mbak alin

Almh. Mbak Harlin Setyorini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s