Masihkah Berlaku Providensia Allah?

Belahan Bumi bagian Utara, 3 Oktober 2013

Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demmikianlah firman TUHAN,yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

otak kanan

Ayat ini sangat populer di kalangan orang Kristen, di mana menguatkan iman kita bahwa Allah akan menyertai kita dan segala yang terjadi dengan kita merupakan rancangan yang baik dari Allah. Ayat yang memberikan pengharapan yang luar biasa terhadap orang yang menghadapi kegagalan yang begitu besar.

Aku teringat akan masalah satu sahabat baikku, yang menjadi inspirasiku untuk kuliah di mana aku menimba ilmu saat ini, dan juga sahabat yang menurut aku sangat dewasa di dalam kerohanian. Kami bertemu untuk pertama kalinya di Kamp Mahasiswa Kristen sewaktu kami masih berada di Indonesia dan setelah bertemu di tempat aku berada sekarang, kami membentuk Kelompok Tumbuh Bersama (KTB). Di semester kemarin, ia mengerjakan thesis untuk gelar masternya. Awalnya, ia cukup bergumul untuk menentukan bidang yang ia sukai, tetapi tempat yang ia idamkan untuk mengerjakan master thesis tidak memberikan lowongan thesis di bidang tersebut. Akhirnya ia berusaha mencari di tempat lain yang memiliki bidang yang sama. Namun, sepertinya Tuhan menyatakan kuasaNya terhadap sahabatku ini, sebelum ia memutuskan untuk mengambil topik ini di tempat lain, sebuah lembaga riset terkemuka di negara di mana kami berada sekarang, yang merupakan institut yang ia inginkan untuk mengerjakan thesis, menyatakan bahwa mereka membuka lowongan di bidang yang ia inginkan tersebut. Tanpa berpikir panjang ia langsung mengiyakan dan pindah kota, dimana lembaga riset itu berada. Benar! Sepertinya Tuhan membimbingnya dan menuntunnya dalam melaksanakan thesis tersebut. Banyak masalah yang ia hadapi sepertinya berlalu begitu saja, contohnya ketika ia lupa untuk memperpanjang kontrak tempat tinggalnya dan akhirnya ia harus keluar dari asrama mahasiswa yang menjadi tempat tinggalnya, Tuhan seakan-akan memberikan tempat baru yang mana lebih dekat dari tempat ia mengerjakan thesis, bahkan sesudah ia pindah ke tempat tersebut, bus yang tadinya tidak melintasi tempat tinggal sebelumnya, merubah arahnya sehingga melalui tempatnya dan langsung menuju ke tempat ia mengerjakan thesis tersebut. Sekilas providensia Allah begitu besar terhadapnya, karena seakan-akan Tuhan menuntun dan membimbing ia dalam pengerjaan thesis tersebut.

Waktupun berlalu dan ia sudah berada di garis finish pengerjaan thesis-nya. Disaat itupun kami tidak melakukan kontak, karena aku memutuskan untuk pulang sementara waktu ke Indonesia sebelum mengerjakan thesis. Setelah kembali ke belahan bumi bagian Utara ini, ketika aku ingin makan di salah satu restoran mahasiswa, aku melihat sahabatku ini juga makan di restoran tersebut. Tanpa banyak basa-basi langsung aku menyapanya dan percakapan pun terjadi. Aku menanyakan kabarnya dan mengapa ia di sini. Ternyata ia hanya untuk sementara waktu untuk kerja part time. Ketika aku bertanya tentang thesis-nya dan apakah sidangnya berjalan lancar, aku tersentak kaget mendengar jawabannya. “Thesisku ga diterima, bro. Artinya aku gagal dan harus menulis thesis lagi”.

Sontak aku terkejut, mengapa hal itu bisa terjadi. Di waktu perjumpaan kami yang begitu singkat, cukup sulit menjelaskan namun ia berkata evaluasi tentang sistem yang ia buat tidak cukup, sehingga Profesor tidak menerima penelitian tersebut sebagai suatu thesis. Kembali aku terdiam, mengapa hal ini bisa terjadi padanya. Hal tersebut berarti ia hanya memiliki satu kali kesempatan lagi untuk melakukan thesis, jika gagal lagi ia harus angkat kaki dari belahan bumi bagian Utara ini tanpa gelar. Dalam hal ini negara di mana kami berada, cukup strict melaksanakan peraturan di bidang akademik dari batasan 3 kali tidak lulus mata kuliah yang sama lalu DO, dan thesis tersebut.

Akhirnya, perbincangan kami yang sangat singkat berlalu karena ia harus pergi secepatnya. Namun, hal tersebut menjadi pikiran yang begitu besar padaku. Mengapa hal ini bisa terjadi? Aku mengenalnya sebagai pribadi yang sangat pintar, ia lulus dari teknik elektro di salah satu unversitas negeri yang sangat prestisius, yang notabenenya termasuk jurusan favorit di kampus tersebut, dan ia lulus dari SMA Kristen yang sering mengantarkan banyak siswa dalam kompetisi olimpiade fisika dan matematika internasional. Hal ini berarti, dalam hal kemampuan, aku sangat yakin ia jauh di atas rata-rata mahasiswa lain. Namun mengapa ini terjadi, Tuhan? Apakah providensia, penyertaanMu selama ini hanyalah penyertaan semu? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul di kepalaku.

Keesokan harinya, aku berusaha menelpon dia dan ingin mengklarifikasi banyak hal tentang masalah ini. Setelah melakukan percakapan, dan berusaha memberikan semangat kepadanya, aku terpikir tentang ayat tersebut diatas (Yeremia 29:11). Di mana ayat tersebut sangat memberikan penghiburan buat orang-orang percaya dalam kehidupan mereka. Namun ketika Tuhan yang memiliki kedaulatan di dalam hidup manusia berkata tidak atas sesuatu, apa yang akan kita lakukan? Ia bercerita bagaimana begitu menyesakkan ketika ia melihat ‘seakan-akan’ Tuhan menyertai dia dari pemilihan thesis, bidang yang ia inginkan, tempat tinggal dan semua fasilitas-fasilitas lain yang ‘sepertinya’ Tuhan memberikan providensiaNya yang begitu luar biasa. Tentu aku dan bahkan ia juga percaya bahwa Allah Kristen adalah Allah yang sejati yang mana terus menyertai orang-orang percaya di manapun, dan tidak ada perkataanNya satupun yang gagal, termasuk ayat tersebut diatas. Namun, terkadang kenyataan hidup sangat berbeda dari hal tersebut. Ia tahu bahwa ada pelajaran yang ingin Allah berikan terhadapnya, namun ia juga bertanya mengapa dengan hal yang seperti ini, seakan-akan ketika semua sudah diberikan kepada kita , Tuhan yang berdaulat itu dengan kedaulatanNya merampas segala sesuatu yang kita miliki. Sesak dan sakit pasti! Mungkin kita bisa berpikir, Allah ingin mengajarkan ketika kita mencintai segala sesuatu lebih dari Allah sendiri, Ia menjadi Allah yang pencemburu sehingga berusaha menyadarkan anak-anakNya atas keutamaanNya dibandingkan hal-hal yang lain di dunia yang fana ini. Bahkan kita juga bisa berpikir ketika hal ini terjadi, Allah ingin mempersiapkan hal-hal yang besar yang akan kita lakukan kedepannya. Namun sekali lagi, ketika hal tersebut terjadi pada kita, masihkah kita tetap memuji dan berkata kepada Allah yang berdaulat tersebut “Engkau adalah Allah yang berkuasa, aku tahu jika Engkau berkehendak, Engkau pasti bisa menyelesaikan masalah ini ya Tuhan. Namun aku beriman rencanaMu tetaplah yang termulia dalam kegagalanku”. Atau mungkinkah kita masih bisa berkata seperti Ayub “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali kedalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Atau “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10).

Ah, sepertinya gampang mengucapkan, namun ketika hal ini terjadi pada kita, apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita menjadi kecewa kepada Allah yang dengan kasihNya yang begitu besar yang mau menyelamatkan kita, atau kita bisa berkata seperti Paulus cukuplah kasih karuniaMu saja TUHAN, karena didalam kelemahanku kuasaMu menjadi sempurna. Bagaimanapun kita bersikap Ia tetaplah Allah yang berdaulat, tidak ada rencanaNya yang gagal! Kita yang merupakan seteru Allah dan tidak layak mendapatkan segala kehidupan kita, karena kita seharusnya musnah dan mati bersama dosa-dosa kita telah diangkat dan dijadikanNya anak-anakNya, kasih karunia manakah yang lebih besar dari hal tersebut? Sekali lagi, kita tidak layak marah terhadap Ia yang berdaulat, karena sebenarnya kasih karuniaNya saja sudah cukup dalam hidup kita!

Hal ini membawaku untuk mendoakan dan men-support-nya dalam perjuangannya. Karena dalam 2 bulan ini ia sepertinya sudah kehilangan semangat. Wajar, apakah kita tidak kecewa ketika kerja keras kita selama 6 bulan menjadi nol besar? Namun Allah tetaplah Allah, Ia tidak berubah dan perkataanNya amin dan rencanaNya tetap termulia di dalam kegagalan.

sharing dari seorang sahabat yang sedang berjuang di salah satu belahan bumi bagian Utara-

Providensia Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s