#heartdistortion (part 2)

[repost] Berdua Lebih Baik
Pengkhotbah 4:7-12
Manna Sorgawi, 9 Agustus 2013

David J. Schwartz, seorang motivator Amerika yang terkenal lewat bukunya The Magic of Thinking Big, pernah bercerita tentang seorang pria yang belum menikah di usianya yang hampir 40 tahun. Pria tersebut berpendidikan tinggi dan bekerja sebagai akuntan. Ia hidup sendirian dan keinginannya yang besar adalah menikah. Ia sudah pernah beberapa kali hampir menikah, bahkan pernah hanya kurang satu hari lagi saja ia akan menikah. Akan tetapi, setiap kali hampir menikah, ia menemukan sesuatu yang salah dengan gadis yang segera akan dinikahinya. Ada satu kejadian yang sangat mencolok: Pada suatu kali ia mengira bahwa ia akhirnya akan mendapatkan gadis yang tepat. Gadis tersebut menarik, menyenangkan dan cerdas. Ketika mereka membicarakan rencana pernikahan pada suatu malam, calon istrinya membuat beberapa komentar yang cukup mengganggunya. Jadi untuk memastikan bahwa ia menikahi gadis yang tepat, ia menyusun dokumen perjanjian sebanyak empat halaman, yang harus disetujui oleh si gadis sebelum mereka menikah.

Dokumen tersebut, yang diketik rapi dan tampak sangat formal, mencakup setiap bagian dari kehidupan yang dapat dipikirkan pria tersebut, misalnya gereja apa yang akan mereka ikuti dan berapa banyak persembahan yang akan mereka berikan ke gereja tersebut; berapa banyak anak yang akan mereka miliki dan kapan mereka mulai mempunyai anak. Secara rinci ia ikhtisarkan juga jenis teman yang akan mereka miliki, status pekerjaan calon istrinya, di mana mereka akan tinggal, bagaimana menggunakan penghasilan mereka, dll. Di akhir dokumen itu, ia menggunakan setengah halaman untuk mendaftarkan kebiasaan tertentu yang harus dihentikan oleh si gadis atau yang harus dilakukannya, yang meliputi kebiasaan berdandan, pergi ke tempat hiburan, dll. Ketika calon istrinya melihat ultimatumnya, ia melakukan apa yang sudah bisa kita duga: ia mengirimkan dokumen itu kembali dengan sepucuk surat yang berbunyi, “Klausul pernikahan yang biasa, ‘baik senang maupun susah’, sudah cukup baik untuk semua orang, dan itu juga sudah cukup baik untuk saya. Sekarang kita batalkan saja semuanya!”

Pernikahan adalah salah satu cara terbaik untuk menghilangkan kesendirian. Namun, sebuah pernikahan tidak akan pernah terwujud jika kita mencari orang yang sempurna. Memang kita harus memilih dengan teliti dengan siapa yang kelak akan menjadi pasangan kita. Tetapi, tidak seharusnya kita membuat kriteria yang terlalu kaku, yang berkaitan dengan hal-hal lahiriah, seperti masalah suku atau etnis, sifat, penampilan, pendidikan, kekayaan, dll. Kriteria jodoh yang mutlak menurut Alkitab, yakni orang yang seiman. Jadi, buatlah kriteria jodoh Anda sefleksibel mungkin, maka pernikahan yang Anda dambakan pun akan terwujud. Bukankah berdua lebih baik?

DOA

Bapa Sorgawi, ajarlah aku untuk tidak mencari orang yang sempurna sebagai jodohku, tetapi orang yang seiman denganku. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin

Jika mencari yang seiman, Anda akan menikah. Jika mencari yang sempurna, Anda tidak akan menikah.

“Apa sih yang harus dipertahanakan dengan Gengsi? Apa yang dapat dipertahankan GENGSI dalam hidup ini?” ~MS

DFS: “di usia berapa rencana kalian menikah?”
Forum: (rata-rata menjawab) “27-28 lah, bang”
DFS: “kalau 27-28, berarti kalian punya waktu sekitar 3-4 tahun untuk pacaran.”
Forum: *nyimak*
“Lihat-lihatlah dari sekarang, tapi jangan cuma dilihat. Kalau ada rasa, sekalipun cuma 5%, kelola itu dengan baik. Doakan, tapi jangan hanya didoakan. Bangun komunikasi yang baik.” ~DFS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s