200th Post

Di tulisan saya yang ke-200 ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang mungkin dirasakan oleh beberapa orang di sekitar saya atau bahkan mungkin dirasakan oleh Anda sendiri.🙂 Izinkan saya untuk menceritakannya kepada Anda. Karena

“sebuah cerita harus dikatakan…
sebuah cerita harus didengarkan…
sebuah cerita harus dituliskan…”
~Cerita Dari Tapal Batas

Ucapan Terima Kasih

Dari hati yang terdalam, izinkan saya untuk menyampaikan beribu-ribu terima kasih atas usaha Anda memberi perhatian dan kasih sayang kepada saya. Izinkan saya berterima kasih kepada Anda, karena saya takut kalau saya tidak akan punya kesempatan menyampaikannya kepada Anda, karena saya tidak akan pernah tahu kapan Anda akan pergi dan terus menghilang atau mungkin saya yang akan pergi dan terus menghilang, sebelum saya sempat mengucapkan terima kasih kepada Anda.

Hargailah usaha seseorang yang memberimu perhatian dan kasih sayangnya. Karena kita tak akan pernah tahu kapan mereka akan pergi dan terus menghilang, sebelum kita sempat mengucapkan terima kasih.” ~Dien Rangga Rainggah

Permintaan Maaf

Sementara saya mengucapkan terima kasih kepada Anda, dari hati yang terdalam juga, izinkan saya meminta maaf kepada Anda. Meminta maaf karena sudah kurang menghargai usaha Anda untuk memberi perhatian dan kasih sayang kepada saya. Karena setiap usaha Anda dalam memberikan perhatian dan kasih sayang melalui kata tanya “Kenapa?” atau “Bagaimana?” sering kali tidak saya jawab atau tidak saya respon. Atau mungkin saya memilih diam dan mengalihkan pembicaraan atau bahkan melarikan diri dari pembicaraan. Sekali lagi, dari hati yang terdalam, izinkan saya meminta maaf kepada Anda.

Saya juga meminta maaf kepada Anda yang merasakan dampak secara langsung dari apa yang saya lakukan. Mungkin Anda yang sudah terbiasa berinteraksi dengan saya dan tahu benar saya seperti apa, ketika merasakan hal ini Anda bertanya-tanya “kamu kenapa?”“lagi ada masalah?”. Atau mungkin Anda complain “kamu kok berubah?” | “kamu udah ga pernah cerita-cerita lagi” | “kamu kok makin ekslusif“. Atau mungkin Anda marah, kecewa atau mungkin sampai menimbulkan “akar pahit” dalam hati Anda terhadap apa yang saya lakukan, terhadap sikap saya kepada Anda. Sekali lagi, izinkan saya meminta maaf kepada Anda. Kalimat-kalimat itu tidak hanya berasal dari seseorang, tapi beberapa orang sudah menyampaikannya kepada saya dan juga beberapa orang yang menitipkan kalimat-kalimat tersebut melalui perantara, saya juga sudah menerimanya. Untuk itu saya merasa perlu menceritakan cerita saya ini kepada Anda melalui “200th Post” ini. Karena

Keterbukaan adalah awal dari pemulihan.”

Saya tahu benar bagaimana rasanya “berpisah” dan “kehilangan”. Berpisah dari “rutinitas” yang dijalani selama ini. Berpisah dari orang yang selama ini dikenal. Kehilangan orang yang selama ini bersama menjalani “rutinitas”. Kehilangan orang yang selama ini dikenal. Dan mungkin itu juga yang Anda rasakan terhadap saya. Mungkin.

Tiga hal yang paling menyakitkan: perpisahan, kehilangan, pembentukan.

“Mengubah rutinitas itu sama saja dengan menawar bumi agar berhenti mengedari matahari.” ~Dee – Rectoverso

@GagasMedia Berpisah setelah terlalu terbiasa denganmu adalah sebuah siksaan.” #YouAreMySunshine

“Ada kalanya kita harus berpisah untuk sementara. Bukan untuk kesejahteraanmu, juga bukan untukku. Tapi untuk kesejahteraan bersama.” #braindistortion

*

Makhluk Sosial VS Makhluk Individu

Menjadi makhluk individu dan makhluk sosial adalah panggilan setiap manusia. Begitu juga dengan saya. Beberapa bulan bahkan satu tahun ke belakang, saya merenungkan kehidupan saya yang ternyata lebih banyak bermain peran sebagai makhluk (yang terlalu) sosial. Dalam posisi ini saya tidak hendak menyalahkan siapapun, hanya saja porsi “yang terlalu” menjadi masalahnya. Segala hal “yang terlalu” memang tidak baik. Dalam hidup semua harus sesuai dengan porsinya, jangan kelebihan, jangan kekurangan. Seimbang! Ya, itu kuncinya.

Saya jenuh berada dalam kondisi sebagai makhluk (yang terlalu) sosial. Saya berteriak dalam kesunyian “where  is ‘I, my, me, mine, myself…’?“ Dimana panggilan saya sebagai makhluk individu? Dimana kesempatan saya untuk bisa menikmati kehidupan hanya dengan diri saya sendiri (bersama sang Empunya Kehidupan tentunya). Hanya ada aku (dan Dia), tidak ada orang lain! Hal ini membuat otak dan hati saya mengalami pembiasan. #braindistortion #heartdistortion.

Pembentukan: Sakit!

Masing-masing peran punya konsekuensi ketika saya memilih salah satunya, baik menjalani peran sebagai makhluk individu atau sebagai makhluk sosial. Di saat saya mengambil keputusan untuk berperan sebagai makhluk sosial atau bahkan sebagai makhluk (yang terlalu) sosial, di saat yang sama saya harus menerima konsekuensinya. Hal yang sama akan terjadi ketika saya mengambil keputusan untuk berperan sebagai makhluk individu.

Ada harga yang harus dibayar ketika saya ingin mewujudkan kesejahteraan bersama. Saya perlu menanggalkan “jubah keegoisan” dan menggantinya dengan “jubah kesejahteraan bersama”. Ada harga yang harus dibayar dan itu menyakitkan! Menyakitkan karena merasakan pembentukan. Pembentukan melalui orang-orang di sekitar yang Tuhan izinkan hadir dalam kehidupan saya.

Tiga hal yang paling menyakitkan: perpisahan, kehilangan, pembentukan.

“Di saat aku sedang menidurkan keegoisanku, di saat itu pula aku sedang membangunkan kebahagiaan orang lain.” ~ManSor150713

Pembentukan melalui belajar “menidurkan” keegoisan dan “membangunkan” kebahagiaan orang lain itu sungguh amat menyakitkan. Bahkan teramat sangat menyakitkan. Tak jarang ketika saya menjalani pembentukan ini, tanpa sadar air dari indera pengelihatan saya mengalir deras dengan sendirinya. Kalaupun tidak ada air yang mengalir dari indera pengelihatan, saya berkamuflase. Saya tersenyum atau bahkan tertawa di luar, tapi sebenarnya jauh di lubuk hati yang paling dalam saya menangis. Tapi, satu hal yang pasti dan saya meyakini bahwa ♫ “..dan semua hal yang terjadi membuatku lebih dekat padaMu..” ♫ Semua pembentukan yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup saya akan membawa kebaikan bagi hidup saya selanjutnya.

“Selalu ada perbedaan di dalam sebuah hubungan, yang kadang menyebabkan masalah, tetapi juga menguatkan.” ~ManSor140713

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Amsal 27:17

**

Segitiga Bermuda

Ada masa di mana saya merasa menjadi segitiga bermuda. Masa di mana saya merasa menyedot semua perhatian banyak orang. Masa di mana saya merasa menyedot semua beban banyak orang. Masa di mana saya merasa menanggung semua beban itu tanpa bisa membagikan atau melanjutkan beban itu kepada orang lain.

@andreaspilipus “Ada kalanya menjadi orang yg selalu berinisiatif itu terasa sangat sangat melelahkan.”

Masa di mana saya merasa lelah untuk menjalani peran sebagai inisiator untuk beberapa “panggung sandiwara” tanpa diikuti oleh “pemeran lain” di dalam “panggung sandiwara” yang sama. Masa di mana saya merasa lelah untuk menjalani peran sebagai single fighter untuk beberapa “medan perang” tanpa diikuti oleh “pejuang lain” di dalam “medan perang” yang sama. Terkadang saya berpikir “apa saya yang terlalu berlebihan memikirkannya seorang diri? sementara orang lain tetap memikirkan, hanya saja tidak terlalu berlebihan atau memang mereka ‘masa bodoh’ dan menyerahkan semuanya kepada saya?” Lelah! Ko Andreas Pilipus berkata Manusiawi😀 “. Dan saya hanya bisa tersenyum dalam diam.

Titik Nadir

Ada masa di mana saya merasa dituntut untuk “membagikan” kepada orang banyak, tanpa “mengisi” diri lebih dulu. Ada masa di mana saya merasa “habis” karena “terhisap” orang banyak. Dan mungkin di masa itu, saya berada di titik nadir. Mungkin di masa itu, saya berada di titik nol atau bahkan minus dalam grafik kehidupan saya. Masa di mana saya merasa kehabisan tenaga untuk menapaki kehidupan ini. Masa di mana saya merasa kehabisan “bahan bakar” untuk menyalakan “kendaraan” yang saya gunakan untuk menjalani kehidupan ini.

***

Kembali KepadaNya

Dan di titik nadir itu, saya merasa perlu kembali kepadaNya. Kembali kemana? Kembali kepada siapa? Kembali mendekatkan diri kepadaNya, Sang Empunya Hidup. Kembali kepadaNya untuk memohon ampun, karena mungkin selama ini saya menjalani kehidupan sebelumnya tanpa bersandar kepadaNya. Saya tahu Dia tetap menyertai saya kemanapun saya melangkah, tapi saya tidak menyerahkan setiap langkah saya itu kepadaNya. Saya butuh waktu untuk menikmati kebersamaan denganNya, berdua saja, just the two of “us”. Saya butuh waktu untuk menikmati panggilan saya sebagai makhluk individu (bersamaNya).

Path-Alm.Uje

Lovable Person

Saya amat sangat bersyukur merasa menjadi orang yang disayangi oleh banyak orang. Lovable Person. Terserah Anda mau berkata apa: “GR (Gede Rasa) banget!” | “PD (Percaya Diri) amat sih!” | “narsis banget lo!”, yang jelas saya merasakan hal itu. Hal itu terbukti dari kalimat-kalimat di atas tadi “kamu kenapa?” | “lagi ada masalah?” “kamu kok berubah?” | “kamu udah ga pernah cerita-cerita lagi” | “kamu kok makin ekslusif“. Izinkan saya sekali lagi berterima kasih kepada Anda yang menjadi salah satunya. Izinkan saya berterima kasih untuk semua semangat, perhatian dan kasih sayang melalui kalimat “tetap semangat ya!” |bagaimana **-nya?” | kapan ******?” | udah *****?” | “apa yang bisa aku doakan?” |Text me if think you need someone to share or just to say something.” yang Anda berikan kepada saya. Tapi, di sisi lain, mungkin Anda perlu tahu, apa yang Anda berikan dan lakukan kepada saya sering kali justru membuat saya merasa sedih. Sedih karena merasa tidak bisa membalas semua yang Anda berikan dan lakukan (semangat, perhatian dan kasih sayang) kepada saya. Sedih karena merasa belum bisa berbuat banyak untuk melakukan bagian saya yang pada akhirnya akan menyenangkan Anda dan membalas itu semua.

Terus Belajar

Anda merasa saya berubah? Saya minta maaf kalau Anda merasakan seperti itu. Saya merasa sedang tidak berubah. Saya hanya sedang belajar dan terus belajar melalui pembentukan yang teramat sangat menyakitkan yang Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan saya melalui orang-orang yang ada di sekitar saya, untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Izinkan saya untuk menikmati waktu saya belajar secara pribadi (bersamaNya). Izinkan saya untuk menikmati waktu saya menyelesaikan apa yang harus saya selesaikan, mengerjakan apa yang harus saya kerjakan secara pribadi (bersamaNya).

“I never change. I just learn.” ~@damnitstrue | “People don’t change. They just become a clearer version of who they really are. They are just being more real and real as what they really are.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s