Pembentukan: Sakit!

[repost] Tiga Jam Kenyamanan

Manna Sorgawi, 15 Juli 2013
Filipi 2:5-8; Ibrani 10:24; 1 Korintus 13:5a

Aku dan Kim, suamiku sangat beruntung bisa mendapat tiket untuk kembali ke rumah orang tua kami, yang berada di kampung. Ketika menaiki bus dengan tiket yang ada, ternyata telah ada seorang wanita menduduki salah satu tempat duduk kami. Kim lalu menyuruhku untuk duduk, namun tidak meminta wanita itu berdiri. Saat menoleh ke arah wanita tersebut dan memerhatikannya, barulah aku menyadari mengapa Kim memberikan tempat duduknya, ternyata kaki wanita itu cacat. Sepanjang perjalanan, Kim terus berdiri dari Jiayi sampai Taipei. Aku sedikit kesal dengan sikapnya yang sedari awal tidak berusaha memberi tanda kalau itu sebenarnya adalah tempat duduknya. Aku melirik ke arah jam tanganku, sudah dua jam Kim berdiri, sedang perjalanan untuk sampai masih membutuhkan waktu sekitar sejam lagi. Wanita itu merasa tidak bersalah, entah karena ia tak tahu atau memang tidak mau tahu. Melihat wanita itu duduk manis dan melihat Kim berdiri di dekatku, hatiku semakin jengkel saja. Setelah turun dari bus, dengan nada sedikit menyindir aku pun berkata kepada Kim, “Memberikan tempat duduk kepada orang yang butuh memang baik, namun pertengahan perjalanan kan boleh memintanya berdiri agar gantian kamu yang duduk.” Aku terus saja mengoceh sedang Kim hanya diam saja. Ketika terus menggerutu, tiba-tiba Kim menghentikan langkahku, memegang kedua lenganku seraya menatapku dengan matanya yang jernih dan bercahaya, lalu menjawab, “Sayang, wanita itu, dengan keadaannya yang cacat sudah merasakan ketidaknyamanan seumur hidupnya, sedang aku hanya merasa kurang nyaman selama tiga jam saja, apa itu salah?” Jawaban Kim sontak meluluhkanku, hatiku serasa ditampar keras. Mengapa aku tidak bisa memandang dari sisi lain sebagaimana Kim melihatnya? Kim sedemikian baik, namun tidak mau orang lain tahu akan kebaikannya.

Ternyata segala hal yang menjengkelkan atau menyenangkan hanyalah tergantung bagaimana pola pikir kita di dalam menerima dan memandangnya. Setiap hal di dalam kehidupan bisa saja sangat menyiksa, bila kita menganggapnya demikian. Berdiri tiga jam di atas bus bisa sangat menjengkelkan, kita bisa marah dan memaki-maki meski hanya di dalam hati. Tetapi pilihan ada di tangan kita. Memilih atau menikmatinya, walau sedikit mengusik kenyamanan dan mengesampingkan hak kita, serta membiarkan  orang lain berbahagia melalui tindakan kita atau sebaliknya memilih untuk menggerutu.

Sebenarnya, setiap saat kita diperhadapkan untuk memilih antara mempertahankan hak atau ikhlas untuk berkorban. Pada saat kita melepaskan hak dan memilih untuk berkorban, di situlah kebahagiaan akan muncul. Itulah yang dilakukan Yesus untuk kita teladani, memilih untuk berkorban demi kebahagiaan kita saat ini dan kelak di Sorga. Mari belajarlah melakukan hal yang baik dan melepaskan ego walau tidak diketahui orang lain!

DOA

Terima kasih Yesus, yang telah rela melepaskan hak demi kebahagiaanku. Mampukanlah aku juga untuk memiliki hati yang rela berkorban tanpa pamrih. Dalam nama Yesus. Amin.

Di saat aku sedang menidurkan keegoisanku, di saat itu pula aku sedang membangunkan kebahagiaan orang lain.

Tiga hal yang paling menyakitkan: perpisahan, kehilangan, pembentukan. ~NIW

“Ternyata segala hal yang menjengkelkan atau menyenangkan hanyalah tergantung bagaimana pola pikir kita di dalam menerima dan memandangnya. Setiap hal di dalam kehidupan bisa saja sangat menyiksa, bila kita menganggapnya demikian.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s