Aku, Setengah Isi atau Setengah Kosong?

Pagi ini, aku melangkahkan kakiku menuju gedung perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, aku mengalami kebingungan dalam memilih buku apa yang akan aku baca, yang kemudian aku gunakan untuk berlatih menulis “ikatan makna”nya. Setelah berkeliling, akhirnya aku memilih buku “Setengah Isi, Setengah Kosong”, karya Bapak Parlindungan Marpaung. Buku ini berisi tentang motivasi dengan ilustrasi yang mungkin pernah atau sering ditemui di kehidupan nyata. Buku ini terdiri dari lima bagian, yaitu Kasih Sayang, Komunikasi, Motivasi, Profesionalitas dan Sikap Hidup, dan di setiap bagian memiliki banyak kisah (semacam buku Chicken Soup). Berikut, aku tuliskan “ikatan makna” dari buku ini dan aku hanya menuliskan salah satu kisah dari setiap bagian.

sumber gambar

I. Kasih Sayang: “Berbagi
Sepasang suami istri yang sudah lanjut usia sedang makan sop buntut kesukaannya. Tapi ada satu kejanggalan yang terjadi, mereka hanya memesan satu porsi sop buntut lengkap dengan nasinya dan segelas es teh manis, ditambah dengan satu piring kosong dan sendok. Sang suami membagi setengah porsinya kepada sang istri kemudian memakan bagiannya. Namun, sang istri tidak langsung memakan bagiannya. Dia asyik memandangi kekasihnya sambil tersenyum. Seorang anak muda yang melihat tingkah polah yang cukup aneh dari pasangan ini merasa iba karena berpikir mereka tidak mampu memesan sop buntut lebih dari satu porsi. Kemudian anak muda ini menawarkan kepada sang ibu untuk dipesankan satu porsi lagi. Tetapi sang ibu menolaknya dengan bahasa isyarat. Anak muda ini penasaran dan akhirnya dia bertanya kepada sang ibu kenapa dia menolak tawarannya. Jawaban mencengangkan keluar dari bibir sang ibu. Ternyata sang ibu sedang mempraktekan bagaimana berbagi dengan ketulusan hati, termasuk berbagi gigi palsu yang sedang digunakan sang suami untuk makan.

Dari kisah di atas, terjadi perbedaan cara pandang dari satu fenomena yang sama. Pasangan suami istri yang sudah lanjut usia memiliki cara pandang tentang “berbagi dengan ketulusan hati”, sedangkan sang anak muda memiliki cara pandang tentang “kasihan sekali orang tua ini hanya sanggup membeli satu porsi sop buntut untuk dimakan berdua”.

Berbagi dengan ketulusan hati tidak hanya membawa perubahan yang drastis bagi sang pemberi, tetapi bagi sang pemberi dan penerima, serta komunitas yang ada di sekitarnya. Aku berpikir, mungkin berbagi dengan ketulusan hati melalui tulisan-tulisan juga bisa membawa dampak bahkan perubahan yang drastis bagi orang lain.

II. Komunikasi: “Hati yang Menyapa
Saat membaca bagian ini, aku langsung teringat pada apa yang pernah kutuliskan tentang komunikasi. Ketika itu, aku sedang merenungkan beberapa hubungan yang kujalani: hubungan dengan Sang Pencipta (hubungan spiritual) dan hubungan dengan sesama. Dari perenungan yang kujalani, aku menyimpulkan bahwa dasar dari sebuah hubungan adalah komunikasi. Hubungan apapun: dengan Sang Pencipta, keluarga, kekasih / pasangan, teman / sahabat, rekan kerja dan lain sebagainya. Ketika terjadi konflik dalam sebuah hubungan, jika komunikasi yang terjadi di antara hubungan itu baik, maka konflik yang terjadi dapat diselesaikan dengan mudah.

Melalui bagian ini, pemahamanku dan cara pandangku tentang komunikasi bertambah. Pak Parlindungan menuliskan bahwa komunikasi merupakan kata kunci dan tindakan penting dalam membentuk, memelihara dan meningkatkan kualitas hubungan antar manusia. Komunikasi merupakan upaya, keterampilan, pengorbanan, serta dorongan kejernihan hati untuk mau membuka percakapan dan mendengarkan orang lain dengan lebih seksama.

III. Motivasi: “Setengah Isi, Setengah Kosong
Saat jam kantor menunjukkan pukul 15.45, akan ada dua pandangan yang terjadi pada karyawan-karyawan sebuah perusahaan. Pertama, ada yang memandang 15 menit terakhir jam kerja sebagai waktu yang tanggung untuk menyelesaikan pekerjaan hari itu. Kedua, ada yang memandang 15 menit terakhir jam kerja sebagai waktu yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan hari ini, karena besok akan ada pekerjaan yang harus diselesaikan. John Wesley berkata, “Lakukanlah yang terbaik yang bisa Anda lakukan, dengan segenap kemampuan, dengan cara apa pun, di mana pun, kapan pun, kepada siapa pun, sampai Anda sudah tidak mampu lagi melakukannya.”

“Setengah Isi, Setengah Kosong” merupakan perbedaan cara pandang. Ketika sebuah gelas diisikan air sampai batas setengah bagian gelas, akan ada dua cara pandang yang berbeda ketika melihatnya. Pertama, ada yang berpandangan bahwa gelas tersebut berisi setengah penuh air. Kedua, ada yang berpandangan bahwa gelas tersebut setengah kosong. Cara pandang “Setengah Isi” merupakan cara pandang yang positif (positive thinking), sedangkan cara pandang “Setengah Kosong” merupakan cara pandang yang negatif (negative thinking).

IV. Profesionalitas: “Gara-gara Lumpia
Pak Su’eb adalah seorang general manager sebuah hotel di Semarang dan Pak Badrun adalah pelanggan setianya. Pak Badrun menjadi pelanggan setia hotel ini sejak saat pertama kali dia menginap di hotel ini Pak Su’eb menyajikan lumpia Semarang yang sangat disukainya. Setiap kali Pak Badrun didelegasikan untuk bertugas ke Semarang, dia pasti menginap di hotel ini dan dengan sigap Pak Su’eb selalu menyediakan lumpia kesukaan Pak Badrun. Seiring berjalannya waktu, tarif hotel naik menjadi agak mahal. Namun, hal ini tidak menghalangi Pak Badrun untuk menginap di hotel ini, sekalipun dia harus merogoh koceknya lebih dalam guna menutupi kekurangan biaya akomodasi yang diberikan perusahaannya. Rekan kerjanya heran mengapa Pak Badrun senang sekali menginap di hotel ini dan dengan santai Pak Badrun menjawab “Lumpianya enak!”

Melayani dengan profesionalitas yang dilakukan oleh Pak Su’eb sebagai seorang general manager hotel membuat Pak Badrun selalu ingin kembali ke hotelnya. Melalui kisah ini, Pak Parlindungan menyampaikan bahwa melayani dengan tulus dapat dimulai dari keseriusan menekuni dan menjalani profesi, tugas, maupun pekerjaan yang diamanahkan saat ini dengan meletakkan kepentingan orang lain lebih utama dari kepentingan diri sendiri.

Martin Luther berkata, “Jika seseorang terpanggil menjadi tukang sapu jalan, hendaklah ia menyapu sebagaimana Michael Angelo melukis atau Beethoven menciptakan musik atau Shakespare menulis puisi. Hendaknya ia menyapu jalan dengan sangat baik sehingga segenap isi surga dan bumi serentak menghentikan kegiatan mereka dan berkata, di sini tinggal seorang penyapu jalan yang agung yang menjalani tugasnya dengan sangat baik.”. Saat membaca bagian ini aku berimajinasi “Berarti hal ini juga berlaku saat aku terpanggil mengikuti pelatihan menulis ini. Aku harus berlatih menulis, mana tahu suatu saat nanti segenap isi surga dan bumi serentak menghentikan kegiatan mereka dan berkata, di sini tinggal seorang penulis yang agung yang menjalankan tugasnya dengan sangat baik, hahaha.”.

V. Sikap Hidup: “Ujian Hidup
Untuk mendapatkan perak dengan kualitas terbaik, seorang perajin perak harus melakukan pemurnian sebanyak tujuh kali. Keletihan tidak hanya dirasakan oleh sang perajin, tapi mungkin dirasakan juga oleh perak itu sendiri. Ia harus mengalami proses pemurnian di perapian yang sangat panas dan menyakitkan dirinya. Yang lebih parah adalah pemurnian ini dilakukan sebanyak tujuh kali.

Begitu juga dengan menulis. Kegiatan menulis bisa dilakukan oleh siapa saja. Namun, untuk menghasilkan sebuah atau banyak tulisan yang bagus, diperlukan latihan berulang-ulang. Tidak cukup berlatih satu kali atau tujuh kali seperti proses pemurnian perak. Latihan menulis perlu dilakukan berkali-kali dan diuji apakah sudah menghasilkan tulisan yang bagus atau belum, kalau belum latihan dan uji kembali. Memang ada harga yang harus dibayar dan komitmen yang harus dipenuhi ketika kita berani untuk menekuni suatu bidang tertentu.

Socrates berkata, “Hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi (unexamined life is not worth living). Hanya ada satu tempat di dunia ini di mana manusia terbebas dari segala ujian hidup, yakni kuburan. Berarti, tanda bahwa manusia tersebut masih hidup adalah ketika dia mengalami ujian, kegagalan, dan penderitaan. Lebih baik kita tahu mengapa kita gagal daripada tidak tahu mengapa kita berhasil.”.

Selamat berlatih memiliki cara pandang “Setengah Isi” dan semangat berlatih menulis!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s