Kegilaan dalam Kesendirian

dari Bandung ke Jakarta, Rabu, hari ke dua puluh empat dalam bulan kesepuluh di tahun dua ribu dua belas….

Niat untuk pulang ke Jakarta hari ini begitu spontan. Awalnya berencana pulang hari Sabtu, kemudian berubah ke hari Kamis (karena permintaan sang ibu). Tapi, mendadak aku memutuskan untuk pulang sore ini. Tadi siang, aku bertanya kepada empat orang teman laki-laki, satu orang teman perempuan, bertanya kepada mereka apakah mereka bisa dimintakan tolong untuk mengantarku ke travel sore ini. Ternyata semua tidak bisa. #okehsip Jam 15.18 aku berangkat dari kosan naik angkot. Sampai di pool travel sekitar jam 15.50. Saat jam dinding menunjukkan pukul 16.00, kamipun berangkat. Aku memberitahu ibu di rumah “Mam, aku berangkat sekarang naik Baraya :D” | “Ya.” 

Setelah dua setengah jam berlalu di perjalanan, akupun tiba di gerbang tol Cikarang Utama. Aku kembali memberitahu ibu “Mam, aku udah di Cikarang.” | “Dik, pulang sendiri ya. Ibu mau kebaktian di rumah Bu Girsang.” | “Jiaaaaaahh, jadi ga dijemput nih?” | “Iya, macet. Nanti ga keburu.” | “Okedeh, mam” | “Sorry ya say.” | “It’s okay.” Setelah turun dari travel, otakku mendadak berpikir keras pulang naik apa? Masalahnya, uang di saku jeans sisa dua ribu rupiah, buahahahaha. Padahal kalau naik angkot harus dua kali dan setidaknya butuh lima ribu rupiah untuk membayar jasa angkot. Aku coba bertanya pada sang abang tersayang “Brader, lagi dimana?” | “Baru sampe kantor, seharian keliling-keliling, kenapa?” | “Ga apa sih, tadinya mo minta tolong jemput di Baraya, bapak lagi kebaktian.” | “Emang mau dijemput jam berapa?” | “Sekarang sih, baru nyampe nih, tapi kalo ga bisa ga apa sih, hehe.” | “Mamas baru sampe kantor nih” | “Oh, ya udah ga apa” | “Maap-maap banget nih ya” #okehsip (lagi). Akhirnya aku memutuskan untuk jalan kaki dengan niat awal jalan kaki sampai pool angkot kedua (‘kan dua kali ngangkot ceritanya).

Setelah jalan sekitar 1 KM (menurut googlemap), aku bertemu dengan angkot yang sedang parkir di pinggir jalan dan ternyata pak supirnya lagi cuci muka. Sempat kontak mata, tapi aku ragu. Sampai akhirnya, sang pak supir yang sudah cukup banyak makan asam garam kehidupan (terlihat dari guratan wajahnya) menyapaku. “Ayuk, neng” | “(dengan sumringah) waaaaahh, numpang ya pak” | “Ayuk!” | (masuk pintu samping) | “Sini aja di depan” | “hehe, di sini aja pak” | “Sampe mana neng?” | “Sampe pangkalan jati situ aja pak” | “Emang mau pulang ke mana neng?” | “ke Cipinang pak” | “Cipinang mana?” | “Cipinang Muara, pak. Nanti nyambung 54 di situ.” | “Ohya, ya. Nanti di sana aja ya tempat tem-tem-an” | “Iya, pak”. Sesampainya di pool angkot nomor 54, sang pak supir yang baik hati tak memberikanku izin untuk meninggalkan angkotnya. Aku menikmati kemana Tuhan membawaku melalui angkot ini. Ternyata sang bapak menurunkanku di lampu merah pondok bambu. (pikirku) “ah, ku bayar ajalah, ini masih ada dua ribu, terus lanjut jalan kaki ke rumah, ga terlalu jauh ini”. Saat sang bapak sudah mengizinkanku untuk turun, kemudian aku menyodorkan uang dua ribu rupiah yang tersisa di saku jeans. “Ini pak” | “udah ga usah” (seraya menggoyangkan sikunya, tanda penolakan). Aaaaaaaaah, terima kasih Tuhan, berkati bapak itu, aku berusaha membaca kartu pengenalnya supaya aku tahu nama beliau, tapi keterbatasan indera pengelihatan jadi tak terbaca.

Masih berpikir, naik angkot atau jalan kaki saja? Aku memutuskan untuk jalan kaki. Hitung-hitung bayar ketertundaan badminton kemarin, jadi olahraganya malam ini saja. Aku menyusuri Banjir Kanal Timur (BKT) sepanjang Jalan Jendral Basuki Rahmat. Sepi. Karena itu adalah jalur sepeda yang biasa digunakan saat Car Free Day. Untungnya masih ada lampu jalan, jadi setidaknya tak mendadak “feeling alone and lonely“, hahahaha. Aku sempat bertemu dengan dua orang pemuda yang entah sedang apa di sana. “Kok jalan kaki neng, biar sehat ya?” | “hahaha, iya bang.”

Ternyata banyak juga langkah yang kujalani malam ini, sudah sampai sepuluh ribu langkah belum ya? hahahaha. Menurut googlemap total perjalananku dengan jalan kaki malam ini adalah 2,3 KM. Aku lupa apakah ini jarak jalan kaki terpanjang selama dua puluh dua tahun, dua puluh empat hari selama hidup di dunia ini atau bukan. Sesampainya di gang masuk menuju ke rumah ada kepuasan tersendiri ketika menyadari penyertaan Tuhan yang luar biasa malam ini. Terima kasih Tuhaaaaaaaan!😀 Ah, luar biasa pengalaman kita berdua malam ini.

Hal gila apa yang pernah Anda lakukan dalam kesendirian (tanpa manusia lain)? hahaha.

2 thoughts on “Kegilaan dalam Kesendirian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s