Makhluk Sosial [bagian 5]

Sepertinya memang sudah tidak dapat dilepaskan gelar “makhluk (yang terlalu) sosial” ini dari diriku. Memang gelar “makhluk sosial” sudah aku usung sejak lahir, tetapi setelah menjalani kehidupan kurang lebih selama dua puluh dua tahun, sebelas bulan, dua belas hari di muka bumi ini, aku merasa gelar “makhluk sosial” itu mulai berkembang menjadi “makhluk (yang terlalu) sosial”. Dan rasa-rasanya bahan pembicaraan akhir pekan di minggu ini satu paket. Setelah tadi malam membahas tentang pasangan hidup, siang tadi diingatkan tentang persekutuan. Lagi-lagi tentang kehidupan bersosialisasi dari makhluk (yang terlalu) sosial.

Hari ini aku ikut persekutuan Jumatan di PMK IT Telkom. Tema hari ini membahas tentang Persekutuan dengan judul Bukan Sekedar Ngumpul. Penyampaian Firman Tuhan yang ringan namun sampai di hati oleh Ko Ariel.

“Mungkin kamu berpikir dan bertanya-tanya, kenapa sih harus ikut persekutuan? kenapa harus datang ke acara yang membosankan ini? bentuk acaranya monoton, gitu-gitu aja, (atau mungkin lebih parahnya) kenapa harus mendengarkan orang ini berbicara tentang Firman Tuhan?”

Setidaknya ada tiga alasan mendasar dari pertanyaan “Kenapa harus ikut persekutuan?”

  1. Karena kita membutuhkannya! Pengkhotbah 4:9-12 dan Kisah Para Rasul 2:41-47


    “Kalau cuma merasa cukup menjadi Kristen hanya dengan memberikan waktumu 1-2 jam dalam seminggu, ga usah berdoa! Itu ga tau diri namanya, minta berkat Tuhan sepanjang 6 atau bahkan 7 hari, tapi kau hanya memberikan waktumu 1-2 jam dalam satu minggu.” | “Kalau kau merasa tidak membutuhkan persekutuan, perlu dipertanyakan apakah kau sudah benar-benar lahir baru dan sungguh-sungguh percaya serta mengasihi Tuhan Yesus?” ~Ko Ariel. 

    Karena panggilan alami dari orang-orang yang sudah benar-benar lahir baru dan sungguh-sungguh percaya serta mengasihi Tuhan Yesus adalah memiliki kerinduan untuk hadir dalam persekutuan.

  2. Karena itu adalah perintah! Efesus 4:15-161 Korintus 12:27 dan Ibrani 10:25


    Tubuh bisa melalukan sesuatu bukan karena kemauannya sendiri, tapi karena ada perintah dari kepala (dari otak). Kaki mau berjalan, bukan dengan sendirinya ia berjalan, tapi karena ada perintah dari kepala. Begitu juga dengan Tubuh Kristus. Kristus adalah Kepalanya dan masing-masing kita adalah anggota TubuhNya. Kalau Dia, yang adalah Kepala, memerintahkan untuk bersekutu, sudah seharusnya, kita sebagai anggota menjalankan itu semua dengan senang hati. Bukan  (hanya) karena perintah, tapi karena merasakan itu adalah kebutuhan.
  3. Karena kita dipanggil untuk berfungsi dan bertumbuh! Filipi 2:1-7


    Persekutuan seharusnya dapat membentuk karakter kita (makin serupa) seperti Kristus.

“Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s