Persiapan Perjamuan Kudus

Persiapan Perjamuan Kudus
Ibadah Keluarga Gabungan, 25 Juli 2012
GPIB Torsina, Jakarta Timur
1 Korintus 11:17-34

Perikop ini diberi judul oleh LAI “Kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam perjamuan malam”, tapi dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia sehari-hari LAI memberi judul perikop ini “Perjamuan Tuhan”.

Dalam terjemahan Bahasa Indonesia sehari-hari, perikop ini dibagi menjadi empat paragraf.

  1. Paragraf Pertama: ayat 17-22, “Paulus menegur dengan keras Jemaat Korintus”
    Paulus mendapat “laporan” bahwa Jemaat Korintus:

    • Timbul perpecahan dan terdapat pertentangan dalam pertemuan ibadah mereka.
      Paulus menganggap bahwa timbulnya perpecahan dan pertentangan di dalam Jemaat adalah sebuah hal yang wajar (memang seharusnya terjadi). Mengapa? Karena melalui hal ini akan semakin jelas terlihat siapa di antara mereka yang adalah orang Kristen yang sejati.
    • Tidak melakukan hal yang sewajarnya dalam Perjamuan Tuhan (Perjamuan Kudus).
      Paulus mengingatkan (dan juga menegur dengan keras, ayat 17 “Mengenai berikut ini, saya tidak memuji kalian.” Dan ayat 22 “Apakah yang harus saya katakan kepada kalian? Haruskah saya memuji kalian? Tidak! Sekali-kali saya tidak akan memuji kalian.”) jemaat di Korintus, supaya mereka menjadi disiplin dan mengingat orang lain dalam Perjamuan Tuhan (Perjamuan Kudus) ataupun dalam perjamuan kasih.

      Di Ayat 20, dengan jelas Paulus menyampaikan bahwa perjamuan yang mereka lakukan bukanlah Perjamuan Tuhan. Kenapa? Alasannya ada di ayat 21 dan 22. Dalam perjamuan yang mereka adakan, mereka berebut untuk mengambil makanan mereka masing-masing sampai-sampai tidak mengingat orang lain.

      Melalui hal ini, seolah-olah Paulus mau mengingatkan, untuk mengenyangkan diri lebih baik kita lakukan di rumah masing-masing, kalau mau mengenyangkan diri lebih baik di luar perjamuan, jangan di dalam perjamuan, baik perjamuan kasih maupun Perjamuan Kudus. Adalah baik makan sebelum datang ke Perjamuan Kudus. Kenapa? Supaya kita fokus dalam ibadah, tidak memikirkan perut yang lapar, dan supaya tidak sakit perut (untuk kita yang punya masalah dengan saluran pencernaan, entah sakit maag, atau sakit perut karena minum anggur yang cukup membuat perut panas kalau benar-benar kosong sebelum minum anggur).

      Contoh: Dalam perjamuan kasih yang dilakukan di rumah salah seorang Jemaat dalam rangka pengucapan syukur ulang tahun misalnya. Adalah kurang baik kalau kita mengenyangkan diri di dalam perjamuan kasih tersebut (makan sebanyak-banyaknya, tidak mengingat orang lain seperti yang dilakukan Jemaat Korintus). Atau dalam Perjamuan Kudus, biasanya roti yang dibagi adalah roti yang dipotong kecil-kecil dan anggur dibagi dituang dalam sloki kecil. Mungkin kita merasa kurang puas dengan roti dan anggur tersebut karena porsinya terlalu kecil.

      Melalui perikop ini juga, seolah-olah Paulus menasihatkan dengan keras, “Kalo lo mo kenyang, makan di rumah, beli roti sendiri, anggur sendiri, makan-minum deh lo sampe puas! Jangan di gereja (tempat Perjamuan Kudus), kaya orang ga punya rumah aja lo!”

  2. Paragraf Kedua: ayat 23-26, “Paulus mengingatkan tentang Perjamuan Malam Terakhir sebelum Tuhan Yesus disalibkan”
    Setelah menegur dengan keras dan menasihati Jemaat Korintus, (tiba-tiba) Paulus mengalihkan pembicaraan tentang Perjamuan Malam Terakhir sebelum Tuhan Yesus disalibkan. Dalam perjamuan itu, Tuhan Yesus sudah lebih dulu mengajarkan tentang keseimbangan dan kedisiplinanKeseimbangan diwujudnyatakan dengan roti yang mereka makan, terlebih dulu Tuhan pecah-pecahkan (dibelah-belah, zaman ini dipotong-potong dadu, atau bulat-bulat seperti hosti) supaya setiap orang mendapatkan ukuran yang sama, begitu juga dengan anggur yang dituang dalam sloki-sloki kecil. Kedisiplinan untuk mengambil bagiannya dengan baik, seorang satu potong roti dan satu sloki anggur, tidak ada yang mengambil lebih dari itu, supaya semua orang mendapatkan bagian yang sama.

    Namun, yang paling penting bukanlah tentang roti dan anggur tersebut. Roti dan anggur hanyalah sebuah lambang dari tubuh dan darah yang sudah Tuhan korbankan untuk menebus dosa manusia. Yang paling penting adalah bagaimana kita memaknai Perjamuan Kudus tersebut.

  3. Paragraf Ketiga: ayat 27-32, “Paulus mengingatkan untuk mempersiapkan diri (terlebih hati) sebelum mengikuti Perjamuan Kudus”
    Paulus mengingatkan kita untuk mempersiapkan diri (terlebih hati) sebelum mengikuti Perjamuan Kudus. Mempersiapkan diri untuk:

    • Makan terlebih dahulu supaya kita fokus dalam ibadah, tidak memikirkan perut yang lapar, dan supaya tidak sakit perut (untuk kita yang punya masalah dengan saluran pencernaan, entah sakit maag, atau sakit perut karena minum anggur yang cukup membuat perut panas kalau benar-benar kosong sebelum minum anggur).
    • Menjaga kesehatan diri, supaya tidak menjadi lemah, sakit atau bahkan mati.
  4. Paragraf Keempat: ayat 33-34, “Kesimpulan nasihat Paulus”
    Di paragraf terakhir, Paulus mengulas kembali nasihat dan terguran yang sudah disampaikan di awal. Ayat 33 “kalian harus saling menunggu.”, setelah semua dapat roti dan anggur, baru dimakan sama-sama, tidak ada yang makan duluan setelah dapat roti atau minum duluan setelah dapat anggur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s