in Relationship (part 3)

“Masa menjalin hubungan (berpacaran) adalah masa perkenalan satu sama lain, di mana hubungan ini akan mencapai klimaksnya dalam peneguhan hubungan yaitu pernikahan.” Itulah pemahaman yang selama ini kupegang (mungkin pemahaman kita berbeda atau Anda kurang setuju dengan pemahaman ini, tidak apa-apa :D).

Saat mengevaluasi diri sambil sejenak berkaca pada kaca spion kehidupan, ternyata saat aku menjalani sebuah hubungan “Lebih Dari Teman Biasa, Tapi Belum Jadi Kekasih” (Bab 5-Boy Meets Girl), aku banyak berpikir dan bertanya-tanya tentang hubungan yang sedang kujalani (saat itu). “Gimana hubungan gue sama dia? Kalo dia masuk ke keluarga gue, bisa nyambung ga ya? (membayangkan sebuah suasana acara keluarga besar) Cocok ga dia sama bokap-nyokap-abang gue? Apa bisa dia nerima kelebihan-kekurangan keluarga gue? Dan, gimana jadinya kalo dia jadi bapak dari anak-anak gue? (berarti pemikiranku saat itu sudah sampai ke pernikahan) dst. (dan sebaliknya, aku mencoba untuk memposisikan diri ketika aku masuk ke dalam dan/atau menjadi bagian dari keluarganya)” Selama ini, semua pertanyaan itu belum terjawab. Sehingga aku menyimpulkan bahwa sebenarnya aku belum siap berpacaran, karena aku belum siap untuk menjalani (dan belum memikirkan tentang) pernikahan. Pada akhirnya, aku memilih untuk melebarkan sayap pertemanan (karena kalau berteman tidak akan ada yang ditutupi, siapa aslinya kita akan terlihat) dengan orang-orang yang ada di sekelilingku. Selain itu, karena belum dapet Surat Izin Mulai Berpacaran (SIM B :P) dari orang tua (sekolah dulu ceunah, haha).

Sedikit intermezo: Tak salah kalau dikatakan bahwa untuk zodiak Scorpio (ini kebetulan pas aja dengan pengalaman😛 jangan dipercaya terlalu lebay,hehe): “Anda termasuk orang yang konservatif dalam hal asmara, sehingga sebenarnya tidak mudah bagi Anda jatuh cinta dan menunjukkan rasa suka pada orang lain. Inilah mengapa sebagian dari Anda memilih menunggu hingga ada signal pasti bahwa ada orang yang mengharapkan cinta Anda. Mereka tidak akan terlibat dalam suatu hubungan tanpa penyelidikan terlebih dahulu untuk mengetahui apakah pilihannya itu merupakan pribadi yang setia dan jujur.” 

Setelah membaca buku ini, (setelah sekian lama, akhirnya aku meng-khatam-kan buku “Boy Meets Girl” karangan Uncle Joshua Harris ini) sedikit-banyak pemahamanku diperbaharui dan pemikiranku dibukakan tentang hal-hal yang selama ini aku tidak tahu.

Menurutku, buku ini menjadi salah satu buku yang wajib dibaca oleh semua kawula muda yang hidup di zaman posmodern ini. Dan menurutku juga, buku ini dapat dibaca oleh semua golongan status relationship: single, double (#eh) berpacaran, menikah, sudah menikah, pernah menikah; tapi memang, buku ini lebih cocok dibaca oleh mereka yang tergolong dalam status lajang, pedekate, ataupun yang akan menikah. Baiklah, aku akan membagikan apa saja yang kudapat dari buku ini.

Bagian I: Memikirkan Ulang Percintaan

  • Bab I: Apa yang Kupelajari Sejak Tidak Berkencan Lagi
    Dalam bab ini aku diajak untuk memikirkan ulang dan bersabar dalam menjalin sebuah hubungan. Uncle Josh sedikit mengulas buku pertamanya “I Kissed Dating Goodbye”. Dalam buku itu, Uncle Josh menantang para jomblowan-jomblowati untuk meninjau ulang bagaimana mereka menjalani kehidupan asmara di dalam terang firman Tuhan. “Kalau kamu belum siap menikah, jangan terlibat urusan percintaan.”Uncle Josh menasihati.
    “Jangan biarkan ketidaksabaran menguasaimu. Jadilah temannya, tapi jangan menceritakan ketertarikanmu sampai kamu betul-betul siap memulai hubungan yang memiliki tujuan dan arah yang jelas. Jangan main-main dengan perasaannya.”, nasihat Auntie Carolyn, pendetanya Uncle Josh.
  • Bab II: Temukan Kembali Seni Menjalin Hubungan Lawan Jenis
    Dalam bab ini aku dibukakan tentang bagaimana seni menjalin hubungan lawan jenis. Uncle Josh mengatakan bahwa Menjalin Hubungan Lawan Jenis adalah kencan dengan tujuan, percintaan yang dipandu hikmat, cara menjalin hubungan yang dapat menolong kita melakukan firman Tuhan sementara menjajaki kerinduan hati kita, kisah cowok bertemu cewek, entah akhirnya menikah atau tidak, kamu dapat saling mengenal dengan keyakinan bahwa kamu masing-masing memilki pemberian Tuhan yang terbaik di masa depanmu.
  • Bab III: Percintaan dan Hikmat: Dijodohkan dari Surga
    Dalam bab ini aku dibukakan bahwa ketika kita memandu percintaan dengan hikmat, kita memiliki percintaan yang cermat – percintaan yang dituntun oleh apa yang benar di mata Tuhan dan tentang dunia yang telah diciptakan-Nya. Uncle Josh menasihatkan untuk menikmati setiap hidangan “kisah cinta” menurut urutannya – perkenalan, persahabatan, menjalin hubungan lawan jenis, pertunangan, pernikahan, jangan dibolak-balik, jangan dicampuraduk!
    Saat kita bisa mengombinasikan cinta kasih dan hikmat, itulah saatnya menjalin hubungan lawan jenis. Untuk mengujinya, jawablah 3 pertanyaan berikut: 1) Sanggupkah kamu bersabar? 2) Dapatkah kamu menetapkan arah yang jelas untuk hubungan ini? 3) Apakah perasaanmu berdasarkan realitas?
    Setiap orang dapat mengalami perasaan yang menggebu-gebu, namun hanya orang yang mencari kehendak dan waktu Tuhan dapat mengalami sukacita sejati dalam percintaannya yang romantis.
  • Bab IV: Bagaimana Caranya, Siapa Orangnya, Kapan Waktunya
    Dalam bab ini aku dibukakan bahwa adalah salah kalau kita menilai bahwa proses penentuan bagaimana, kapan dan dengan siapa kita menjalin hubungan adalah sesuatu yang harus dituntaskan dulu supaya kita dapat melangkah maju – mulai menjalin hubungan lawan jenis, lalu lanjut dengan pernikahan. Tuhan tidak pernah terburu-buru. Tujuan Tuhan dalam semuanya ini bukan hanya untuk membawa kita untuk membawa kita pada pernikahan semata. Ia ingin memakai proses ini berikut segala pertanyaan dan ketidakjelasan yang terlibat di dalamnya untuk membentuk kita, menguduskan kita dan menumbuhkan iman kita.
    Ingatlah, yang penting bagi Tuhan bukan hanya tujuan sebuah perjalanan, tetapi juga perjalanan itu sendiri.

Bagian II: Masa Menjalin Hubungan Lawan Jenis

  • Bab V: Lebih dari Teman Biasa, Tapi Belum Jadi Kekasih
    Dalam bab ini aku dibukakan tentang untuk meniti masa menjalin hubungan yang sukses dan menyenangkan kita perlu pertumbuh dan berjaga dalam tiga hal:
    Persahabatan: bertumbuh dan menjaga hati dalam persahabatan itu temponya tidak terburu-buru, fokusnya diarahkan kepada usaha saling mengenal kehidupan pihak lain, bukan menciptakan keintiman prematur atau ketergantungan emosi, dan ruang(persahabatan)nya akan semakin luas seiring dengan berlalunya waktu. Janganlah persahabatan dan hubungan dengan teman-teman lainnya, apalagi keluarga menjadi tersisih. Ingatlah bahwa eksklusivisme yang prematur dapat menyebabkan kalian saling tergantung lebih dari yang seharusnya. Tetaplah setia pada hubungan persahabatan dan tanggung jawabmu.
    Persekutuan: menjaga buah persekutuan yang benar-benar alkitabiah artinya meningkatkan kasih dan hasrat kita kepada Tuhan, bukan meningkatkan ketergantungan emosi satu sama lain. Memastikan bahwa kita tidak mencoba mengambil tempat Tuhan dalam kehidupan teman kita. Saling mengingatkan bahwa sumber penghiburan, sumber dorongan dan semangat hanya ada di dalam Tuhan, dan bukan pada teman kita.
    Asmara: bertumbuh dalam asmara sebaiknya terjadi hanya ketika persahabatan dan persekutuan sudah menjadi semakin dalam. Inti dari asmara yang murni adalah suatu upaya – seorang laki-laki menunjukkan kepedulian, kasih sayang dan cintanya yang tulus lewat kata-kata dan perbuatan. Sementara si perempuan menanggapinya dengan “gayung bersambut”.
  • Bab VI: Bagaimana dengan Bibir Kita?
    Dalam bab ini aku dibukakan tentang apa, bagaimana dan pentingnya komunikasi dalam sebuah hubungan. Komunikasi adalah sesuatu yang lebih dari sekedar berbicara; komunikasi adalah menyimak. Dan lebih dari sekedar menyimak, komunikasi itu mengerti, lalu dengan benar menanggapi apa yang kita dengar. Komunikasi yang jelas terjadi hanya bila dua orang, tidak saja tahu apa yang harus dikatakan, tapi juga tahu kapan dan bagaimana mengatakannya.
    Ada 5 prinsip Komunikasi yang Autentik: 1) Masalah Komunikasi Biasanya Masalah Hati, 2) Telingamu adalah Alat Komunikasi yang Paling Penting, 3) Komunikasi yang Baik Tidak Terjadi dengan Sendirinya, 4) Tidak Ada Konflik Bukan Berarti Komunikasi Berjalan dengan Baik dan 5) Motif Lebih Penting daripada Teknik.
  • Bab VII: Jika Cowok Menjadi Pria Sejati, Apakah Cewek Menjadi Wanita Bijak?
    Dalam bab ini aku benar-benar dibukakan tentang panggilan untuk menjadi laki-laki dan perempuan yang sesuai dengan tujuan penciptaan. Alkitab mengatakan bahwa peranan kita sebagai pria dan wanita adalah bagian dari kisah agung yang sedang Allah ceritakan. Adam diciptakan lebih dulu – pertanda peranan Adam yang unik sebagai pemimpin dan inisiator. Dan Hawa diciptakan untuk melengkapi, mendukung dan menolong suaminya.
    Hai Kaum Adam, dalam hubungan dengan seorang perempuan, ambil perananmu sebagai pemimpin dan inisiator, jadilah pemimpin rohani, lakukanlah hal-hal kecil yang mencerminkan kepedulian, respek dan keinginan untuk melindungi, dan berilah dorongan agar kaum Hawa mempraktikan peran kewanitaannya sesuai dengan Alkitab.
    Hai Kaum Hawa, dalam hubunganmu dengan cowok-cowok yang anak Tuhan, berilah mereka dorongan dan berilah kesempatan kepada mereka untuk mempraktikan kepemimpinan yang bersifat hamba, jadilah saudara dalam Tuhan, tumbuhkan sikap yang memandang keibuan sebagai panggilan yang terhormat dan binalah kewanitaan yang Alkitabiah dan kecantikan batiniah dalam hidupmu.
    Allah menciptakan kaum Adam untuk menjadi laki-laki bagi kemuliaan-Nya dan kaum Hawa untuk menjadi perempuan bagi kemuliaan-Nya.
  • Bab VIII: Menjalin Hubungan Lawan Jenis – Proyek Bersama
    Dalam bab ini aku berharap memiliki kisah kasih – cerita cinta seperti yang dialami oleh Uncle Kerrin dan Auntie Megan. Dimana, pada saat mereka menikah, pernikahan mereka bukan hanya untuk mereka berdua, tapi pernikahan mereka menjadi bagian dari teman-teman, saudara-saudara, terlebih keluarga. Sukacita mereka bukan hanya untuk mereka berdua, tapi untuk semua orang yang terlibat dalam hubungan mereka berdua. Kisah mereka didukung, diperhatikan, dilindungi, diingatkan diuji oleh keluarga, teman-teman, pendeta, komunitas, gereja, sehingga mereka semua juga menjadi bagian dalam hubungan Uncle Kerrin dan Auntie Megan. Pepatah kuno berkata “Cinta itu Buta”. Itulah kenapa pada saat menjalin sebuah hubungan kita perlu  masukan, arahan, peringatan, nasihat dari orang lain untuk membantu kita melihat kenyataan dan tidak dibutakan oleh cinta.
  • Bab IX: Cinta Sejati Tidak Hanya Menunggu
    Dalam bab ini aku dibukakan tentang pentingnya menjaga kekudusan hidup dalam menjalin sebuah hubungan. Panggilan Allah agar kita menjaga kekudusan seks adalah suatu berkat. Keintiman seksualitas sebelum menikah sama sekali bukan tanda cinta. Sebelum menikah, sejoli yang belum menjadi suami-istri dapat membuktikan cinta mereka dengan jalan mengesampingkan keinginan seksual mereka dan saling menjaga kesucian hidup masing-masing.
    Seks dalam pernikahan menjadi indah, memuaskan dan kreatif. Seks di luar pernikahan menjadi jelek, menghancurkan dam tercela, juga berdosa. Dan Tuhan tidak main-main dengan dosa. Daud, ketika memiliki affairdengan Batsyeba, Tuhan membenci dosanya dan menghukumnya. Walaupun Daud diampuni ketika dia bertobat, tapi konsekuensi dosa itu tetap berlaku di sisa hidupnya. Standar kebenaran Allah tidak dapat dikompromikan dengan apapun/siapapun.

Bagian III: Sebelum Kamu Berkata, “Ya, Saya Bersedia.”

  • Bab X: Bila Masa Lalumu Datang Mengetuk
    Dalam bab ini aku dibukakn tentang bagaimana meresponi dosa-dosa di masa lalu yang datang mengetuk. Kita perlu memandang salib. Kenapa? Karena di salib itulah satu kali untuk selamanya, dosa-dosa kita dahulu, sekarang dan akan datang sudah diampuni – secara total. “Pengampunan adalah sebuah janji, bukan sebuah perasaan.”, Jay Adams. Untuk kepentingan berdua dan kebaikan dalam kehidupan pernikahan (nantinya), sebagai sejoli kita perlu saling mengaku, mengampuni dan meneguhkan, namun jangan kamu sampaikan secara detail (dalam pengakuanmu, sampaikan saja apa yang perlu kamu sampaikan).
  • Bab XI: Apakah Kamu Sudah Siap – Untuk Selamanya?
    Dalam bab ini aku dibukakan bahwa ada 10 pertanyaan yang perlu dijawab sebelum bertunangan: 1) Apakah hubungan kalian berpusat pada Tuhan dan kemuliaan-Nya? 2) Apakah kalian bertumbuh dalam persahabatan, komunikasi, persekutuan dan asmara? 3) Sudahkah kamu paham akan peranan laki-laki dan perempuan yang digariskan dalam Alkitab? 4) Apakah orang-orang lainnya mendukung hubungan kalian? 5)Apakah keinginan seksualmu memainkan peranan yang terlalu besar (atau terlalu kecil) dalam proses pengambilan keputusan? 6) Apakah kamu mempunyai pengalaman yang kamu catat bagaimana kamu memecahkan masalah secara alkitabiah? 7) Apakah kalian mempunyai arah yang sama dalam hidup ini? 8) Sudahkan kalian mempertimbangkan perbedaan budaya yang ada di antara kalian? 9) Apakah ada di antara kalian yang mempunyai keterlibatan yang rumit dari pernikahan atau masa lalu? 10) Apakah kamu mau menikah dengan orang itu?
  • Bab XII: Hari Itu
    Hari Itu – Hari Pernikahan. Pernikahan bukan akhir, tapi sebuah permulaan. Kisah kita adalah kisah Dia.
    “Cinta sejati sudah ditakdirkan oleh Tuhan,
    sudah diatur jauh sebelumnya,
    suatu kebetulan yang sudah dengan sangat teliti
    dipersiapkan terlebih dahulu.
    Ditakdirkan adalah istilah sekuler
    untuk kehendak Tuhan,
    dan kebetulan adalah istilah sekuler
    untuk anugerah-Nya.”
    The Mystery of Marriage ~ Mike Mason

Kalau mau tau lebih lengkap tentang buku ini, dapatkan buku ini di Toko Buku Rohani terdekat, hehe. Lebih enak kalau punya bukunya. Kenapa? Karena bisa kapan aja dibaca bukunya, kalau mau dibaca-baca lagi tinggal buka buku, ga perlu cari orang/tempat untuk minjem😀. Tapi kalo mo minjem juga ga dilarang sih, hehe. God Bless You unstopable!

resensi BMG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s