Terima Kasih untuk Teladanmu, Guruku

“Terima Kasih untuk Teladanmu, Guruku”

Menjelang Ujian Nasional (UN) Sekolah Dasar Tahun 2012, aku termenung di dalam kamar indekosku, mencoba mengingat kembali peristiwa yang terjadi belasan tahun yang lalu, EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Nasional). Tanpa kusadari, semua kenangan EBTANAS yang terekam di dalam otakku mendadak menyeruak ke permukaan. Semakin dalam aku mencoba mengingat, semakin dalam aku terbuai akan kenangan itu. Tidak hanya kenangan EBTANAS, kenangan masa-masa sekolah sejak duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA), suasana sekolah, teman-teman sekelas, pengalaman berselisih paham dengan guru, suasana ujian, dan guru-guru yang berjasa dalam memberikan pendidikan kepadaku juga tergambar jelas dalam ingatanku.

Aku juga ingat kalau salah seorang guruku pernah berkata bahwa kata “guru” merupakan singkatan dari kata “digugu” dan “ditiru”. Digugu berarti didengar ucapannya dan ditiru tingkah laku dan perbuatannya. Menurutku, digugu dan ditiru ibarat tangan kanan dan kiri. Jika ingin bertepuk tangan, tidaklah akan menghasilkan bunyi bila hanya menggunakan tangan kanan atau menggunakan tangan kiri saja. Begitu juga dengan kemampuan berkata-kata menyampaikan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seorang guru tanpa disertai teladan hidup dalam hal tingkah laku dan perbuatan tidak akan menjadikan seorang guru sebagai guru teladan.

*****

Lahir, tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga besar Ayah yang sebagian besar mengabdikan hidupnya kepada Negara sebagai seorang guru membuatku mengenal banyak guru, ditambah lagi dengan guru-guru yang kukenal mulai dari TK, SD, SMP, SMA, bahkan sampai dosen-dosen di Perguruan Tinggi. Di antara sekian banyak guru dan dosen yang kukenal, ada seorang guru yang kusebut sebagai “Guru Teladan”. Beliau adalah seorang Ibu guru yang mengajar di sebuah SD Negeri di bilangan Jakarta Timur. Bukan hanya menjadi seorang guru untuk murid-muridnya di sekolah, tetapi bagiku beliau juga menjadi guru bagi Ayah, Abang dan diriku di rumah. Beliau adalah Ibuku. Ibu sangat berjasa dalam memberikan pendidikan yang terbaik untukku. Sebab pendidikan terbaik tidak hanya didapatkan di sekolah, tapi juga didapatkan di rumah dan melalui kehidupan sehari-hari.

Kepiawaiannya dalam bertutur kata saat menyampaikan ilmu pengetahuan tak pelak menjadikan Ibu sebagai seorang guru favorit bagi murid-muridnya.  Tidak hanya di satu sekolah, di manapun beliau ditugaskan, tidak jarang beliau menjadi guru favorit bagi murid-muridnya. Tak ketinggalan, kepiawaiannya dalam memberikan tedalan hidup selalu tersampaikan dengan jelas dari buku kehidupannya yang bisa dengan bebas kubaca setiap saat. Karena kepiawaiannya untuk “digugu” dan “ditiru” itulah, aku menyebutnya sebagai “Guru Teladan”. Bagiku pribadi, mengajar melalui teladan hidup memiliki dampak yang lebih besar dalam kehidupan seseorang daripada mengajar melalui kata-kata. Dan mengajar melalui teladan hidup itulah yang Ibu lakukan terhadapku.

*****

Teladan tentang kemandirian.

Terbiasa hidup sebagai seorang anak yang mandiri sejak kecil, membuat Ibu berharap kelak anak-anaknya juga bisa menjadi seorang anak yang mandiri seperti dirinya. Ibu mengajarkanku tentang kemandirian bukan dengan memberikanku banyak buku yang berisi kiat-kiat menjadi seorang anak yang mandiri, tetapi secara langsung melalui salah satu adegan dalam “drama kehidupan” yang kami jalani bersama. Waktu itu, aku akan memulai pendidikanku di Sekolah Dasar (SD). Ada empat SD: SDN 02 Pagi, SDN 03 Petang, SDN 05 Pagi dan SDN 06 Pagi yang lokasinya cukup dekat dari rumahku. Adalah sebuah penghalang bagi Ibu untuk mendidik anaknya menjadi seorang anak yang mandiri ketika Ibu diperhadapkan dengan kenyataan bahwa di SDN 03 Petang ada om Zack, abang keempat Ayah, yang mengajar di sana. Di SDN 05 Pagi ada tante Ester, kakak pertama Ayah, yang mengajar di sana. Sedangkan di SDN 06 Pagi dirinya yang mengajar di sana. Niat Ibu untuk mendidik anaknya menjadi seorang anak yang mandiri didukung dengan nasihat om Zack, “Jangan disekolahin di sekolah yang ada keluarga, nanti jadi manja.” Alhasil, dengan segala pertimbangan, Ayah dan Ibu menyekolahkanku di SDN 02 Pagi.

“Nitip ya Bu, kalo naik ya syukur, kalo nggak ya biar ngepasin umurnya”, masih kuingat jelas kata-kata yang diucapkan Ayah dan Ibu saat mereka “menitipkan”ku kepada Ibu Sutarmiati yang menjadi guruku kelas satu waktu itu.

Ayah dan Ibu “menitipkan”ku bersekolah di SDN 02 Pagi karena aku belum genap berusia enam tahun. Kalau saat itu aku belum bisa menerima setiap pelajaran dan naik kelas, mereka akan tetap bersyukur, karena mereka yakin kalau anaknya bisa lebih siap dan matang menerima setiap pelajaran saat usianya genap enam tahun. Tetapi, akan lebih bersyukur kalau aku bisa menerima setiap pelajaran dengan baik dan naik kelas. Seiring berjalannya waktu, ternyata aku berhasil mengikuti setiap pelajaran dan naik kelas dengan peringkat pertama di kelas. Aku berhasil naik ke kelas dua, begitu juga seterusnya sampai ke kelas enam, sampai akhirnya aku bisa lulus dengan nilai yang baik. Setelah lulus SD, aku melanjutkan pendidikanku ke SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.

Penerapan teladan tentang kemandirian sangat aku rasakan pada saat aku menjalani pendidikan di Perguruan Tinggi. Aku masuk ke sebuah Perguruan Tinggi di Bandung, sedangkan Ayah, Ibu serta Abangku berada di Jakarta. Kondisi ini menuntutku untuk menerapkan pelajaran tentang kemandirian yang sudah Ibu ajarkan. Aku harus bisa belajar bertahan hidup sebagai seorang anak indekos.

*****

Teladan tentang kasih.

Setelah cukup berhasil menerapkan pelajaran tentang kemandirian, Ibu memberikan pengajaran tentang kasih. Seperti halnya pelajaran tentang kemandirian, Ibu tidak memberikanku banyak buku yang berisi teori tentang kasih atau memberikanku berbagai macam jenis diktat tentang bagaimana mengasihi. Tetapi lebih dari itu, kehidupan Ibu bak buku “Kasih” yang terbuka bagiku. Benar adanya kalau sebuah lagu mengatakan bahwa  “Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia.” Kata-kata dalam lagu itu benar-benar kurasakan melalui teladan kasih yang Ibu ajarkan kepadaku.

Salah satu kisah tentang kasih Ibu yang nyata dalam kehidupanku tergambarkan dengan jelas pada sebuah peristiwa yang terjadi pada 3 s/d 4 Desember 2011 yang lalu. 3 Desember 2011 malam, aku bertemu dengan dua orang sahabatku sejak kecil, Atha dan Kaka. Malam itu, kami sepakat untuk memberikan kejutan ulang tahun mas Eko, kekasih hatinya Atha, pada 4 Desember 2011.

Sebelum menjalankan rencana kejutan itu, aku mengirim pesan singkat ke Ibu meminta izin kalau malam ini pulang terlambat.

“Bu, aku pulang agak malem ya, mau ngasih kejutan ke mas Eko (pacarnya Atha), besok dia ulang tahun.”

Sementara itu, aku lupa memberi tahu Ibu di mana lokasi pemberian kejutan ulang tahunnya mas Eko.

“Ya”, Ibu memberi izin.

Sekitar pukul 23.50 aku, Atha dan Kaka sampai di tempat indekos mas Eko di daerah Cileungsi. Sambil menunggu waktu menunjukkan tepat pukul 00.00, kami menyiapkan kue dan kado. Saat kami sedang asyik menyiapkan semuanya, tiba-tiba telpon genggamku bergetar, ada telpon masuk dari Ibu.

“Dhe, dimana? udah malem ini.”

 “Iya, Bu ini baru mau dikasih kejutannya.”

 “Tut..Tut..Tut..”, Ibu memutuskan sambungan telponnya.

Saat itu aku sudah mulai mempunyai perasaan yang tidak tenang. Takut kalau-kalau Ibu marah kepadaku. Setelah selesai memberikan kejutan ulang tahun ke mas Eko, kami kembali ke Jakarta. Di dalam perjalanan pulang, telpon genggamku kembali bergertar, ada telpon masuk lagi dari Ibu.

“Dhe, udah dimana?”

 “Di jalan pulang, Bu.”

“Udah jam berapa ini, pulang naik apa coba?”, suara Ibu mulai meninggi. 

“Ini, naik mobil sama Atha sama Kaka”, sebisa mungkin aku menjawab pertanyaan Ibu dengan santai.

“Ya, kan portalnya udah ditutup”, suara Ibu makin meninggi.

“Kan, tinggal jalan dikit sih, Bu”, aku mencoba berkelit.

“Tut..Tut..Tut..”, Ibu kembali memutuskan sambungan telponnya.

Selesai menelpon, sebuah pesan singkat dari Ibu masuk ke telpon genggamku.

“Dhe, jangan sampai terulang lagi ya, Ibu tidak suka”, entah dengan intonasi seperti apa yang sebenarnya hendak Ibu sampaikan. Tapi aku tahu bahwa itu sebuah peringatan keras dari Ibu.

Aku kembali mencoba untuk berkelit dan memikirkan balasan apa yang harus ku kirimkan supaya Ibu tidak semakin naik pitam. Akhirnya aku membalas pesan singkat Ibu.

“Ya, kan mas Eko ulang tahunnya ga tiap hari, Bu, hehehe.”

Ternyata Ibu benar-benar naik pitam. Menurutku, adalah lumrah kalau Ibu marah kepadaku. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 pagi dan anak perempuannya belum sampai di rumah. Sesampainya di rumah, aku meminta Atha menemaniku untuk menjelaskan apa sebenarnya terjadi. Atha mencoba menjelaskan kronologis peristiwa malam itu kepada Ayah dan Ibu.

“Pak, Bu maaf ya, tadi ngerayainnya di Cileungsi”, Atha mencoba menjelaskan dengan kepala yang tertunduk dan mata yang tidak berani menatap Ayah dan Ibu.

“Iya, udah malem banget ini”, Ayah menjawab dengan nada datar.

“Ya”, jawab Ibu dengan nada ketus.

Ibu sangat marah kepadaku. Ibu marah karena malam itu aku lupa memberi tahu di mana lokasi pemberian kejutan ulang tahun mas Eko. Kalau saja aku tidak lupa, mungkin Ibu tidak akan semarah ini karena mengerti kondisinya bahwa jarak antara Jakarta dengan Cileungsi cukup jauh. Setelah kejadian malam itu, aku dan Ibu berbincang seperlunya. Terjadi “perang dingin” di antara aku dan Ibu.

*****

Siang itu aku akan kembali ke Bandungdengan menggunakan jasa travel. Jadwal keberangkatanku adalah pukul 13.45. Ayah dan Ibu tidak dapat mengantarku ke pool travel karena ada arisan keluarga. Sekitar pukul 10.30 sebelum pergi arisan, Ibu memanggilku.

“Dhe, sini. Hati-hati ya nanti. Maafin Ibu ya”, Ibu menyalamiku seraya mencium pipi kanan dan kiriku.

Aku terenyuh mendengar kata-kata Ibu yang meminta maaf. Seharusnya aku yang meminta maaf kepadanya karena sudah membuatnya khawatir dan naik pitam tadi malam.

“Ya”, hanya kata itu yang keluar dari mulutku dengan suara yang bergetar. Mataku berkaca-kaca.

Sementara Ayah dan Ibu bersiap untuk keluar rumah, aku memilih untuk memejamkan mata sejenak di sofa sambil menonton tayangan televisi. Saat aku sedang asyik menikmati istirahat siang itu, telpon genggamku berdering menandakan ada pesan singkat yang masuk. Tertera nama Ibu dalam pesan singkat itu.

“Dhe, udah bangun?”, Ibu bertanya seperti itu karena beliau masih sempat melihatku merebahkan badan di atas sofa sebelum beliau menutup pintu saat hendak keluar rumah.

Aku memilih untuk tidak membalasnya. Bukan karena aku marah atau kesal, pikirku nanti saja aku membalasnya saat aku sudah di pool travel dan hendak berangkat ke Bandung. Karena pesan singkatnya tak berbalas, akhirnya Ibu menelpon ke rumah dan Abangku yang mejawabnya. Mungkin, Ibu bertanya aku sudah bangun atau belum. Ibu benar-benar peduli kepadaku walaupun semalam aku sudah membuatnya naik pitam. Waktu Ibu menelpon, aku sedang mandi dan bersiap untuk berangkat.

Tidak lama setelah sampai di pool travel, Ibu kembali mengirimkan pesan singkatnya.

“Selamat jalan ya, hati-hati di jalan, maafkan Ibu”, aku benar-benar tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Ibu, sehingga membuatnya berulang kali meminta maaf kepadaku.

Kepalaku mulai dipenuhi banyak tanda tanya selama menunggu jadwal keberangkatan di pool travel. Di pool travel aku duduk termenung dalam diam sambil terus mengusap air mata yang tanpa kusadari terjatuh dengan sendirinya. Aku mengambil telpon genggamku. Kembali membaca pesan singkat Ibu yang terakhir masuk dalam telpon genggamku, kemudian aku membalas pesan singkat Ibu sambil menikmati air mata yang membasahi pipiku.

“Iya, Bu. Makasih ya, aku tau kok semuanya itu karena Ibu sayang sama aku. Harusnya aku yang minta maaf. Maaf ya, Bu. Aku berangkat.”

Aku berangkat ke Bandungdengan penuh uraian air mata. Aku mencoba untuk menghentikannya, tapi entah kenapa air mata ini mengalir deras dengan sendirinya. Belum pernah sesedih itu meninggalkan Jakarta. Dan di akhir semuanya itu, aku tahu kalau Ibu benar-benar sayang dan peduli padaku. Aku  tahu kalau Ibu benar-benar mengasihiku. Karena di balik “Dhe, jangan sampe keulang lagi ya, Ibu tidak suka”, ada “ini semua karena aku sayang dan peduli kepadamu, nak.”

Pengajaran serta penerapan pelajaran tentang kasih Ibu ajarkan dalam sebuah peristiwa. Ibu benar-benar mengajarkanku tentang bagaimana mengasihi, bukan dengan kata-kata, tetapi langsung melalui teladannya.

“Mengasihi tanpa mencari keuntungan dan memperhitungkan kerugian.”

“Mengasihi tanpa memandang siapa yang kita kasihi.”

“Mengasihi tanpa mengenal kondisi bukan dengan syarat.”

“Mengasihi dengan tulus bukan dengan pamrih.”

“Mengasihi dengan sungguh-sungguh bukan dengan pura-pura.”

“Mengasihi untuk selamanya bukan untuk sesaat.”

 *****

Teladan tentang kemandirian dan kasih itu membuatku ingin menjadi seseorang seperti Ibu. Aku harus bisa memberikan teladan kepada anak-anakku nanti seperti teladan yang sudah Ibu berikan kepadaku. Bukan hanya melalui kata-kata, tetapi lebih dari itu, aku mampu memberikannya melalui teladan hidupku.

Melalui tulisan ini, izinkan aku menyampaikan ucapan terima kasih untuk teladanmu, guruku. Terima kasih sudah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa yang dengan setulus hati dan tidak menuntut pamrih memberikan pendidikan yang terbaik untukku. Semoga Tuhan terus memberikatimu dan semakin banyak orang yang diberkati melalui pengajaranmu dan teladan hidupmu sebagai seorang guru.

Selamat Ulang Tahun, Ibu Guruku🙂
24 Mei 2012 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s