[waktu itu] tentang kita…

Waktu itu ada certia tentang aku dan dia.

Aku dan dia bertemu untuk pertama kalinya pada sebuah momen dan tempat yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Sangat banyak orang yang ada di sana, tapi entah kenapa aku bisa bertemu dengan dia.

Setelah pertemuan pertama, aku dan dia masuk dalam pusaran pertemuan yang begitu kuat.
Aku dan dia bertemu dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya.
Sampai-sampai, aku dan dia berada dalam sebuah hubungan yang memiliki intensitas komunikasi cukup tinggi.

Komunikasi yang terjadi di antara aku dan dia tidak terbatas dengan ruang dan waktu.
Selalu ada media penghantar yang baik untuk menjalin komunikasi antara aku dan dia.
Dunia nyata, dunia maya, dunia seluler menjadi medianya.

Seiring berjalannya waktu, seiring meningkatnya intensitas komunikasi,
aku dan dia mencari jati diri, mengintrospeksi diri, apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati ini.

Aku menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi di dalam hati, tetapi tidak dengan dia.
Dia menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi di dalam hati, tetapi tidak dengan aku.

Mengapa demikian? Dimana salahnya? Waktu!
Benar, aku dan dia tidak berada dalam waktu yang sama ketika menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi dalam hati ini.

Akhirnya,
saat aku masih bertanya-tanya, dia memilih untuk pergi dan menghilang begitu saja,
saat dia masih bertanya-tanya, aku memilih untuk pergi dan menghilang begitu saja.

Dalam hati dan pikiran masing-masing aku dan dia bertanya-tanya:

“Orang bilang, pertemuan pertama selalu kebetulan. Tapi, bagaimana caramu menjelaskan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya?Apakah Tuhan campur tangan di dalamnya?”

Infinitely Yours, Orizuka

Aku adalah dia, dia adalah aku.
Ada certia tentang aku dan dia.
[waktu itu] ada cerita tentang kita…

Tapi semua tentang aku dan dia, semua tentang kita,
hanya ada di waktu itu.

Sekarang, tinggal aku dan diriku.
Sekarang, tinggal dia dan dirinya.
Sekarang, tinggal kenangan tentang kita.

“Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan….”

Hujan dan Teduh, Wulan Dewatra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s