Tanpa badai hidup kita tidak dapat memahami arti mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan

Jangan Berhenti Di Tengah Badai

Yesaya 43:2; Mazmur 103:13-14

“Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.”

Aku bersama ayah suka bepergian ke suatu tempat berduaan. Aku sangat menyukai momen di mana kami berdua duduk di mobil. Biasanya ayah bercerita tentang masa mudanya, beliau seolah tidak pernah kehabisan akal untuk menceritakan hal-hal menarik yang terjadi di masa mudanya.

Suatu hari aku dan ayah berkendaraan menuju ke suatu tempat, aku yang mengemudikan mobil. Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan kelabu dan angin kencang yang membuat langit menghitam mencoba menghadang perjalanan kami. Langit semakin gelap dan angin bertiup semakin kencang hingga akhirnya hujan pun turun, hari itu badai begitu hebat. Beberapa kendaraan yang kami lalui menepi. “Ayah, bagaimana ini, apakah kita harus berhenti seperti mereka?” tanyaku dengan mimik wajah yang gelisah. “Teruslah mengemudi!” perintah ayah sambil terus melihat ke depan. Walau sangat sulit tapi aku tetap mengemudi. Hujan yang sangat lebat menghalangi pandangan mataku, jarak pandang yang bisa kulihat dengan jelas hanya beberapa meter saja. Angin yang begitu hebat sesekali mengguncangkan mobil kecil yang kami kendarai.

Aku mengemudikan mobil dengan perlahan. Setelah beberapa kilometer keadaan membaik, hujan berhenti, dan kami sampai di daerah yang kering di mana mentari tersenyum begitu cerah. “Sekarang silahkan kalau kau mau berhenti dan keluar,” kata ayah sambil tersenyum. “Kenapa sekarang?’ tanyaku heran. “Agar engkau bisa melihat keadaan dirimu seandainya engkau berhenti di tengah badai.” Aku pun menghentikan mobil, lalu keluar, membalikkan tubuhku, dan melihat jauh ke belakang di mana badai masih berlangsung. Aku membayangkan mereka yang menepi dan terjebak di sana. Dalam hati aku berdoa semoga tidak ada kecelakaan yang tertimpa atas mereka. Sambil tersenyum kepada ayah, hatiku menggumam, “Pelajaran penting kali ini: jangan pernah berhenti di tengah badai!’

Dalam menjalani hidup ini, kita selalu didampingi oleh Bapa sorgawi yang setia memberi nasihat dalam segala keadaan. Bapa tidak pernah jemu menyertai kita, terutama tatkala kita berhadapan dengan badai hidup. Sebesar apa pun badai yang mencoba menghadang langkah kita, yang ingin membuat langkah kita berhenti, ingatlah bahwa jangan pernah berhenti di tengah badai. Lalui badai hidup itu bersama dengan Dia karena Dia akan meluputkan kita dari mara bahaya. Lagi pula, tidak jauh di depan sana ada suasana tenang di mana kita bisa melihat kesetiannNya. Kesetiaan dan penyertaan Bapa sorgawi berkuasa menjaga hidup kita tetap aman sejahtera walaupun di tengah badai yang besar. Percayakan hidup kita selalu kepada Bapa yang hanya memiliki rancangan penuh damai sejahtera.

Tanpa badai hidup kita tidak dapat memahami arti mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan

ManSor Edisi 20 Mei 2011

sumber: http://www.mannasorgawi.net/aneka-renungan/231-jangan-berhenti-di-tengah-badai/

badai itu nyata dalam kehidupanku hari ini, tapi kabar gembiranya adalah aku bisa melewati badai itu sampai akhirnya aku bisa kembali melihat indahnya senyuman mentari di balik badai itu :’) Thanks God for  this day: “terkadang di balik gelapnya awan badai kehidupan sebenarnya adalah bayangan sayap naungan Allah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s