Panggilan?

Apa yang kita pikirkan ketika membaca kata “panggilan“? Nama? Telepon? Atau yang lainnya? Apa makna panggilan menurut Anda? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata panggilan memiliki beberapa arti, antara lain :

panggilan / pang·gil·an /  1 imbauan; ajakan; undangan: azan merupakan ~ bagi kaum muslimin untuk melakukan salat2 hal (perbuatan, cara) memanggil; 3 (orang) yang dipanggil untuk bekerja dan sebagainya: montir ~; 4 sebutan nama: ~ sehari-harinya Gepeng;~ hati panggilan jiwa; ~ hidup kecenderungan hati untuk melakukan suatu pekerjaan dan sebagainya; ~ jiwa panggilan hidup;

Kali ini aku hanya ingin membagikan pengalamanku terkait dengan makna kata panggilan pada poin ke-3 yaitu “panggilan adalah (orang) yang dipanggil untuk bekerja dan sebagainya” dan poin ke-4 yaitu “panggilan adalah sebutan nama: panggilan hidup kecenderungan hati untuk melakukan suatu pekerjaan dan sebagainya”. Entah bagaimana caranya semesta bekerja, sehingga aku menerima panggilan (telepon) dari seorang senior (sebut saja Si Abang) yang sudah lama sekali aku tidak berkomunikasi dengannya. Pernah bertemu di awal tahun 2018, namun tidak ada perbincangan yang mendalam. Si Abang sebenarnya ingin berbicara langsung melalui telepon, sayangnya telephobia sedang menjangkiti tubuh ini, sehingga panggilan (telepon) itu pindah haluan ke WhatsApp Messanger.

Setelah bertegur sapa dan menanyakan kabar, obrolan kami beralih ke hal yang serius. Si Abang menawarkan pekerjaan yang sifatnya sementara (bukan permanen), untuk menjaga “barangnya mereka”, di sebuah event yang dilaksanakan kurang lebih dalam waktu dua minggu, di tiga tempat yang berbeda. Aku sempat bergumul, karena di antara pilihan tanggal yang ditawarkan semuanya bentrok dengan rencanaku pulang ke Jakarta, di mana aku ingin menghadiri undangan pernikahan Adik Kelompok Kecil (AKK) ku.

digiOH lagi butuh bantuan dari 5 orang :

  • 4 orang tenaga part time (kerja senin-minggu, rata2 6jam) jaga di mall
  • 1 orang tenaga full time (kerja senin-jumat, 8jam)

untuk deskripsi kerjaan :

  • standby dan menjaga di unit TV digiframe
  • memastikan nyala dan mati unit TV selama acara
  • menangani masalah konten bila ada info dari klien

Setelah berdiskusi, bertanya tentang detil tugas yang harus diemban dan diberikan saran untuk mengambil tugas sebagai 1 orang tenaga full time (kerja Senin-Jumat, 8 jam), supaya aku tetap bisa memenuhi undangan pernikahan AKK-ku, walaupun harus bayar harga pulang-pergi Bandung-Jakarta-Bandung, akhirnya aku memutuskan untuk menerima panggilan ini. Walaupun sudah mengambil keputusan, aku tetap masih punya kekuatiran, ragu-ragu, apakah aku bisa menjalani tugas ini dengan baik atau tidak? Trouble paling parah yang pernah terjadi itu apa dan bagaimana menanganinya? Dan masih banyak pertanyaan lain, sampai aku minta diklat singkat sebelum hari H, hahaha.

This slideshow requires JavaScript.

Senin, 1 Oktober 2018

Berdasarkan hasil briefing Minggu, 30 September 2018, dari klien minta TVnya nyala dari jam 07.00 – 17.00. Jadi setiap pagi (1 – 15 Oktober 2018), aku harus sudah sampai di tempat sebelum jam 07.00 dan pulang setelah jam 17.00. Sebenarnya TV bisa di-timer, untuk nyala dan mati secara otomatis. Tapi, entah mengapa, deskripsi kerja yang diberikan kepadaku membuatku berpikir, lebih baik aku standby di tempat dari jam 07.00 – 17.00.

Di hari pertama ini, CEO digiOH menyemangati kami dalam mengerjakan tugas ini, beliau berkata demikian :

“Semoga pelayanan kita berjalan dengan baik hingga selesai.”

Entah kenapa kata “pelayanan kita” di sana seolah ingin menyampaikan 2 hal kepadaku, yaitu :

  1. Pekerjaan yang dilakukan secara harafiah memang melayani klien dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan klien.
  2. Pekerjaan yang dilakukan bisa juga untuk melayani Tuhan, melalui klien. Jadi lakukanlah segala sesuatunya untuk Tuhan, bukan (hanya) untuk manusia. Pasti perspektifnya jadi beda 😉

Awalnya membosankan, karena sebenarnya tidak terlalu banyak trouble dan klien juga hanya di hari-hari pertama masih meminta beberapa perubahan konten. Tapi, aku tetap memilih untuk standby di tempat sesuai jam operasional kantor. Dan terus mengingat kata-kata motivasi dari CEO digiOH.

Di event yang sama, ada beberapa Sales Promotion Girl (SPG) dan Sales Promotion Boy (SPB) yang bekerja untuk memperkenalkan layanan mobile banking ke nasabah. Aku berkenalan dengan salah seorang SPG dan di waktu-waktu senggang kami sempat berbicara, menanyakan tugas dan latar belakang masing-masing. Hari demi hari berlalu, aku memperhatikannya dan pekerjaan yang dilakukannya, demikian sebaliknya.

This slideshow requires JavaScript.

Selasa, 9 Oktober 2018

Apa yang kualami di hari ini mungkin tidak akan kulupakan sebagai bagian yang paling mengesankan dari pekerjaan yang kujalani ini. Saat itu, sebelum jam istirahat, salah satu Mbak SPG yang kenalan sama aku itu berkata demikian :

“Ih, teteh ga bosen? Nungguin itu wae.
Kalo aku mah ga mau da suruh kerja beginian.”

Aku bingung sih, mau jawab apa, hahaha. Karena sebenernya dia ga tau gimana ceritanya sampai aku menjawab “iya”, apa yang kujalani sebelum datang panggilan ini, seberapa banyak “harga yang harus kubayar”, serta “komitmen” yang harus kuselesaikan sampai akhir untuk pekerjaan ini. Saat itu, aku hanya diam dan tersenyum kepadanya. Namun, sebenarnya di dalam hati ini ingin berkata :

Mbak, kalau semua orang jadi SPG, siapa yang jadi teknisi?
Kalo semua orang jadi teknisi, siapa yang jadi SPG?

Dan tiba-tiba inget kata-katanya Paulus : “Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.

Kalo disuruh tuker tempat sama Mbaknya juga saya sebenernya ga mau kok, karena saya ga betah seharian pake make up dan pake sepatu berhak, hehe. Kita punya panggilan masing-masing. Mbak dipanggil untuk bertugas menjadi SPG. Saya dipanggil untuk bertugas menjadi teknisi. Dengan tugas ini, saya senang menjalankannya, walaupun sempat membosankan di awal, pada akhirnya pelan-pelan saya bisa menyesuaikan diri dan menikmatinya. Saya senang ketika harus bangun lebih pagi dari Mbaknya untuk menyalakan TV dan pulang lebih sore dari Mbaknya untuk mematikan TV. Saya senang ketika TV bisa beroperasi dengan baik tanpa ada masalah. Mbaknya seneng ga jadi SPG? Perasaan setiap kita ngobrol Mbaknya ngeluh melulu, hehehe.

Dan tiba-tiba inget lagi kata-kata di buku Courage and Calling : “Tempat di mana Allah memanggil Anda adalah tempat di mana sukacita terdalam Anda dengan kelaparan terbesar dunia bertemu.” ➖ Frederick Buechner

This slideshow requires JavaScript.

Senin, 15 Oktober 2018

Saking menikmatinya, ketika aku sampai di hari terakhir bertugas, aku merasa sedih. Terlebih ketika harus berpamitan dengan satpam, office boy, bahkan pihak vendor yang sama-sama mengerjakan tugas ini. Dua kata yang membuat aku sedih di perpisahan ini adalah “terima kasih” dan “maaf”. Entah mereka berterima kasih untuk apa, karena aku merasa hanya melakukan tugasku sesuai dengan apa yang memang ditugaskan kepadaku, tidak ada hal besar yang kulakukan sehingga berdampak bagi orang banyak. Dan entah mereka juga meminta maaf untuk apa, seolah mereka sudah melakukan kesalahan besar yang memang seharusnya meminta maaf.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Explore Bandung: Hobbiton Adventure

Minggu, 29 April 2018

Hobbiton Adventure adalah salah satu “wahana” yang ada di Farm House Susu Lembang. Sebenarnya, tahun 2015, aku sudah pernah mengunjungi Farm House. 3 tahun yang lalu waktu ke sana, Farm House belum terlalu banyak wahana yang bisa dinikmati untuk orang dewasa. Tahun ini kembali ke sana karena ada wahana baru, yaitu “Hobbiton Adventure”.

Tahun ini aku pergi bersama Claudia ‘Dhea’ dan Muliyanto. Setelah Ibadah Minggu bersama, kami pergi ke Farm House. Entah kenapa, siang itu jalan menuju Lembang tidak terlalu macet. Sampailah kami di Farm House. Di dalam banyak sekali pengunjungnya. Cukup padat di dalam, bahkan kami juga sempat bingung mencari tempat parkir. Setelah dapat parkir, kami berkeliling dan melihat-lihat. Dan sampailah kami di wahana “Hobbiton Adventure”. Awalnya, kami ragu mau masuk, karena harus mengeluarkan uang lagi. Tapi, setelah berunding, kami memutuskan untuk masuk.

Setelah masuk apakah kami menyesal? Ternyata tidak, hahaha. Senangnya. Wahana ini menghadirkan suasana rumah The Hobbit. Mirip seperti di filmnya. Walaupun mungkin ini hanyalah replika, tapi pada akhirnya kami tidak merasa rugi mengeluarkan uang tambahan untuk bisa masuk ke wahana ini.

Suasana yang dihadirkan mulai dari Ruang Tamu, Ruang Baca, Kamar Tidur, Kamar Mandi, Dapur, Ruang Makan dan Ruang Harta Karun yang dijaga oleh Smaug (sosok naga dalam film The Hobbit), bisa membuat aku bisa merasakan sekaligus membayangkan berada di dalam film The Hobbit. Di sekitar Rumah Hobbit juga banyak beberapa spot foto yang instagramable.

This slideshow requires JavaScript.

Nb : untuk masuk ke Rumah Hobbit, kita harus melepas alas kaki, dan dibatasi untuk memegang ataupun menduduki beberapa property. Salut sama setiap petugas yang keren banget untuk dimintatolongin ambil foto. Dan salut juga sama petugas yang rela bolak-balik dari pintu masuk ambilin alas kaki, dipindah ke pintu keluar. Jadi, waktu kita udah di pintu keluar alas kaki kita sudah tersedia.

Farm House Susu Lembang
Harga Tiket Masuk : Rp.20.000,- (include voucher yang bisa ditukar dengan susu murni atau makanan atau souvenir)
Harga Tiket Masuk Hobbiton Adventure : Rp.20.000,- (include pie susu dengan kemasan The Hobbiton)

“Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.”

Usia bisa bertambah, tapi kedewasaan kadang kala tidak bertambah seiring bertambahnya usia seseorang. Untuk menjadi pribadi yang dewasa, prosesnya tidak mudah. Ada pembentukan yang harus dijalani. Pembentukan itu menyakitkan dan prosesnya tidak instan.

Untuk mengalami pertumbuhan dalam pemikiran dan menjadi dewasa kita membutuhkan orang lain. Kita tidak bisa bertumbuh kalau kita sendirian. Karena kita akan banyak belajar dari orang-orang yang menjengkelkan, yang tidak sempurna dan yang mengecewakan. Dan semuanya itu akan kita temukan kalau kita menjalin sebuah hubungan.

Manusia memiliki dua hakikat yang tidak akan pernah bisa hilang : diciptakan sebagai makhluk pribadi dan juga sebagai makhluk sosial. Tidak bisa dipungkiri kalau kita akan membutuhkan orang lain dan saling berhubungan, bahkan saling bergantung satu sama lain.

Namun, untuk menjalin sebuah hubungan dibutuhkan komitmen untuk saling membangun, mengingatkan, mendoakan, menasihati, memberi salam, melayani, mengajar, menerima, memberi hormat, menolong, menanggung beban, mengampuni, merendahkan diri, merendahkan hati dan masih banyak lagi.

“Kedewasaan yang sejati muncul dalam hubungan.” – Rick Warren

Hubungan membutuhkan keterbukaan dan kejujuran. Terbuka dan jujur tentang siapa diri kita dan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan kita. Keakraban terjadi di dalam terang, bukan kegelapan. Kegelapan digunakan untuk menyembunyikan sakit hati, kesalahan, ketakutan, kegagalan, kekecewaan dan kelemahan kita. Tetapi di dalam terang, kita membuka semuanya dan mengakui siapa diri kita sebenarnya.

“Kita hanya bisa bertumbuh dengan cara mengambil risiko, dan risiko yang paling sulit dari semuanya adalah bersikap jujur terhadap diri kita sendiri dan orang lain.” – Rick Warren

Ketika semuanya berjalan baik-baik saja, akan lebih mudah untuk kita terbuka dan jujur. Namun, ketika mengalami konflik, akan menjadi sulit untuk terbuka dan jujur tentang apa yang kita alami atau rasakan. Faktanya adalah kebencian dan dendam selalu menghancurkan sebuah hubungan.

Hubungan apapun, entah dalam pernikahan, persahabatan atau persekutuan, bergantung pada keterusterangan. Sesungguhnya, saluran konflik adalah jalan menuju keakraban dalam hubungan apapun. Ketika konflik ditangani dengan benar, kita makin akrab satu sama lain dengan menghadapi dan menyelesaikan perbedaan-perbedaan kita.

Keterusterangan bukan berarti kita bebas mengatakan apapun yang kita inginkan, di mana saja dan kapan saja kita mau. Keterusterangan bukan kekasaran. Kata-kata yang tidak dipikirkan meninggalkan luka yang abadi.

Menghindari konflik, lari dari masalah, berpura-pura masalah tidak ada atau takut membicarakannya adalah sikap pengecut. Tidak peduli apakah kita yag melukai atau yang dilukai, jangan menunggu pihak lainnya. Hampirilah mereka terlebih dahulu. Penundaan hanya memperdalam rasa dendam dan membuat segalanya lebih buruk. Dalam konflik, waktu tidak menyembuhkan apapun; waktu menyebabkan luka makin bernanah. Pilihlah waktu dan tempat yang tepat untuk bertemu.

“Meninggalkan hubungan saat terjadi konflik, kekecewaan atau ketidakpuasan adalah tanda ketidakdewasaan.” – Rick Warren

Koinonia = Fellowship

Kehidupan dimaksudkan untuk dibagikan. Allah memaksudkan agar kita menjalani kehidupan bersama-sama. Alkitab menyebutkan pengalaman bersama ini sebagai persekutuan. Namun, sekarang kata ini telah kehilangan sebagian besar makna alkitabiahnya.

Persekutuan yang sesungguhnya jauh lebih dari sekedar muncul pada kebaktian. Persekutuan yang sesungguhnya adalah menjalani kehidupan bersama-sama. Persekutuan termasuk mengasihi dengan tidak mementingkan diri sendiri, berbagi pengalaman dengan jujur, melayani secara praktis, memberi dengan berkorban, menghibur dengan penuh simpati, dan semua perintah “saling” lainnya yang terdapat dalam Perjanjian Baru.

Apa perbedaan antara persekutuan yang sejati dengan yang palsu?

Dalam persekutuan yang sejati, orang mengalami otentisitas.
Persekutuan yang otentik bukan obrolan basa-basi yang dangkal. Persekutuan tersebut merupakan tindakan berbagi pengalaman secara sungguh-sungguh dari hati ke hati, kadang-kadang sampai tingkat yang paling dalam. Persekutuan yang otentik terjadi ketika orang-orang bersikap jujur mengenai siapa mereka dan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan mereka.

Hanya bila kita terbuka tentang kehidupan kita barulah kita mengalami persekutuan yang sejati. Bersifat otentik membutuhkan keberanian dan kerendahan hati. Kita hanya bisa bertumbuh dengan cara mengambil risiko, dan risiko yang paling sulit dari semuanya adalah bersikap jujur terhadap diri kita sendiri dan orang lain.

Dalam persekutuan yang sejati, orang-orang mengalami simpati.
Simpati bukanlah memberikan nasihat atau menawarkan bantuan cepat yang basa-basi; simpati adalah masuk dan turut merasakan penderitaan orang lain. Simpati memenuhi dua kebutuhan dasar manusia : kebutuhan untuk dipahami dan kebutuhan agar perasaan-perasaan kita diterima. Setiap kali kita memahami dan menerima perasaan-perasaan seseorang, kita membangun persekutuan.

Ada tingkat-tingkat yang berbeda dari persekutuan, dan masing-masing tingkat cocok untuk segala waktu. Tingkat paling sederhana dari persekutuan adalah persekutuan untuk berbagi pengalaman dan persekutuan untuk mempelajari Firman Allah. Tingkat yang lebih dalam adalah persekutuan untuk melayani, seperti ketika kita melayani bersama-sama dalam perjalanan misi atau proyek kasih. Tingkat yang paling dalam dan kuat adalah persekutuan dalam penderitaan, di mana kita masuk ke dalam setiap penderitaan dan dukacita orang lain dan saling menanggung beban.

Dalam persekutuan yang sejati orang-orang memperoleh belas kasihan.
Persekutuan adalah tempat kasih karunia, di mana kesalahan tidak diungkit-ungkit tetapi dihapuskan. Persekutuan terjadi ketika belas kasihan menang atas keadilan. Kita semua membutuhkan belas kasihan, karena kita semua tersandung dan jatuh serta membutuhkan pertolongan untuk kembali ke jalur. Kita perlu saling memberikan belas kasihan dan bersedia menerima dari orang lain.

Kita tidak bisa memiliki persekutuan tanpa pengampunan. Allah memperingatkan, “Janganlah menaruh dendam.” (Efesus 3 : 13) karena kebencian dan dendam selalu menghancurkan persekutuan. Karena kita adalah orang-orang berdosa yang tidak sempurna, kita pasti saling melukai bila kita bersama-sama untuk waktu yang cukup lama. Kadang-kadang kita saling melukai dengan sengaja dan kadang dengan tidak sengaja, tetapi sengaja atau tidak, dibutuhkan banyak belas kasihan dan kasih karunia untuk menciptakan dan memelihara persekutuan.

Belas kasihan Allah kepada kita adalah motivasi untuk menunujukkan belas kasihan kepada orang lain. Ingat, Anda tidak akan pernah diminta untuk mengampuni orang lain lebih dari Allah yang telah mengampuni kita. Kapanpun hati Anda dilukai oleh seseorang, Anda memiliki pilihan untuk diambil : akankah saya menggunakan tenaga dan emosi untuk membalas dendam ataukah untuk memecahkan masalah? Anda tidak bisa melakukan dua-duanya.

Banyak orang enggan menunjukkan belas kasihan karena mereka tidak paham perbedaan antara kepercayaan dan pengampunan. Pengampunan adalah melepaskan masa lalu. Kepercayaan berkaitan dengan perilaku masa depan. Pengampunan haruslah segera, entah seseorang memintanya atau tidak. Kepercayaan harus dibangun kembali bersama waktu. Kepercayaan membutuhkan catatan kinerja.

Jika seseorang melukai Anda berulang-ulang, Anda diperintahkan oleh Allah untuk mengampuninya segera, tetapi Anda tidak diharapkan untuk mempercayai mereka segera, dan Anda tidak diharapkan untuk terus membiarkan mereka melukai hati Anda. Mereka harus membuktikan bahwa mereka telah berubah bersama waktu.

 

 

 

Sumber : diadaptasi dari Buku The Purpose Driven Life – Bab 18 “Menjalani Kehidupan Bersama-sama”

Arti kata koinonia menurut Wikipedia adalah anglikisasi dari kata Yunani (κοινωνία) yang berarti persekutuan dengan partisipasi intim. Kata ini sering digunakan dalam Perjanjian Baru dari Alkitab untuk menggambarkan hubungan dalam gereja Kristen perdana serta tindakan memecahkan roti dalam cara yang ditentukan Kristus selama perjamuan Paskah [Yohanes 6:48-69, Matius 26: 26-28, 1 Korintus 10:16, 1 Korintus 11:24]. Akibatnya kata tersebut digunakan dalam Gereja Kristen untuk berpartisipasi, seperti kata Paulus, dalam Persekutuan – dengan cara ini mengidentifikasi keadaan ideal persekutuan dan masyarakat yang harus ada – Komuni (persekutuan).

Sementara, dalam Alkitab versi Bahasa Inggris, kata persekutuan diterjemahkan sebagai kata fellowship (persahabatan) dan menurut Google Translate artinya adalah friendly association, especially with people who share one’s interests.

“Stop worrying and start living”

Arti kata khawatir menurut KBBI online adalah khawatir / kha·wa·tir/ takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti. Sedangkan menurut Google Translate, kata khawatir diterjemahkan dalam kata worry : a state of anxiety and uncertainty over actual or potential problems.

Beberapa bulan belakangan aku kembali diingatkan (Tuhan mengingatkan aku melalui orang-orang, buku, khotbah, sharing teman-teman, yang Dia pakai sebagai alat) untuk memberikan persembahan persepuluhan ke gereja. Dan setelah beberapa bulan diingatkan, bahkan terus diingatkan, aku masih gagal untuk mendisiplinkan diri tidak bergantung pada materi, tapi bergantung pada Sang Pemilik Kehidupan.

Tapi, Hari Minggu kemarin (17 September 2017) aku mencoba belajar disiplin dan taat, walaupun sebenarnya persembahan yang aku bawa ke gereja belum benar-benar sepersepuluh dari “pendapatanku”. Tapi, jumlahnya cukup “bikin mikir” anak kosan di tengah bulanlah, hahaha. Intinya bukan seberapa besarnya persembahan, di sini aku mau belajar memberi dengan kerelaan hati, taat, disiplin dan tidak khawatir.

“Bawalah sepersepuluhanmu seluruhnya ke Rumah-Ku supaya ada makanan berlimpah di sana. Ujilah Aku, maka kamu akan melihat bahwa Aku membuka pintu-pintu surga dan melimpahi kamu dengan segala yang baik.” – Maleakhi 3 : 10 (BIS)

Jikalau umat itu akan bertobat, kembali kepada Allah, dan sebagai tanda pertobatan, mulai mendukung pekerjaan Allah dan hamba-hamba-Nya dengan persepuluhan dan persembahan mereka, Allah akan memberkati mereka dengan kelimpahan. Allah mengharapkan umat-Nya menunjukkan kasih dan pengabdian mereka kepada-Nya dan pekerjaan-Nya dengan memberikan persepuluhan dan persembahan untuk memperluas kerajaan-Nya.
(lihat art. PERSEPULUHAN DAN PERSEMBAHAN). Berkat-berkat yang menyertai kesetiaan dalam memberi dari uang kita akan dinikmati saat ini dan juga dalam kehidupan di akhirat.

“Beriman dan Berotak.” – Lupa Siapa yang Pernah Bilang

Ya, selain belajar beriman bahwa semuanya bukan bersumber dari materi, tapi beriman kepada Sang Pemilik Kehidupan, aku juga harus berotak, hahaha. Maksudnya, dengan uang bulanan yang sudah terpotong persembahan khusus itu, aku harus hemat. Tapi, percaya atau tidak, pemeliharaan Tuhan itu nyata! Dia bisa pakai siapa saja yang Dia mau, entah orang terdekat seperti keluarga atau bahkan orang lain yang ga terlalu dekat atau bahkan ga pernah terpikirkan Tuhan pakai mereka untuk “memelihara”.

  1. Sabun mandi, pasta gigi di kosan sudah habis. Waktu itu belanja sama Rico, setelah pulang beli kado untuk Egia (pacarnya, cie…wkwk). Sampai di kasir, tak disangka, tak dinyana pemeliharaan Tuhan itu nyata! Rico menolak untuk kukasih uang yang seharusnya kubayarkan atas sabun mandi, pasta gigi dan tissue basah yang aku beli. Alasannya “Ya udah, ga usah, kan elu udah nemeinin beli kado.”
  2. Si Egia udah 2x ngajak main. Yang pertama mendadak banget, aku ga bisa. Sampe akhirnya dia ngajak untuk kedua kalinya. Awalnya mikir sih, duit udah nipis, tapi ya ga enak udah ngajak 2x masa ga dipenuhin. Keinget aja kata-kata bokap “Bikin orang lain seneng juga kan pahala”, hahaha. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Sekali lagi, tak disangka, tak dinyana pemeliharaan Tuhan itu nyata! Malam itu kami makan dan Egia mentraktirku, karena beberapa hari yang lalu dia ulang tahun.
  3. Tetiba nyokap minta dibeliin laser pointer untuk presentasi hasil penataran. Beliau kirim uang “lebih”, lebih ya bukan berlebih, hehe. Jumlahnya sesuai dengan kebutuhan harga laser pointer, tapi ada lebihannya sedikit, yang seenggaknya bisa nopang hidupku menuju akhir bulan, hahaha.

See? Pemeliharaan Tuhan itu nyata! Apa yang harus aku khawatirkan? Do your best and let God do the rest. Kalau tiap-tiap hari aja Tuhan sanggup memelihara, kenapa harus khawatir akan hari esok, yang mana Tuhan sudah lebih dulu ada di sana? Semoga sharingku ini berkah ya 😀 hehe.

“Stop worrying and start living.” – Dale Carnegie

The Greatest Gift is Time

Seluruh kehidupan berkisar kasih.

Belajar mengasihi tanpa mementingkan diri sendiri bukan pekerjaan mudah. Hal ini bertentangan dengan sifat kita yang mementingkan diri sendiri. Itulah sebabnya kita diberi waktu seumur hidup untuk mempelajarinya.

Kasih tidak dapat dipelajari dalam keterasingan. Kita harus berada di sekitar orang-orang, yaitu orang-orang yang menjengkelkan, yang tidak sempurna, dan yang mengecewakan.

Kasih seharusnya jadi prioritas utama, tujuan utama, dan ambisi terbesar kita. Kasih bukanlah bagian yang baik dari kehidupan kita, tetapi kasih merupakan bagian terpenting.

Belajar mengasihi dapat diwujudkan melalui sebuah hubungan. Dan kesibukan adalah musuh terbesar bagi hubungan. Tujuan hidup adalah belajar mengasihi, yaitu mengasihi Allah dan sesama. Kehidupan tanpa kasih sama dengan nihil.

Kasih meninggalkan suatu warisan. Bagaimana kita memperlakukan orang lain, bukan kekayaan atau keberhasilan. Seperti kata Bunda Teresa, “Bukan apa yang Anda kerjakan, melainkan seberapa besar kasih yang Anda curahkan pada pekerjaan itulah yang penting.” Kasih adalah rahasia warisan kekal.

Ketika kehidupan di dunia berakhir, manusia tidak minta dikelilingi oleh benda-benda. Yang kita ingin ada di sekeliling kita adalah orang-orang, yakni orang-orang yang kita kasihi dan yang dengan mereka kita memiliki hubungan.

Pada saat-saat terakhir kita, kita semua menyadari bahwa hubungan sangat penting dalam kehidupan. Bijaksanalah orang yang mempelajari kebenaran tersebut lebih awal dan tidak terlambat. Jangan menunda sampai mendekati ajal baru kita memahami bahwa tidak ada yang lebih penting dari hubungan.

Salah satu cara Allah mengukur kedewasaan rohani adalah dengan kualitas hubungan kita. Allah akan meninjau bagaimana kita memperlakukan orang lain, khususnya orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Waktu merupakan pemberian yang paling berharga. Kita bisa membuat banyak uang, tetapi kita tidak bisa membuat lebih banyak waktu. Ketika kita memberikan seseorang waktu yang kita punya, kita sedang memberi mereka satu bagian dari kehidupan kita yang tidak akan pernah kita dapatkan kembali. Waktu kita adalah kehidupan kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa pemberian terbesar yang bisa kita berikan kepada seseorang adalah waktu kita.

Tidaklah cukup untuk hanya mengatakan hubungan itu penting; kita harus membuktikannya dengan menginvestasikan waktu di dalam hubungan. Karena hubungan membutuhkan waktu dan usaha.

Inti dari kasih bukanlah apa yang kita pikirkan atau kerjakan atau berikan kepada orang lain, melainkan seberapa banyak kita memberikan diri kita sendiri. Pemberian karena kasih yang paling diinginkan bukanlah permata atau bunga mawar atau cokelat, melainkan perhatian yang terfokus. Karena begitu terpusat pada orang lain sehingga kita melupakan diri kita sendiri pada saat tersebut.

Kapanpun kita memberikan waktu kita, sebenarnya kita sedang membuat suatu pengorbanan, dan pengorbanan ialah inti dari kasih. Kita bisa memberi tanpa mengasihi, tetapi kita tidak mungkin mengasihi tanpa memberi. Dan waktu yang terbaik untuk mengasihi adalah sekarang. Karena kita tidak tahu berapa lama kita akan memiliki kesempatan itu.

Kehidupan paling baik dijalani dengan kasih. Kasih paling baik diekspresikan dengan waktu. Waktu terbaik untuk mengasihi ialah sekarang.

“Allah, apapun yang aku kerjakan hari ini, aku ingin memastikan bahwa aku menggunakan waktu untuk mengasihi-Mu dan mengasihi orang lain, karena inilah inti kehidupan. Aku tidak ingin menyia-nyiakan hari ini.”
– Rick Warren

“Jika kau mempunyai kemampuan untuk berbuat baik kepada orang yang memerlukan kebaikanmu, janganlah menolak untuk melakukan hal itu. Janganlah menyuruh sesamamu menunggu sampai besok, kalau pada saat ini juga engkau dapat menolongnya.”
– Amsal 3 : 27-28 (BIS)

 

 

 

Sumber : diadaptasi dari Buku The Purpose Driven Life  – Bab 16 “Hal Yang Paling Penitng”

Bandung : Paris van Java

Bandung

“Dan Bandung, bagiku, bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan” -Pidi Baiq

Kekeluargaan: perasaan diterima apa adanya, perasaan memiliki keluarga baru, perasaan memiliki rumah kedua, perasaan selalu ingin kembali ke Bandung, perasaan enggan untuk meninggalkan Bandung

Perpisahan: Kamu yang pernah meninggalkan,
akhirnya tahu bagaimana rasanya ditinggalkan.

Kehilangan: Mengapa demikian? Di mana salahnya? Waktu!
Benar, aku dan dia tidak berada dalam waktu yang sama ketika menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi dalam hati ini.

Pembentukan: Kamu yang pernah mengajarkanku bagaimana merindukanmu,
tetapi tidak pernah mengajarkanku bagaimana melupakanmu.

Kepenatan: Yang awalnya nampak penuh harapan,
semakin lama, rasanya semakin tak ada tujuan dan kehilangan harapan.

Bersyukur: Meskipun demikian,
Engkau berikan kesempatan untuk selalu bersyukur kepadaMu atas segala sesuatu.